top of page
ARTIKEL DISTRIK UTARA
Analisis, liputan, dan data untuk membaca arah pembangunan


Catatan Dari Pabrik Seni
Foto di pabrik seni genteng, Jatiwangi, Majalengka Esai pengantar kunjungan lapangan Siang itu Majalengka terasa seperti jeda panjang. Panas dan lembab, bukan jenis panas yang heroik, melainkan panas yang membuat keringat mengendap di lipatan punggung dan pikiran berjalan sedikit lebih lambat. Jalanan kabupaten mulus—terlalu mulus— sibuk standar kabupaten dan tanpa angkutan publik. Sebuah kota yang fungsional tapi renggang, seperti kalimat yang benar secara tata bahasa namun


REBANA: Tentang Pusat, Pinggiran, dan Siapa yang Memiliki Perubahan
REBANA—begitulah ia disebut. Sebuah nama yang terdengar ringan, hampir seperti bunyi alat musik, padahal ia memikul beban yang berat: harapan tentang masa depan pembangunan Jawa Barat, bahkan mungkin Indonesia. REBANA adalah singkatan administratif, tentu saja, yang jujur saja terdengar dipaksakan tapi mudah diingat. Ia merujuk pada gugus wilayah di utara dan timur laut Jawa Barat: Cirebon, Majalengka, Indramayu, Subang, Sumedang, Kuningan, dan Kota Cirebon. Dalam bahasa kebi


Dialektika Abadi Pusat dan Daerah
Diskusi Indra Hidayat (pengusaha, konsultan, lulusan Teknik Mesin ITB), Arif Yudi (seniman, pendiri Jatiwangi Art Factory), dan Wilmar A. Salim, S.T., M.Reg.Dev., Ph.D. (dosen ITB) di Video Podcast Distrik Utara Presiden Snow sudah tua. Dalam The Hunger Games , tubuhnya rapuh, napasnya pendek, tangannya sering bergetar. Tapi kekuasaan justru semakin terkonsentrasi. Ia tidak berteriak. Ia tidak perlu. Segalanya berjalan karena sistem sudah mapan—karena distrik-distrik telah la


Catatan dari Tanah Basah
Dokumentasi acara Rampak Genteng di Dusun Bambu Catatan dari Pameran Material Connex: Jatiwangi Art Factory di Dusun Bambu Hujan turun deras hari itu. Bukan hujan yang romantis dan sopan, tapi hujan Bandung yang jatuh seperti sedang menguji kesabaran: rapat, dingin, dan tak memberi jeda. Hujan jenis yang belakangan ini semakin sering kita jumpai—hujan ekstrem, hujan yang datang terlalu cepat, terlalu lama, atau terlalu banyak. Dusun Bambu basah dari ujung ke ujung—tanah licin


Asketisme Kuliner dalam Budaya Sunda Klasik
Foto peluncuran buku Tutungkusan Ada satu kesunyian tertentu yang hanya bisa muncul setelah bunyi-bunyian yang keras. Di pendopo Temu Roti, Cigadung, kesunyian itu datang setelah anak-anak SD dari kelompok Cempaka Muda mendemonstrasikan Seni Reak Kombinasi: suara kendang yang menghentak, topeng, tubuh-tubuh kecil yang menari dengan kesungguhan yang nyaris terlalu dewasa untuk usia mereka. Lalu disusul wayang golek—yang, harus saya akui dengan dosa kultural yang sama besarnya,


Bencana, Bahasa, dan Jarak yang Tidak Pernah Masuk Peta
Foto pasca bencana di Sumatera Setiap kali bencana datang, kita seperti sedang menonton film yang pernah kita tonton, tapi tetap berharap ending-nya berubah. Air naik, rumah terendam, kamera televisi mencari sudut paling dramatis, lalu kita semua—termasuk saya—ikut mengangguk serius di depan layar. Kita teringat satu adegan dalam film Parasite. Hujan deras yang bagi keluarga kaya hanyalah gangguan kecil—alasan untuk mengeluh soal bau lembap—adalah kiamat kecil bagi keluarga
bottom of page