top of page
ARTIKEL DISTRIK UTARA
Analisis, liputan, dan data untuk membaca arah pembangunan


Lambaian Tangan Berusia 67.800 Tahun.
Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Adhi Agus Octaviana Distrik Utara ngobrol dengan peneliti yang sejak beberapa bulan yang lalu wajahnya terkadang muncul di berita nasional dan dunia; Adhi Agus Octaviana, biasa dipanggil Aa. Bahasan kami soal gambar cadas tertua di dunia, ditemukan dan di teliti di Pulau Muna, Indonesia. Karena membahas ‘gambar’ selayaknya saya ditemani host tamu saya yang berlatar belakang Seni Rupa dan Desain.Tapi kalau saya lebih suka mengataka
Tentang Bola, Bangsa dan Musuh Bersama
Esai Seputar Piala Dunia FIFA 2026 Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina di final. Bagi penggemar sepak bola, cerita malam itu mungkin selesai pada statistik penguasaan bola, pergantian pemain, atau gol yang menentukan juara. Namun Piala Dunia tak pernah benar-benar selesai di peluit akhir. Setiap empat tahun sekali, ia berubah menjadi panggung tempat sejarah, politik, identitas, dan ingatan kolektif ikut bermain. Yang ditendang di lapan


Ketika Gunung Menjadi Ramai
Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Anisa Mawar Ningrum Ketika Distrik Utara memutuskan akan mengajak ngobrol pelaku wisata gunung, sulit membayangkan pendaki yang dapat menyalakan suasana lebih cepat dibandingkan Anisa Mawar Ningrum. Ibu muda yang cerah dipandang ini datang ke studio dengan energi yang membuat kantuk jadi mustahil . Ia tertawa mudah, bercerita cepat, dan beberapa kali justru men-challenge saya dan Jawot balik ketika kami berusaha menchallange dia le


Manusia dan Laku Menulis
Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Sony Herdiana, Malik Arrahiem, dan Farenza "Eja" Fadil Ada alasan mengapa saya memilih tak duduk di depan mikrofon malam itu. Malik Arrahiem dan Farenza "Eja" Fadil jauh lebih tepat menjadi tuan rumah percakapan bersama Pak Sony Herdiana. Malik datang sebagai penulis buku geologi dan Franz Junghuhn yang belakangan berhasil menarik minat banyak orang terhadap sejarah bumi. Pak Sony sendiri adalah dosen Perencanaan Wilayah dan Kota IT


Bertahan Adalah Menu Paling Sulit
Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Indri, Keyko, dan Keuken Kali ini Distrik Utara ngobrol dengan pasangan pengusaha kuliner Bandung, Teh Indri dan Kang Keyko. Ini juga menjadi episode pertama siniar kami yang bekerja sama dengan Keuken, festival kuliner yang entah bagaimana sudah mampu bertahan selama lima belas tahun di sebuah kota yang mungkin paling kompetitif urusan makanan di Indonesia. Kali ini kursi host utama diambil oleh salah satu pendiri Keuken, Meizan "I


Mengintip Sejarah Bumi di Balik Aspal Kota dan Tembok Sekolah
Pengantar Podcast Bareng Malik Arrhahiem dan Rumi Sidhharta Oleh Priyo Utomo Jika Anda ingin melihat dua spesies kutu buku yang berevolusi ke arah yang sangat berbeda, cobalah dudukkan Malik Arrahim dan Rumi Sidharta dalam satu meja. Malik memiliki antusiasme yang seolah selalu berlari beberapa langkah lebih cepat daripada penampilannya. Ia tampak seperti orang yang terlalu sibuk memikirkan batuan berumur jutaan tahun untuk sempat memikirkan apakah bajunya serasi. Sebalikny


Api dan Pisau
Esai Podcast Obrolan Dsitrik Utara dengan Gianjar Saribanon Oleh Priyo Utomo "Sebagaimana api yang menyala mengubah kayu menjadi abu, demikian pula api pengetahuan membakar segala kebodohan."— Bhagavad Gita 4:37 Ketika Gianjar Saribanon akhirnya muncul malam itu, markas Distrik Utara sudah hampir tutup. Gelas-gelas kopi kosong, sebagian kru sedang membereskan peralatan, dan beberapa kursi telah digeser ke posisi semula. Jam menuju tengah malam. Tapi seperti banyak petualangan


Belajar dari Manchester Van Java: Bagaimana Majalaya Bergerak
Esai Podcast bersama Zulfa Nasrullah Sepiring roti dan secangkir kopi sudah lebih dulu hadir di meja ketika rekaman podcast Distrik Utara belum juga dimulai. Di salah satu kursi studio, Zulfa Nasrullah menunggu sambil berbincang ringan. Seperti banyak percakapan sebelum mikrofon dinyalakan, obrolan mengalir ke mana-mana: sekolah, sejarah daerah, teater, anak muda, hingga rencana mengaktivasi sebuah taman makam pahlawan baru di Majalaya. Bukan membangun. Mengaktivasi. Pi


Saat Negara Masih Mandala
Rumi Sidharta datang dengan kemeja penuh warna yang membuatnya tampak seperti kombinasi anak pantai, burung tropis, dan seseorang yang kemungkinan besar tahu terlalu banyak soal perang suksesi abad ke-14. Ada tipe orang Bandung tertentu yang tumbuh dengan energi ceria, sedikit nyeleneh, lalu pada titik tertentu hijrah ke Jogja dan menemukan semacam ritme hidup yang lebih cocok dengan jiwanya. Rumi salah satunya. Saat minum kopi sebelum diskusi siniar saya menangkap ia menikma


Sirkumnavigasi Ka’bah dan Apa yang Disembelih di Altar Pasar
Esai Iedul Adha Distrik Utara Oleh Priyo U. Laksono Sembari belakangan saya sibuk mengingat dan menulis kembali perjalanan sirkumnavigasi (mengelilingi) Flores dengan kayak laut, mengatasi arus, melawan arus, menghitung pasang, tapi takbir Idul Adha justru memaksa saya lompat kembali pada sirkumnavigasi yang lebih awal dalam hidup saya: sirkumnavigasi Ka’bah. Ada sesuatu yang aneh ketika mengingat thawaf setelah bertahun-tahun, saat saya berumrah dan bahkan berhaji di t


Tanah Manusia dari Sisilia sampai Majalengka
Esai Pengantar Podcast dengan Domenico Mangano dan Ahmad Sujai Domenico Mangano terlihat kurang tidur saat saya sampai larut malam di Jatiwangi Art Factory. Matanya sembab, tapi tubuhnya masih bergerak dengan energi yang aneh: seperti orang yang terlalu lelah untuk berhenti. Saya sendiri datang dengan tampang yang mungkin tak jauh beda. Bedanya saya lelah karena kebanyakan duduk sambil merokok dan merasa produktif, sementara Domenico baru pulang menjelajah alam sekitar Maja


Semacam Gerilya Untuk Menjaga Kota Tetap Kreatif
Esai pengantar menonton podcast dengan Tita Larasati. Distrik Utara mengundang Tita Larasati untuk ngobrol soal perjalanannya mengelola daya kreatif Bandung. Dan isi obrolannya penting tak hanya untuk orang Bandung. Let me explain. Kita bukan bangsa paling konsisten sedunia. Atau paling disiplin. Mungkin karena kita terlalu terbuka, maka kita jadi terlalu beragam, terlalu amalgam, terlalu komposit, terlalu sintetik untuk bisa bergerak dengan ritme yang seragam. Tapi justru s


Ikatan dengan Tanah yang Bergerak
Diskusi Siniar Distrik Utara dengan Prananda Malasan dan Asih Jawot bertanya pada dua peneliti alias dosen di hadapan kami kurang lebi begini: Museum Mbah Marijan termasuk memikat pengunjung, menghibur, tapi menginformasi juga soal gempa. Lebih efektif, mungkin, daripada museum yang terlu saintifik. Apakah pameran wawasan gempa yang dinamai Ikatan Dengan Tanah Bergerak yang akan diadakan Asih dan Panda memiliki tujuan seperti itu? Panda mengafirmasi. Spiritnya memang menjem


Nama-Nama Yang Mengikat Manusia Pada Bumi
Esai Siniar bersama T.Bachtiar Oleh Penulis Distrik Utara Priyo U. Laksono. Ekspektasi awal kami sebenarnya cukup jelas: membahas relevansi geografi untuk pembangunan daerah dan mitigasi bencana. Tema yang, kalau ditangani dengan pendekatan yang salah, bisa berubah menjadi kuliah yang terlalu serius. Tapi percakapan justru bergerak ke arah yang lebih sederhana—dan pada saat yang sama, lebih mendasar. Kami mulai dari nama. Toponimi. Dan membahas toponimi dengan T.Bachtiar memi


Manusia di Tanah yang Bergerak
Esai Pengantar diskusi Siniar oleh Priyo U. Laksono Penulis Distrik Utara Dengan separuh bercanda—dan mungkin separuh lagi cemas yang tak mau saya akui—saya bertanya pada Mbak Rahma: “Mbak nggak merasa depresi, mengetahui bahwa nasib ribuan nyawa ada di tangan mbak?” Ia tertawa kecil. Bukan tawa yang menepis pertanyaan, tapi tawa seseorang yang sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan kenyataan yang tak sederhana. “Justru itu jadi motivasi,” katanya. “Untuk terus meneliti


Pembangunan Berbasis Lidah; Obrolan Hibrid Antropologi dan Gastronomi
Esai Pengantar Siniar oleh Priyo U. L. Distrik Utara. Spice Wars. Abad ke-16 hingga 17. Jutaan orang hidup dan mati karena pala—Nutmeg—sesuatu yang pada akhirnya hanya berakhir di piring, di minuman hangat, atau di tubuh manusia yang percaya ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri. Sebuah biji kecil yang dipercaya bisa menangkal Black Death, meski tak pernah benar-benar terbukti. Tapi keyakinan, seperti yang sering terjadi dalam sejarah, lebih kuat dari fakta. Ia menggerakkan


Kepekaan Sosial dan Estetika Berawal di Terminal Ledeng yang masih Eden
Esai pengantar Podcast dengan Tisna Sanjaya Oleh Priyo U. L. Sulit move on dari cara Tisna Sanjaya menceritakan masa kecilnya. Di awal rekaman podcast Distrik Utara—sebelum kami masuk ke Jeprut, sebelum Jawot mulai menelusuri praktik seni dan kritik sosialnya, sebelum saya sendiri sempat menyinggung Orde Baru dan bayangannya hari ini—Pak Tisna justru membawa kami ke Ledeng. Bukan Ledeng sebagai terminal di Kota Bandung yang kita kenal sekarang, tetapi Ledeng sebagai sesuatu y


Festival Kuliner yang Bandung Bangeet
Pengantar Podcast bersama Meizan “Ican” Natadiningrat Pada suatu malam setelah buka puasa ketika gula dari es campur, gorengan, dan mungkin kopi manis yang sedikit terlalu optimistis mulai bekerja diam-diam di aliran darah—kami bertiga duduk mengelilingi meja rekaman dengan niat awal yang sebenarnya cukup terhormat, yaitu membicarakan festival kuliner, pembangunan daerah, dan identitas kota, tetapi seperti banyak percakapan yang dimulai dengan niat baik dan kadar gula yang ag


Pantura, Islam dan Strange Pilgrims
Pada akhirnya, mungkin inilah hal paling menarik tentang Islam di Jawa: ia datang sebagai agama yang mengatur, tetapi jarang datang sebagai agama yang memaksa; ia membawa hukum, tetapi juga membawa kelenturan untuk menghadapi kenyataan hidup manusia; ia menawarkan kosmologi baru, tetapi tak serta-merta menghapus kosmologi lama. Sejarah Islam di Nusantara, jika dilihat dari dekat, bukanlah cerita tentang penaklukan yang mengganti dunia lama dengan dunia baru dalam satu gerakan


Petualangan Geografi ala Junghuhn
Bentang Alam, Ingatan Bumi, dan Percakapan yang Mengajak Kita Membaca TanahEsai Pengantar Podcast Bersama Malik Arr Rahiem Oleh Priyo Utomo Laksono “ Was ist das Schwerste von allem? Was dir das Leichteste dünket:Mit den Augen zu sehn, was vor den Augen dir liegt. ”— Johann Wolfgang von Goethe, dalam Xenien Apa yang paling sulit dari semuanya?Apa yang tampak paling mudah:melihat dengan mata kita sendiriapa yang sebenarnya sudah berada tepat di depan mata. Ada sesuatu yang ter
bottom of page