top of page
ARTIKEL DISTRIK UTARA
Analisis, liputan, dan data untuk membaca arah pembangunan


Tentang Tradisi Tenun Sikka
Esai recap podcast bersama Ina Veronika Ginting Ada bunyi ketukan yang, kalau didengar cukup lama, barangkali bisa menjadi semacam bahasa. Ketukannya teratur tetapi tak mekanis; ada jeda, tarikan, perubahan ritme, dan tentu saja keterampilan tangan yang menghasilkan semuanya. Saya teringat bunyi itu ketika berbincang dengan Ina Veronika Ginting tentang tradisi tenun di Kabupaten Sikka, Flores. Dalam Odyssey, Penelope menenun sambil menunggu Odysseus pulang dari perang. Ia men


Ilmuwan Kimia diatas Motor 500 cc
Obrolan Distrik Utara dengan Dr. Granprix T. M. Kadja Esai pengantar podcast Dsitrik Utara oleh Priyo Utomo Laksono. Salah satu ilmuwan kelas dunia (World Top 2% Scientist) adalah seorang ilmuwan kimia yang berasal dari Kupang, NTT, bernama depan GrandPrix. Nama yang terlampau otomotif jika stereotip kita soal ilmuwan kimia identik dengan jas lab putih, tabung reaksi, dan perilaku quirky. Tapi saat Dr. GrandPrix “GP” Thomryes Marth Kadja datang ke studio Distrik Utara, stereo


Berkuliah Bisnis di Pasar Caringin
Oleh Priyo Utomo Laksono. Ada berbagai cara untuk belajar bisnis. Bisa duduk di ruang kuliah, membaca buku teks, membedah studi kasus perusahaan, atau belajar dari laporan keuangan. Ada juga cara yang lebih tua dan barangkali lebih keras: berdiri di pasar, mengamati barang datang dan pergi, mendengar orang menawar, melihat pedagang menghitung risiko, lalu mencoba memahami bagaimana mereka bisa bertahan puluhan tahun, bahkan dua atau tiga generasi. Cara kedua itulah yang sedan


Obrolan Dengan Petani Kopi
Esai Pengantar Podcast Distrik Utara dengan mang Dewa Sore di perkebunan kopi yang rindang, di Desa Genteng, Manglayang Timur, Kabupaten Sumedang, punya cara yang sejuk dan nyaman mengingatkan kita bahwa kopi adalah organ hutan, bukan sekadar minuman. Saya dan Mang Dewa sama-sama memakai sepatu boot karet, berjalan di antara kebun kopi pada ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut, ketika panen raya sedang berlangsung. Tanah yang agak kering, buah kopi merah berg


Bekerja di NGO : antara Mitos dan Prospek
Esai Pengantar Podcast dengan Tides Aghnia Fasza Oleh Priyo Utomo Laksono Ada satu jenis pekerjaan yang di Indonesia kadang masih terdengar seperti pekerjaan sambilan orang idealis. Kerjanya mengurus masyarakat, hutan, perempuan, anak-anak, hak asasi manusia, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan, demokrasi, atau entah persoalan dunia apa lagi yang belum selesai. Gajinya, menurut sebagian orang, mungkin dibayar dengan kepuasan batin. Kalau organisasi tempatnya bekerja mene


Percakapan Dengan Produser Kopi
Esai Pengantar Podcast Distrik Utara dengan Hans Ravanero Dalam percakapan saya dan Jawot, Hans Ravanero bercerita tentang suatu ketika ia melakukan pruning pada pohon kopi yang ia bantu urus di Manglayang Timur, Jawa Barat. Pemilik kebun yang melihatnya kemudian bertanya, kurang lebih, “Memangnya seberapa berpengaruh sih pohon ini dirawat seperti itu?” Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, bahkan cukup masuk akal. Bukankah kopi pada akhirnya adalah buah yang dipetik dari


Membaca Caringin dari Lorong-Lorong Pasar
Barangkali untuk memahami sebuah pasar, kita memang harus datang sebelum matahari terlalu tinggi. Di Pasar Induk Caringin, pagi bukan sekadar waktu dimulainya perdagangan. Ia adalah saat ketika barang datang, harga dibaca, hubungan diperbarui, keputusan dibuat, dan ribuan pengetahuan kecil kembali dipraktikkan. Di sanalah tim Distrik Utara bersama Agus Ekomadyo berkunjung, menemui Haji Mian, pedagang buah, dan Pak Herry, pedagang bawang. Percakapan yang semula hendak mereka


Ketika Liburan Menjadi Pekerjaan
Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Nia Anjelina, dan Badlan Oleh Priyo Utomo Laksono. Ada sebuah pekerjaan yang mungkin terdengar seperti lelucon bagi generasi orang tua kita: pergi ke gunung, naik pesawat, mencari pemandangan bagus, membuat video, mengunggahnya ke internet, lalu dibayar. Dua puluh tahun lalu, penjelasan seperti itu mungkin akan membuat orang bertanya, "Kerja sebenarnya apa?" Hari ini, pertanyaan itu semakin sulit dijawab karena pekerjaan tersebut me


Lambaian Tangan Berusia 67.800 Tahun.
Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Adhi Agus Octaviana Distrik Utara ngobrol dengan peneliti yang sejak beberapa bulan yang lalu wajahnya terkadang muncul di berita nasional dan dunia; Adhi Agus Octaviana, biasa dipanggil Aa. Bahasan kami soal gambar cadas tertua di dunia, ditemukan dan di teliti di Pulau Muna, Indonesia. Karena membahas ‘gambar’ selayaknya saya ditemani host tamu saya yang berlatar belakang Seni Rupa dan Desain.Tapi kalau saya lebih suka mengataka
Tentang Bola, Bangsa dan Musuh Bersama
Esai Seputar Piala Dunia FIFA 2026 Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina di final. Bagi penggemar sepak bola, cerita malam itu mungkin selesai pada statistik penguasaan bola, pergantian pemain, atau gol yang menentukan juara. Namun Piala Dunia tak pernah benar-benar selesai di peluit akhir. Setiap empat tahun sekali, ia berubah menjadi panggung tempat sejarah, politik, identitas, dan ingatan kolektif ikut bermain. Yang ditendang di lapan


Ketika Gunung Menjadi Ramai
Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Anisa Mawar Ningrum Ketika Distrik Utara memutuskan akan mengajak ngobrol pelaku wisata gunung, sulit membayangkan pendaki yang dapat menyalakan suasana lebih cepat dibandingkan Anisa Mawar Ningrum. Ibu muda yang cerah dipandang ini datang ke studio dengan energi yang membuat kantuk jadi mustahil . Ia tertawa mudah, bercerita cepat, dan beberapa kali justru men-challenge saya dan Jawot balik ketika kami berusaha menchallange dia le


Manusia dan Laku Menulis
Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Sony Herdiana, Malik Arrahiem, dan Farenza "Eja" Fadil Ada alasan mengapa saya memilih tak duduk di depan mikrofon malam itu. Malik Arrahiem dan Farenza "Eja" Fadil jauh lebih tepat menjadi tuan rumah percakapan bersama Pak Sony Herdiana. Malik datang sebagai penulis buku geologi dan Franz Junghuhn yang belakangan berhasil menarik minat banyak orang terhadap sejarah bumi. Pak Sony sendiri adalah dosen Perencanaan Wilayah dan Kota IT


Bertahan Adalah Menu Paling Sulit
Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Indri, Keyko, dan Keuken Kali ini Distrik Utara ngobrol dengan pasangan pengusaha kuliner Bandung, Teh Indri dan Kang Keyko. Ini juga menjadi episode pertama siniar kami yang bekerja sama dengan Keuken, festival kuliner yang entah bagaimana sudah mampu bertahan selama lima belas tahun di sebuah kota yang mungkin paling kompetitif urusan makanan di Indonesia. Kali ini kursi host utama diambil oleh salah satu pendiri Keuken, Meizan "I


Mengintip Sejarah Bumi di Balik Aspal Kota dan Tembok Sekolah
Pengantar Podcast Bareng Malik Arrhahiem dan Rumi Sidhharta Oleh Priyo Utomo Jika Anda ingin melihat dua spesies kutu buku yang berevolusi ke arah yang sangat berbeda, cobalah dudukkan Malik Arrahim dan Rumi Sidharta dalam satu meja. Malik memiliki antusiasme yang seolah selalu berlari beberapa langkah lebih cepat daripada penampilannya. Ia tampak seperti orang yang terlalu sibuk memikirkan batuan berumur jutaan tahun untuk sempat memikirkan apakah bajunya serasi. Sebalikny


Api dan Pisau
Esai Podcast Obrolan Dsitrik Utara dengan Gianjar Saribanon Oleh Priyo Utomo "Sebagaimana api yang menyala mengubah kayu menjadi abu, demikian pula api pengetahuan membakar segala kebodohan."— Bhagavad Gita 4:37 Ketika Gianjar Saribanon akhirnya muncul malam itu, markas Distrik Utara sudah hampir tutup. Gelas-gelas kopi kosong, sebagian kru sedang membereskan peralatan, dan beberapa kursi telah digeser ke posisi semula. Jam menuju tengah malam. Tapi seperti banyak petualangan


Belajar dari Manchester Van Java: Bagaimana Majalaya Bergerak
Esai Podcast bersama Zulfa Nasrullah Sepiring roti dan secangkir kopi sudah lebih dulu hadir di meja ketika rekaman podcast Distrik Utara belum juga dimulai. Di salah satu kursi studio, Zulfa Nasrullah menunggu sambil berbincang ringan. Seperti banyak percakapan sebelum mikrofon dinyalakan, obrolan mengalir ke mana-mana: sekolah, sejarah daerah, teater, anak muda, hingga rencana mengaktivasi sebuah taman makam pahlawan baru di Majalaya. Bukan membangun. Mengaktivasi. Pi


Saat Negara Masih Mandala
Rumi Sidharta datang dengan kemeja penuh warna yang membuatnya tampak seperti kombinasi anak pantai, burung tropis, dan seseorang yang kemungkinan besar tahu terlalu banyak soal perang suksesi abad ke-14. Ada tipe orang Bandung tertentu yang tumbuh dengan energi ceria, sedikit nyeleneh, lalu pada titik tertentu hijrah ke Jogja dan menemukan semacam ritme hidup yang lebih cocok dengan jiwanya. Rumi salah satunya. Saat minum kopi sebelum diskusi siniar saya menangkap ia menikma


Sirkumnavigasi Ka’bah dan Apa yang Disembelih di Altar Pasar
Esai Iedul Adha Distrik Utara Oleh Priyo U. Laksono Sembari belakangan saya sibuk mengingat dan menulis kembali perjalanan sirkumnavigasi (mengelilingi) Flores dengan kayak laut, mengatasi arus, melawan arus, menghitung pasang, tapi takbir Idul Adha justru memaksa saya lompat kembali pada sirkumnavigasi yang lebih awal dalam hidup saya: sirkumnavigasi Ka’bah. Ada sesuatu yang aneh ketika mengingat thawaf setelah bertahun-tahun, saat saya berumrah dan bahkan berhaji di t


Tanah Manusia dari Sisilia sampai Majalengka
Esai Pengantar Podcast dengan Domenico Mangano dan Ahmad Sujai Domenico Mangano terlihat kurang tidur saat saya sampai larut malam di Jatiwangi Art Factory. Matanya sembab, tapi tubuhnya masih bergerak dengan energi yang aneh: seperti orang yang terlalu lelah untuk berhenti. Saya sendiri datang dengan tampang yang mungkin tak jauh beda. Bedanya saya lelah karena kebanyakan duduk sambil merokok dan merasa produktif, sementara Domenico baru pulang menjelajah alam sekitar Maja


Semacam Gerilya Untuk Menjaga Kota Tetap Kreatif
Esai pengantar menonton podcast dengan Tita Larasati. Distrik Utara mengundang Tita Larasati untuk ngobrol soal perjalanannya mengelola daya kreatif Bandung. Dan isi obrolannya penting tak hanya untuk orang Bandung. Let me explain. Kita bukan bangsa paling konsisten sedunia. Atau paling disiplin. Mungkin karena kita terlalu terbuka, maka kita jadi terlalu beragam, terlalu amalgam, terlalu komposit, terlalu sintetik untuk bisa bergerak dengan ritme yang seragam. Tapi justru s
bottom of page
