top of page
logo-putih.png

Ketika Gunung Menjadi Ramai

Jul 24
5 min read

Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Anisa Mawar Ningrum 



Ketika Distrik Utara memutuskan akan mengajak ngobrol pelaku wisata gunung, sulit membayangkan pendaki yang dapat menyalakan suasana lebih cepat dibandingkan Anisa Mawar Ningrum.

Ibu muda yang cerah dipandang ini datang ke studio dengan energi yang membuat kantuk jadi mustahil . Ia tertawa mudah, bercerita cepat, dan beberapa kali justru men-challenge saya dan Jawot balik ketika kami berusaha menchallange dia lebih dulu. Kalau tak tahu latar belakangnya, orang mungkin akan mengira ia seorang lifestyle influencer yang sesekali naik gunung demi konten. Padahal urutannya justru berkebalikan. Gunung lebih dulu membentuk dirinya, jauh sebelum algoritma media sosial menemukan namanya. Konten hanyalah medium. Gunung adalah rumah yang lebih dulu ia kenal.

Distrik Utara memang selalu tertarik mengundang orang-orang yang kebetulan sedang berdiri di tengah perubahan besar. Sebab mereka sering kali tak sadar sedang menjadi saksi sejarah. Anisa adalah salah satunya. Bersama suaminya yang aktif di Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia sekaligus organisasi legendaris Wanadri, ia melihat langsung bagaimana lanskap pendakian Indonesia berubah hanya dalam waktu belasan tahun. Dulu gunung adalah ruang yang relatif eksklusif. Penghuninya mahasiswa pecinta alam, komunitas-komunitas tua yang hafal nama vegetasi, membaca cuaca hanya dari bentuk awan, dan mengenali arah mata angin tanpa membuka kompas. Hari ini gunung menjadi ruang yang jauh lebih demokratis. Siapa saja bisa datang. Pelajar, keluarga muda, pekerja kantoran yang sedang burnout, pembuat konten, rombongan open trip, sampai orang yang baru membeli sepatu hiking seminggu sebelumnya.

Banyak orang menunjuk film 5 cm sebagai titik balik. Saya kira anggapan itu tak sepenuhnya keliru. Film tersebut mungkin bukan penyebab tunggal, tetapi berhasil mengubah imajinasi publik mengenai gunung. Mendaki tak lagi dipandang sebagai kegiatan ekstrem yang hanya dilakukan orang-orang berambut gondrong dengan carrier raksasa dan tampang kurang tidur. Gunung berubah menjadi pengalaman hidup yang layak dicoba siapa saja. Setelah itu media sosial mengambil alih estafet. Matahari terbit, lautan awan, jalur Edelweiss, kopi yang diseduh di atas nesting, hammock yang tergantung di antara pinus, semua menjadi komoditas visual yang terus diproduksi dan dikonsumsi. Pandemi Covid kemudian mempercepat seluruh proses itu. Ketika dunia dibuka kembali, orang seperti melakukan balas dendam terhadap ruang tertutup. Mereka ingin keluar rumah, berjalan jauh, menghirup udara yang tak melewati pendingin ruangan, dan mungkin diam-diam ingin memastikan bahwa dunia nyata ternyata masih ada.

Fenomena itu ternyata bukan hanya milik Indonesia. Organisasi Pariwisata Dunia PBB mencatat wisata berbasis alam dan adventure tourism sebagai salah satu sektor yang pulih paling cepat setelah pandemi. Laporan Allied Market Research memperkirakan nilai industri wisata petualangan global telah melampaui USD 400 miliar dan diproyeksikan tumbuh menjadi lebih dari USD 1 triliun sebelum pertengahan dekade berikutnya. Di Indonesia sendiri, Badan Pusat Statistik mencatat 1,02 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2024, angka tertinggi sejak sebelum pandemi. Sebagian besar pertumbuhan itu ditopang oleh wisata alam, taman nasional, kawasan pegunungan, pantai, dan aktivitas luar ruang. Bahkan Kementerian Pariwisata dalam beberapa tahun terakhir terus menjadikan nature based tourism sebagai salah satu prioritas pengembangan karena dianggap memiliki efek berganda yang tinggi terhadap ekonomi lokal.

Sebagai orang yang hidup dari industri wisata petualangan bahari, saya tak terlalu terkejut membaca angka-angka itu. Saya melihatnya sendiri. Yang penuh bukan hanya gunung. Laut juga. Raja Ampat, Labuan Bajo, Banda, Derawan, Alor, semua mengalami gelombang minat yang sama. Peralatan outdoor meledak penjualannya. Merek-merek lokal bermunculan dengan kualitas yang semakin kompetitif. Rental carrier, sleeping bag, trekking pole, tenda, kompor portable, dry bag, sampai jasa open trip tumbuh hampir di setiap kota besar. Nilai pasar perlengkapan outdoor Indonesia ikut terdongkrak oleh generasi baru yang menjadikan kegiatan luar ruang sebagai bagian dari gaya hidup. Yang sedang berkembang sesungguhnya bukan sekadar industri outdoor. Yang sedang berkembang adalah cara generasi muda menghabiskan waktu luangnya, atau mungkin lebih tepat lagi, cara mereka mencari makna.

Sebab menariknya, manusia modern justru rela membayar mahal untuk mengalami sesuatu yang sebenarnya melelahkan. Mereka rela bangun pukul satu dini hari, berjalan belasan kilometer sambil memikul beban, tidur dalam udara dingin, mandi seadanya, lalu pulang dengan wajah yang justru terlihat lebih segar dibanding ketika berangkat. Secara ekonomi perilaku ini mungkin terdengar aneh. Tetapi secara psikologis ia masuk akal. Di dunia yang semakin dipenuhi layar, notifikasi, rapat daring, dan pekerjaan yang tak pernah benar-benar selesai, alam menawarkan sesuatu yang mulai langka, yaitu pengalaman yang nyata. Batu tetap batu. Lereng tetap curam. Hujan tak peduli jabatan kita. Gunung memaksa manusia kembali bernegosiasi dengan realitas, bukan dengan algoritma.

Barangkali karena itulah filsuf Amerika Henry David Thoreau pernah menulis, "We need the tonic of wildness." Kita membutuhkan kesegaran yang datang dari alam liar. Kalimat itu ditulis lebih dari satu setengah abad lalu, tetapi terasa semakin relevan hari ini. Gunung tak pernah benar-benar menjual pemandangan. Yang ia jual adalah perspektif. Ia membuat masalah kantor terlihat kecil. Ia mengembalikan proporsi ego manusia. Dari puncak, kita diingatkan bahwa kota tempat kita berebut gengsi ternyata hanya kumpulan atap kecil di kejauhan.

Namun seperti hampir semua hal yang menjadi populer, selalu ada harga yang harus dibayar. Di sinilah percakapan kami bersama Anisa mulai menjadi menarik. Ia sama sekali bukan tipe konten kreator yang hanya sibuk mengejar lokasi viral berikutnya. Justru sebaliknya. Ia cukup sadar bahwa setiap unggahan yang berhasil menjangkau ratusan ribu orang secara tak langsung juga mengundang ratusan bahkan ribuan pasang kaki menuju tempat yang sama. Di situlah optimisme harus berjalan berdampingan dengan kehati-hatian. Ledakan wisata gunung tentu membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, mulai dari porter, pengelola homestay, warung, jasa transportasi, hingga penyewaan alat. Yang mana Anisa dan suaminya juga menjadi pengusaha trip provider. Tetapi ia juga membawa tekanan yang belum tentu siap ditanggung oleh ekosistem gunung yang rapuh. Sampah meningkat, jalur mengalami erosi lebih cepat, sumber air tertekan, dan kecelakaan pendakian ikut bertambah seiring banyaknya pendaki baru yang berangkat hanya berbekal keberanian dan sinyal internet.

Jawot beberapa kali mengarahkan percakapan ke wilayah yang memang menjadi kepakarannya sebagai dosen pariwisata. Saya lupa apa saja tapi kalau tidak salah termasuk ini: ukuran keberhasilan wisata bukanlah seberapa penuh sebuah destinasi, melainkan seberapa lama destinasi itu mampu tetap hidup. Dalam literatur pariwisata dikenal istilah carrying capacity, yaitu batas kemampuan sebuah kawasan menerima kunjungan tanpa kehilangan kualitas ekologis maupun sosialnya. Gunung, seperti laut, memiliki kapasitas itu. Ia bisa menerima manusia, tetapi tak bisa menerima manusia tanpa batas.

Anisa menjawab kegelisahan itu dengan cukup jernih. Menurutnya, tantangan terbesar sekarang bukan lagi mengajak orang mencintai gunung. Orang sudah datang dengan sendirinya. Tantangan berikutnya adalah mengajarkan bagaimana mencintai gunung dengan benar. Bagaimana membawa pulang sampah sendiri, menghormati jalur, memahami cuaca, mengutamakan keselamatan dibanding ego mencapai puncak, dan menyadari bahwa foto matahari terbit tak pernah sepadan dengan nyawa yang dipertaruhkan secara sembrono. Saya menyukai nada bicaranya yang optimistis tetapi tak naif. Sebab orang yang benar-benar mencintai alam biasanya tahu bahwa alam tak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan alam.

Malam itu kami banyak tertawa. Anisa memiliki energi yang menular. Jawot melempar humor seperti biasa. Saya sesekali menyelipkan cerita dari laut untuk menunjukkan bahwa gunung dan samudra sesungguhnya menghadapi persoalan yang sama. Keduanya sedang menjadi semakin populer. Keduanya memberi harapan ekonomi bagi banyak orang. Dan keduanya sama-sama mengajarkan bahwa keberhasilan wisata bukan diukur dari ramainya pengunjung hari ini, melainkan dari kemungkinan anak-anak kita masih bisa menikmati tempat yang sama tiga puluh tahun dari sekarang.

Mungkin pada akhirnya itulah pelajaran terbesar dari ledakan wisata alam yang sedang kita saksikan. Gunung memang sedang ramai. Dan itu kabar baik. Tetapi jauh lebih penting daripada membuat orang datang adalah memastikan mereka pulang dengan rasa hormat yang lebih besar daripada ketika mereka tiba. Karena kalau wisata alam hanya berhasil menjual pemandangan tanpa berhasil membentuk karakter, kita sesungguhnya hanya sedang memindahkan keramaian kota ke tempat yang sebelumnya sunyi. Dan itu akan menjadi ironi terbesar dari kebangkitan industri outdoor Indonesia.

 

 
 
 

Comments


bottom of page