top of page
logo-putih.png

Manusia dan Laku Menulis

  • Jul 15
  • 5 min read

Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Sony Herdiana, Malik Arrahiem, dan Farenza "Eja" Fadil



Ada alasan mengapa saya memilih tak duduk di depan mikrofon malam itu. Malik Arrahiem dan Farenza "Eja" Fadil jauh lebih tepat menjadi tuan rumah percakapan bersama Pak Sony Herdiana. Malik datang sebagai penulis buku geologi dan Franz Junghuhn yang belakangan berhasil menarik minat banyak orang terhadap sejarah bumi. Pak Sony sendiri adalah dosen Perencanaan Wilayah dan Kota ITENAS yang diam-diam telah menjalani kehidupan lain sebagai penulis novel dan cerpen sejak awal tahun 2000-an. Sementara Eja, seperti biasa, menjadi penyeimbang percakapan dengan rasa ingin tahu yang tenang. Saya memilih duduk di balik layar, mengamati. Kadang posisi itu justru lebih menyenangkan. Tak perlu terlihat pintar, cukup mendengarkan orang-orang yang benar-benar punya sesuatu untuk dibagikan.

Obrolan malam itu hampir tak pernah benar-benar membahas geologi ataupun tata kota. Topiknya justru sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada keduanya. Menulis. Mengapa seseorang masih mau duduk berjam-jam menatap halaman kosong, mengutak-atik kalimat yang mungkin hanya akan dibaca beberapa ribu orang, lalu mengulanginya lagi bertahun-tahun kemudian. Di zaman ketika perhatian manusia diperebutkan video berdurasi lima belas detik, mengapa masih ada orang yang memilih menulis buku?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat ganjil jika kita lihat dari sudut pandang ekonomi. Menulis buku hampir tak pernah menjadi jalan tercepat menuju kekayaan. Industri penerbitan Indonesia sendiri bukan industri dengan margin yang mewah. Menurut data Ikatan Penerbit Indonesia, jumlah judul buku yang terbit memang terus meningkat dalam dua dekade terakhir, tetapi tingkat literasi baca masyarakat masih menghadapi tantangan besar. Sebagian besar buku terjual dalam jumlah yang relatif kecil. Bestseller memang ada, tetapi ia lebih merupakan pengecualian daripada aturan. Dengan kata lain, hampir semua orang yang memilih menjadi penulis sesungguhnya sudah tahu sejak awal bahwa aktivitas itu bukan keputusan bisnis yang rasional.

Pak Sony tampaknya memahami kenyataan itu sepenuhnya. Justru itu yang membuatnya menarik. Ia tak pernah berbicara seperti penulis yang sedang membangun mitologi tentang dirinya sendiri. Tak ada narasi bahwa setiap buku adalah mahakarya. Tak ada ambisi terdengar sebagai sastrawan besar. Ia menulis karena memang perlu menulis. Karena setelah sekian lama, aktivitas itu berubah menjadi semacam kebutuhan mental. Ada sesuatu yang terasa belum selesai jika sebuah cerita hanya tinggal di kepala.

Saya teringat ucapan Joan Didion yang terkenal, "I write entirely to find out what I'm thinking." Saya menulis untuk mengetahui apa yang sebenarnya saya pikirkan. Kutipan itu sering terdengar romantis, tetapi malam itu justru terasa sangat praktis. Banyak orang mengira menulis adalah proses menuangkan pikiran. Padahal sering kali justru kebalikannya. Kita baru mengetahui bentuk pikiran kita sendiri setelah mencoba menuliskannya. Kalimat menjadi alat berpikir, bukan sekadar alat menyampaikan pikiran.

Barangkali itu sebabnya hampir seluruh peradaban besar berdiri di atas aktivitas menulis. Negara lahir dari dokumen. Agama bertahan melalui kitab. Ilmu pengetahuan berkembang melalui manuskrip, jurnal, dan buku. Hukum disusun dalam pasal-pasal. Sejarah diperdebatkan melalui arsip. Bahkan ingatan kolektif manusia pada akhirnya bergantung pada seseorang yang suatu hari memutuskan untuk menulis. Tanpa tulisan, kebudayaan akan hidup hanya sejauh umur ingatan manusia.

Namun justru di titik sejarah ketika kemampuan menulis menjadi semakin mudah secara teknis, laku menulis terasa semakin sulit secara mental. Kita memiliki laptop, ponsel, kecerdasan buatan, aplikasi pencatat, dan ribuan alat bantu lain. Yang kita kekurangan justru sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu perhatian yang utuh.

Attention span hari ini mungkin telah menjadi komoditas paling mahal di dunia. Perusahaan teknologi menghabiskan miliaran dolar untuk memperebutkannya. Setiap notifikasi adalah kompetitor bagi satu paragraf. Setiap video pendek bersaing dengan satu halaman buku. Kita hidup dalam ekonomi perhatian, dan seperti semua ekonomi, selalu ada pihak yang diuntungkan ketika perhatian manusia semakin mudah dipotong-potong.

Dalam konteks itu, menyelesaikan sebuah buku terasa hampir seperti tindakan melawan arus. Menulis bukan lagi sekadar soal kemampuan merangkai kata. Ia menjadi latihan mempertahankan fokus. Latihan duduk bersama kebosanan. Latihan menerima bahwa tak semua hari menghasilkan halaman yang bagus. Kadang yang lahir hanya satu paragraf. Kadang malah hanya satu kalimat. Bahkan ada hari ketika yang berhasil ditulis hanyalah alasan untuk kembali mencoba besok.

Malik mengangguk beberapa kali ketika pembicaraan sampai di titik itu. Saya bisa memahami alasannya. Menulis buku geologi tentu berbeda dengan menulis novel, tetapi keduanya berbagi satu syarat yang sama, yaitu ketekunan. Penelitian harus selesai. Referensi harus dibaca. Data harus diverifikasi. Struktur harus dibangun. Pembaca nantinya hanya melihat buku yang sudah jadi. Mereka jarang melihat bulan-bulan ketika penulis mulai meragukan proyeknya sendiri.

Saya kira keraguan itulah teman tetap semua penulis. Bukan kurangnya ide. Internet justru membuat ide datang terlalu banyak. Yang langka adalah kemampuan memilih satu ide, lalu setia kepadanya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Disiplin ternyata jauh lebih menentukan daripada inspirasi. Inspirasi datang dan pergi. Disiplin memaksa kita tetap duduk ketika inspirasi sedang libur.

Ada kutipan lain yang malam itu terus terlintas di kepala saya, kali ini dari Ernest Hemingway. "The first draft of anything is shit." Kalimat yang kasar, tetapi mungkin justru membebaskan. Sebab banyak orang berhenti menulis bukan karena tak mampu, melainkan karena terlalu cepat menghakimi tulisannya sendiri. Mereka ingin halaman pertama langsung sempurna. Padahal hampir semua buku yang baik berawal dari halaman-halaman yang buruk.

Pak Sony beberapa kali menyebut tentang proses revisi. Tentang naskah yang kembali dibongkar. Ia mengatakannya tanpa dramatisasi. Seolah revisi memang bagian alami dari pekerjaan. Mendengar itu saya jadi berpikir bahwa mungkin menulis memang salah satu latihan terbaik untuk menerima kenyataan bahwa kesempurnaan adalah proses, bukan titik awal.

Percakapan juga sempat menyentuh dunia penerbitan. Industri ini sering kali berada dalam posisi yang aneh. Di satu sisi ia harus menjaga idealisme kebudayaan. Di sisi lain ia tetap harus menjual buku agar bisa hidup. Penerbit harus terus menebak apa yang ingin dibaca masyarakat, sambil sesekali mengambil risiko menerbitkan buku yang mereka anggap penting meskipun pasarnya belum tentu besar. Hubungan antara penulis dan penerbit akhirnya menjadi semacam negosiasi panjang antara idealisme dan kenyataan. Tapi mereka juga membahas kemudahan saat ini dimana dimungkinkan sistem Print on Demand.

Tapi tarik ulur antara industri dan pribadi mungkin adalah bagian dari petualangan menulis itu sendiri. Sebab buku selalu lahir dari kolaborasi yang tak terlalu terlihat. Ada editor yang mengoreksi. Ada desainer sampul yang memberi wajah. Ada penyunting bahasa. Ada percetakan. Ada toko buku. Ada pembaca yang suatu hari memutuskan mengeluarkan uang dan waktu untuk masuk ke dunia yang dibangun orang lain. Sebuah buku adalah kerja kolektif yang sering kita kira lahir sendirian.

Menjelang akhir obrolan, saya mulai menyadari bahwa yang paling saya sukai dari Pak Sony bukan daftar buku yang telah ia tulis. Bukan pula penghargaan yang mungkin suatu hari akan datang. Yang menarik justru kejujurannya. Ia menulis bukan karena merasa dunia sedang menunggu karya besarnya. Ia menulis karena hidup terasa lebih utuh ketika ia melakukannya. Ada sesuatu yang hampir katarsis dalam cara ia bercerita. Menulis bukan alat mencapai ketenaran. Menulis adalah cara berdamai dengan diri sendiri.

Di zaman yang mengukur hampir segala sesuatu dengan angka, pendekatan seperti itu terasa semakin langka. Kita bertanya berapa eksemplar terjual, berapa pengikut media sosial, berapa ulasan positif, berapa royalti. Pertanyaan-pertanyaan itu tentu penting. Namun malam itu saya diingatkan bahwa ada metrik lain yang jauh lebih sunyi. Apakah sebuah buku membuat penulisnya menjadi manusia yang lebih jernih? Apakah ia membantu seseorang memahami hidupnya sedikit lebih baik? Apakah ia membuat pembacanya melihat dunia dari sudut yang sebelumnya tak pernah terpikirkan?

Sulit mengukurnya. Tetapi mungkin memang tak semua hal yang penting perlu diukur.

Di penghujung rekaman, saya meninggalkan studio dengan perasaan yang agak aneh. Saya tak membawa daftar kiat menjadi penulis sukses. Tak ada rumus lima langkah menyelesaikan novel dalam tiga puluh hari. Yang saya bawa pulang justru sesuatu yang lebih sederhana, sekaligus lebih berat. Bahwa menulis buku pada akhirnya bukan soal bakat, melainkan soal watak. Soal kesediaan kembali ke meja kerja ketika tak ada yang menyuruh. Soal kemampuan tetap percaya pada satu proyek ketika bahkan penulisnya sendiri mulai meragukannya.

Mungkin itulah sebabnya manusia menulis sejak ribuan tahun lalu dan agaknya akan terus menulis selama peradaban masih berdiri. Kita memang berbicara untuk bertahan hidup. Tetapi kita menulis agar sesuatu dalam diri kita, dan dalam zaman kita, tak ikut hilang begitu saja.

 

 
 
 

Recent Posts

See All
Tentang Bola, Bangsa dan Musuh Bersama

Esai Seputar Piala Dunia FIFA 2026 Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina di final. Bagi penggemar sepak bola, cerita malam itu mungkin selesai pada statistik pen

 
 
 

Comments


bottom of page