top of page
logo-putih.png

Tentang Bola, Bangsa dan Musuh Bersama

  • 6 days ago
  • 4 min read

Esai Seputar Piala Dunia FIFA 2026

Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina di final. Bagi penggemar sepak bola, cerita malam itu mungkin selesai pada statistik penguasaan bola, pergantian pemain, atau gol yang menentukan juara. Namun Piala Dunia tak pernah benar-benar selesai di peluit akhir. Setiap empat tahun sekali, ia berubah menjadi panggung tempat sejarah, politik, identitas, dan ingatan kolektif ikut bermain. Yang ditendang di lapangan bukan hanya bola, melainkan juga gagasan tentang apa yang disebut bangsa.

Di situlah Piala Dunia menjadi menarik bahkan bagi orang yang nyaris tak mengikuti sepak bola.

Distrik Utara memilih melihat final kemarin bukan dari sudut taktik atau strategi, melainkan dari satu pertanyaan yang jauh lebih tua daripada FIFA sendiri. Bagaimana sebuah negara dapat berdiri tegak ketika daerah-daerah di dalamnya terus berdialektika dengan pusat? Mengapa wilayah yang paling keras mempertahankan identitasnya justru berkali-kali menjadi sumber kekuatan negara yang sama?

Pertanyaan itu membawa kita ke Catalonia.

Banyak orang mengenal Catalonia melalui Barcelona, Lionel Messi, atau stadion Camp Nou. Kutu buku mengenalnya lewat Homage to Catalonia, buku karya George Orwell yang terbit pada 1938. Orwell datang ke Spanyol bukan untuk menonton sepak bola, melainkan bergabung dengan milisi republik dalam Perang Saudara Spanyol. Ia berharap menemukan garis pemisah yang jelas antara kawan dan lawan. Yang ia temukan malah jauh lebih rumit. Di balik tujuan bersama melawan fasisme, kelompok-kelompok yang berada di kubu republik saling mencurigai, berdebat, bahkan bertempur satu sama lain. Orwell menyadari bahwa bangsa bukanlah bangunan yang selesai didirikan. Ia adalah perundingan tanpa akhir mengenai identitas, kepentingan, dan siapa yang berhak berbicara atas nama tanah air.

Pelajaran Orwell terasa hidup kembali ketika Spanyol menjadi juara dunia.

Skuad Spanyol kali ini kembali dihuni banyak pemain Barcelona. Delapan pemain klub tersebut masuk dalam skuad juara dunia dan beberapa di antaranya menjadi wajah generasi baru La Roja. Fakta ini bukan sekadar catatan statistik. Ia menunjukkan bahwa filsafat sepak bola yang dibangun La Masia masih menjadi fondasi permainan Spanyol. Dunia menyebutnya sepak bola Spanyol. Namun denyutnya banyak dibentuk di Catalonia.

Di sinilah ironi sejarah mulai bekerja.

Catalonia memiliki bahasa sendiri, tradisi sendiri, parlemen sendiri, dan gerakan politik yang selama puluhan tahun mempertanyakan relasinya dengan Madrid. Pada masa kediktatoran Francisco Franco, bahasa Catalan dilarang digunakan di banyak ruang publik, simbol-simbol daerah ditekan, dan identitas lokal dipandang sebagai ancaman terhadap persatuan negara. Dalam situasi seperti itu, FC Barcelona berkembang menjadi ruang ekspresi budaya. Slogan Més que un club lahir karena klub tersebut memang memikul fungsi yang jauh melampaui olahraga.

Namun hubungan pusat dan daerah hampir tak pernah sesederhana kisah tentang penindasan.

Sejarah memperlihatkan bahwa negara sering kali membutuhkan daerah yang paling berbeda untuk menjadi kuat. Sebaliknya, daerah yang keras mempertahankan identitasnya juga kerap menemukan panggung terbesar ketika berdiri bersama negara menghadapi dunia luar. Ketegangan itu tak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berganti bentuk.

Mungkin karena itu, analogi yang lebih dekat bukanlah Barcelona melawan Madrid, melainkan kisah yang ditulis Homer hampir tiga ribu tahun silam.

Dalam Iliad, pasukan Yunani dipenuhi raja-raja yang saling bersaing, saling menghina, dan bahkan nyaris saling membunuh. Agamemnon dan Achilles menjadi lambang pertikaian tersebut. Namun yang membuat mereka tetap berada dalam satu perkemahan bukanlah rasa saling mencintai. Yang menyatukan mereka adalah Troya.

Musuh bersama.

Sepanjang sejarah, gagasan itu berulang berkali-kali. Kota-kota Yunani yang gemar berperang satu sama lain dapat berdiri dalam satu barisan ketika Persia datang. Kerajaan-kerajaan di Semenanjung Iberia perlahan membangun identitas bersama selama berabad-abad menghadapi musuh eksternal dalam Reconquista. Banyak negara modern menemukan rasa kebangsaannya ketika berhadapan dengan ancaman dari luar.

Musuh eksternal memiliki kemampuan aneh. Ia membuat perbedaan di dalam rumah tampak lebih kecil daripada ancaman yang datang dari luar pagar.

Namun sejarah juga mengajarkan sisi lain yang jauh lebih gelap.

Apa yang dapat mempersatukan, dapat pula dijadikan alat menguasai.

Francisco Franco memahami logika itu dengan sangat baik. Demi menjaga persatuan Spanyol, rezimnya terus memproduksi narasi tentang ancaman terhadap negara. Bahasa, budaya, dan identitas lokal dipandang sebagai benih perpecahan yang harus dikendalikan. Musuh bersama tak lagi berada di luar perbatasan, melainkan diciptakan di dalam negeri. Ketika sebuah pemerintahan berhasil meyakinkan rakyat bahwa ancaman selalu mengintai, ruang untuk berbeda perlahan menyempit. Persatuan berubah menjadi keseragaman, dan keseragaman sering kali menjadi pintu masuk bagi otoritarianisme.

Paradoks itulah yang membuat hubungan Spanyol dan Catalonia begitu menarik. Mereka terus berdebat tentang batas-batas identitas, tetapi ketika Piala Dunia datang, anak-anak yang dibesarkan di Barcelona mengenakan seragam yang sama dengan pemain dari Madrid, Bilbao, atau Sevilla. Perbedaan itu tak menghilang. Ia hanya menemukan konteks baru.

Barangkali di situlah letak kekuatan sebuah bangsa.

Bukan pada kemampuannya menghapus keragaman, melainkan pada kemampuannya mengelola ketegangan tanpa harus menghancurkannya. Bangsa bukan paduan suara yang seluruh anggotanya menyanyikan nada yang sama. Ia lebih menyerupai orkestra yang dipenuhi instrumen berbeda. Harmoni lahir bukan karena semua bunyinya seragam, tetapi karena perbedaan itu menemukan iramanya.

Final Piala Dunia 2026 juga memperlihatkan bagaimana olahraga kini nyaris mustahil dipisahkan dari politik. Di media sosial, pertandingan yang sama dibaca melalui lensa yang berbeda-beda. Ada yang melihatnya sebagai pertarungan taktik. Ada yang menghubungkannya dengan nasionalisme. Ada pula yang menyeretnya ke dalam percakapan tentang Palestina, Israel, Eropa, Amerika Latin, bahkan Donald Trump. Sebagian tokoh politik Israel secara terbuka menyatakan dukungan kepada Argentina, sementara pemerintah Spanyol dalam beberapa tahun terakhir mengambil posisi yang jauh lebih vokal dalam mendukung pengakuan negara Palestina dan mengkritik operasi militer Israel. Tak mengherankan bila sebagian orang ikut merayakan atau meratapi hasil pertandingan karena alasan yang sama sekali tak berkaitan dengan sepak bola.

Mungkin itu terdengar ganjil.

Namun manusia memang jarang memandang dunia dengan mata yang benar-benar kosong. Kita membawa sejarah, keyakinan, luka, dan keberpihakan ke mana pun pergi. Stadion sepak bola hanyalah salah satu tempat semua beban itu diproyeksikan.

Maka Piala Dunia kemarin bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi. Ia mengingatkan bahwa sebuah bangsa sering lahir dari tarik-menarik yang tak pernah selesai antara pusat dan daerah, antara identitas lokal dan identitas nasional. Yang menyatukan mereka kadang bukan kesamaan, melainkan hadirnya pihak lain di luar pagar. Ironisnya, logika yang sama juga dapat dipakai untuk membungkam perbedaan jika jatuh ke tangan penguasa yang keliru.

Barangkali itulah yang sesungguhnya ditendang selain bola. Bukan hanya ambisi menjadi juara dunia, tetapi juga pertanyaan yang telah menghantui manusia sejak Homer, Orwell, hingga hari ini. Berapa banyak perbedaan yang sanggup dipelihara sebuah bangsa sebelum ia kehilangan dirinya sendiri, dan berapa banyak persatuan yang boleh dipaksakan sebelum ia berhenti menjadi bangsa yang bebas?

 

 
 
 

Comments


bottom of page