top of page
Suara Distrik
Dari Distrik untuk Republik
Petualangan Geografi ala Junghuhn
Dalam episode ini, Distrik Utara mengajak kita menelusuri kembali cara membaca lanskap melalui kisah dan pemikiran Franz Wilhelm Junghuhn, ilmuwan abad ke-19 yang menjelajahi gunung-gunung Jawa untuk memahami hubungan antara ketinggian, iklim, vegetasi, dan kehidupan manusia.
Bersama Muhammad Malik Ar-Rahiem, percakapan bergerak dari sejarah geografi menuju realitas yang sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini: fakta bahwa Bandung berdiri di atas bekas Danau Bandung purba, sebuah cekungan geologi yang terbentuk dari letusan gunung api masa lalu. Dari sana, diskusi berkembang tentang bagaimana bentang alam membentuk kota, bagaimana cerita rakyat seperti legenda Sangkuriang mungkin menyimpan jejak ingatan geologi, serta bagaimana pengetahuan tentang bumi sering kali terlupakan dalam proses pembangunan modern.
Episode ini mengajak kita melihat kembali sesuatu yang sebenarnya selalu berada di depan mata: bahwa tanah, gunung, air, dan lanskap bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia, melainkan sistem yang membentuknya.
Sebuah percakapan tentang geografi, sejarah lanskap, dan pentingnya belajar kembali membaca bumi sebelum kita mencoba mengubahnya.
Muhammad Malik Ar-Rahiem
Lalap, Dunia, dan Pagi yang Tidak Sepenuhnya Tenang
Podcast ini berlangsung pada Minggu pagi di bulan puasa. Cahaya masih lembut, udara belum panas, dan kota seperti menahan napas lebih lama dari biasanya. Ada kualitas tertentu pada pagi Ramadan: ritmenya melambat, percakapan terasa lebih jernih, dan orang cenderung berbicara dengan jarak yang lebih sadar terhadap dirinya sendiri.
Beberapa jam sebelumnya, dunia dikejutkan oleh berita bahwa Iran diserang oleh Amerika Serikat dan Israel. Linimasa media sosial penuh dengan analisis, kecemasan, dan spekulasi tentang eskalasi. Namun selama rekaman podcast berlangsung, peristiwa itu tidak menjadi tema utama. Kami tidak membedah geopolitik. Kami tidak berspekulasi tentang arah konflik.
Kami berbicara tentang lalap.
Baru setelah tombol rekam dimatikan, percakapan tentang situasi global itu muncul. Dan justru di situlah terasa bahwa pembicaraan tentang gastronomi Sunda pagi itu memiliki resonansi yang lebih luas dari sekadar kuliner.
Dr. Riadi Darwis
Pariwisata, Fotografi dan Kelakar Lainnya.
Kita sering pikir pariwisata dimulai dari tiket pesawat dan itinerary. Padahal ia dimulai dari sesuatu yang lebih sunyi: kamera.
Sejak zaman Hindia Belanda, daerah di Indonesia sudah lebih dulu “difoto” sebelum benar-benar “dipahami.” Kamera bukan cuma alat dokumentasi—ia alat penentuan makna. Ia memutuskan mana yang layak dilihat, dan mana yang cukup jadi latar.
Podcast ini—yang berlangsung dengan satu dosen pariwisata yang rapi, satu videografer berpenampilan seperti habis makan di warteg, dan satu saya yang berpakaian seperti murid Hogwarts gagal fokus—akhirnya menyentuh satu hal penting:
Bahwa pariwisata bukan cuma soal keindahan. Tapi soal siapa yang memegang lensa.
Dan mungkin, menjadi bangsa merdeka bukan hanya soal menguasai wilayah. Tapi juga belajar melihat diri sendiri tanpa menunggu difoto dulu.
Fitra Sujawoto
Obrolan Seni di Bawah Topi Ember
Asmudjo memetakan tingkatan pengertian seni rupa dalam kehidupan modern. Ada seni fungsional—yang hadir dalam desain, arsitektur, kriya, tata ruang, benda pakai. Seni yang kita sentuh tanpa harus menyadarinya sebagai seni. Seni yang membentuk kualitas hidup sehari-hari tanpa meminta pengakuan.
Asmudjo Jono Irianto
Menjaga Bangsa Agar Tetap Out of the Box
Perempuan, Energi, dan Banyak Kehidupan Sekaligus
Bu Dessy Ruhati—atau Ummi, begitu ia akrab dipanggil—adalah tipe manusia yang jika energi bisa dipanen, barangkali bisa menerangi satu kecamatan.
Ia adalah Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif.Ia dosen pariwisata.Ia lama bekerja di dunia kepariwisataan.Ia mantan aktivis kampus.Ia istri seorang prajurit tinggi TNI.Ia—dan ini penting—sangat supel, riang, dan nyaris mustahil kehabisan senyum.
Dalam politik representasi, sosok seperti Ummi sering kali sulit dicerna oleh kategori tunggal. Ia tidak pas jika hanya disebut “birokrat”. Tidak cukup jika hanya disebut “akademisi”. Tidak lengkap jika hanya dipahami sebagai “istri jenderal”. Ia adalah perjumpaan banyak dunia yang biasanya berjalan paralel, tapi jarang benar-benar berdialog.
Dan mungkin di situlah letak relevansinya bagi ekonomi kreatif.
Dessy Ruhati
REBANA: Tentang Pusat, Pinggiran, dan Siapa yang Memiliki Perubahan
REBANA—begitulah ia disebut. Sebuah nama yang terdengar ringan, hampir seperti bunyi alat musik, padahal ia memikul beban yang berat: harapan tentang masa depan pembangunan Jawa Barat, bahkan mungkin Indonesia.
Drs. Budhiana Kartawijaya, M.MKMT
Dialektika Abadi Pusat dan Daerah
Presiden Snow sudah tua.
Dalam The Hunger Games, tubuhnya rapuh, napasnya pendek, tangannya sering bergetar. Tapi kekuasaan justru semakin terkonsentrasi. Ia tidak berteriak. Ia tidak perlu. Segalanya berjalan karena sistem sudah mapan—karena distrik-distrik telah lama belajar patuh. Ketimpangan tidak lagi dipaksakan setiap hari; ia cukup dirawat, dipelihara, diwariskan.
Wilmar A. Salim, S.T., M.Reg.Dev., Ph.D.
Bencana, Bahasa, dan Jarak yang Tidak Pernah Masuk Peta
Setiap kali bencana datang, kita seperti sedang menonton film yang pernah kita tonton, tapi tetap berharap ending-nya berubah. Air naik, rumah terendam, kamera televisi mencari sudut paling dramatis, lalu kita semua—termasuk saya—ikut mengangguk serius di depan layar.
Prasanti Widyasih Sarli, S.T., M.T., Ph.D.
bottom of page










