top of page
logo-putih.png

Lambaian Tangan Berusia 67.800 Tahun.

  • 3 days ago
  • 6 min read

Esai Pengantar Siniar Distrik Utara bersama Adhi Agus Octaviana

 


Distrik Utara ngobrol dengan peneliti yang sejak beberapa bulan yang lalu wajahnya terkadang muncul di berita nasional dan dunia; Adhi Agus Octaviana, biasa dipanggil Aa. Bahasan kami soal gambar cadas tertua di dunia, ditemukan dan di teliti di Pulau Muna, Indonesia. Karena membahas ‘gambar’ selayaknya saya ditemani host tamu saya yang berlatar belakang Seni Rupa dan Desain.Tapi kalau saya lebih suka mengatakan bahwa kami membahas lambaian tangan berusia 67.800 tahun.  

Jadi pengantarnya begini:

Selama lebih dari satu abad, sejarah seni manusia (Homo Sapiens) hampir selalu dimulai dari Eropa. Nama-nama seperti Lascaux, Chauvet, dan Altamira memenuhi buku pelajaran, museum, hingga dokumenter. Seolah ketika Homo sapiens mulai berpikir secara simbolik, mulai melukis, mulai membayangkan dunia yang melampaui kebutuhan berburu dan bertahan hidup, panggungnya sudah pasti berada di sana.

Penelitian yang diterbitkan pada jurnal Nature ini menunjukkan bahwa karya seni Homo sapiens tertua yang diketahui hingga kini justru berada di Indonesia. Di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, Aa bersama tim peneliti menggunakan metode laser ablation uranium-series dating untuk mengukur umur lapisan kalsit yang menutupi sebuah cap tangan merah di dinding gua. Lapisan tersebut berusia sekitar 71.600 tahun, yang berarti cap tangan di baliknya telah dibuat sedikitnya 67.800 tahun lalu. Angka itu melampaui usia minimum gambar cadas yang ditemukan sebelumnya di Maros-Pangkep sekitar 16.600 tahun yang ini saja sudah lebih tua dibanding cap tangan di Maltravieso, Spanyol, yang di buku sejarah saya zaman SMA  menjadi salah satu acuan tertua seni gua di dunia.

Namun, bagi saya yang lebih tertarik pada cerita yang emosional ketimbang angka penelitian, rekor hanyalah efek samping. Cerita utamanya jauh lebih memikat.

Temuan ini ikut memperkuat dugaan bahwa ketika Homo sapiens meninggalkan daratan Asia menuju Sahul, daratan purba yang kini menjadi Australia dan Papua, mereka kemungkinan besar melintasi jalur utara Wallacea. Selama bertahun-tahun para arkeolog memiliki dua hipotesis. Jalur selatan melalui Jawa, Nusa Tenggara, Timor, lalu Australia. Atau jalur utara melalui Kalimantan, Sulawesi, Misool, kemudian Papua. Model komputasi paleogeografi telah lama mendukung kedua kemungkinan tersebut, tetapi bukti arkeologis di sepanjang jalur utara nyaris kosong. Liang Metanduno kini mengisi kekosongan itu. Cap tangan tersebut menjadi bukti arkeologis tertua kehadiran Homo sapiens di Wallacea, tepat berada di koridor yang selama ini diduga menjadi salah satu jalan menuju Sahul sekitar 65.000 tahun lalu.

Dengan kata lain, sebelum Nusantara menjadi jalur rempah, jalur pelayaran Sriwijaya, jalur VOC, atau Alur Laut Kepulauan Indonesia, kepulauan ini mungkin sudah menjadi salah satu jalan raya paling penting dalam sejarah Homo sapiens.

Itulah sebabnya ketika Distrik Utara mengundang Aa ke studio, saya tahu kami tak sedang membahas lukisan gua semata. Kami sedang membahas bagaimana beberapa gram pigmen merah di atas batu kapur mampu mengubah cara dunia membaca sejarah manusia.

Saya mengenal Aa bukan dari jurnal ilmiah. Saya mengenalnya dari laut.

Hanya beberapa bulan sebelum obrolan di Distrik, ketika saya masih turun sebagai pemandu trip kayak laut di Misool, saya mendapat kesempatan bertemu Aa dan tim BRIN dalam proyek dokumentasi gambar cadas bersama tim Google. Saya sempat berbincang dengan tim peneliti yang berpindah dari satu ceruk karst ke ceruk lainnya dengan boat. Baru belakangan saya sadar bahwa itu adalah tim yang sedang merevisi narasi sejarah spesies kita, homo sapiens. Jadi bukan perkara leluhur ekslusif bangsa Indonesia atau manapun, tapi kita sebagai ras manusia.

Jauh sebelum mengenal Aa, sebenarnya saya lebih dulu mengenal satu tokoh yang selalu muncul ketika orang membicarakan seni cadas Indonesia, yaitu almarhum Dr. Pindi Setiawan. Ia adalah peneliti Indonesia yang signifikan di dunia arkeologis meski basis dia di Fakultas Seni Rupa dan Desain

Naluri dan kegemarannya bertualang, di padu dengan kepekaan akademis, berhasil mengangkat nama Indonesia dalam percakapan arkeologi dunia melalui berbagai penelitian mengenai seni cadas di Sulawesi maupun Kalimantan. Ia juga menjadi salah satu penulis dalam publikasi internasional yang memperlihatkan bahwa seni cadas Nusantara jauh lebih tua daripada yang pernah dibayangkan sebelumnya.

Dan, sebagai senior saya di organisasi petualang Wanadri,  mungkin Pindi adalah orang pertama yang benar-benar membuat saya memahami bahwa sebuah ekspedisi tak harus berakhir menjadi koleksi foto atau cerita heroik. Perjalanan bisa menjadi kerja akademik. Mendaki gunung bisa menjadi penelitian. Mendayung laut bisa menjadi cara memahami sejarah manusia. Petualangan ternyata bukan sekadar olahraga atau rekreasi. Ia dapat menjadi instrumen ilmu pengetahuan. Pelajaran itu tinggal cukup lama di kepala saya.

Barangkali karena itu pula ketika kemudian saya mendirikan usaha wisata kayak di Raja Ampat, saya selalu percaya bahwa perjalanan yang baik seharusnya membawa pulang lebih dari sekadar foto matahari terbenam. Ia seharusnya membawa pulang cerita, data, pertanyaan, bahkan kalau bisa pengetahuan baru.

Malam itu, ketika melihat Aa duduk di studio Distrik Utara, saya merasa seperti sedang melihat estafet yang terus berjalan. Kang Pindi sudah almarhum. Tetapi pekerjaannya, semangat akademis dan petualangannya, tak ikut berhenti.

Justru salah satu hal yang paling menyentuh dari makalah Nature yang ditulis Aa dan tim nya adalah nama Pindi Setiawan masih tercantum sebagai salah satu penulis dengan keterangan deceased. Rasanya sulit menemukan penghormatan yang lebih indah bagi seorang ilmuwan selain tetap menjadi bagian dari sebuah penemuan besar bahkan setelah ia wafat. Ilmu pengetahuan memang tak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh estafet panjang lintas generasi.

Percakapan kami malam itu kemudian bergerak jauh melampaui soal umur lukisan. Kami berbicara tentang metode penanggalan, tentang bagaimana lapisan kalsit justru menjadi jam alami yang menyimpan umur sebuah gambar. Kami membahas mengapa Wallacea menjadi kawasan yang begitu penting dalam sejarah migrasi manusia. Kami berbicara tentang laut, tentang pulau-pulau, tentang gua-gua yang selama ribuan tahun luput dari perhatian dunia.

Sebagai orang yang menghabiskan sebagian hidup di laut, saya diam-diam menikmati ironi itu. Selama ini saya menganggap laut Nusantara sebagai ruang petualangan.

Ternyata laut yang sama mungkin pernah menjadi jalan raya pertama Homo sapiens.

Orang-orang yang pertama menyeberangi Wallacea sekitar 65.000 tahun lalu tentu tak memiliki GPS, radar, mesin tempel, atau prakiraan cuaca. Mereka bahkan belum mengenal tulisan. Tetapi mereka mampu melakukan sesuatu yang bahkan hari ini masih membuat banyak orang gentar, yaitu menyeberangi laut terbuka menuju pulau-pulau yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Yang lebih mengejutkan lagi, mereka tidak hanya membawa kemampuan berlayar. Mereka juga membawa seni.

Sering kali kita membayangkan manusia purba sebagai makhluk yang seluruh energinya habis untuk bertahan hidup. Berburu, menghindari pemangsa, mencari air, berlindung dari cuaca. Liang Metanduno menawarkan gambaran yang berbeda. Orang-orang itu rupanya telah memiliki dunia simbolik yang matang. Mereka merasa perlu meninggalkan tanda. Mereka merasa hidup mereka layak dikenang. Mereka menciptakan sesuatu yang secara ekonomi sama sekali tidak produktif, tetapi secara budaya luar biasa penting. Mungkin di situlah kebudayaan bermula.

Wawancara berakhir. Lampu studio dipadamkan. Gelas kopi di meja tinggal menyisakan ampas yang mulai dingin. Aa pulang membawa ranselnya. Saya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih sulit ditinggalkan, yaitu bayangan cap tangan merah itu.

Barangkali memang sudah menjadi kebiasaan zaman kita mengubah setiap penemuan ilmiah menjadi kompetisi. Lukisan tertua. Cap tangan tertua. Seni figuratif tertua. Rekor demi rekor lebih mudah menjadi berita daripada pertanyaan yang seharusnya menyertainya. Padahal yang membuat Liang Metanduno begitu penting bukan semata usianya. Yang menarik adalah kenyataan bahwa sejak puluhan ribu tahun lalu, merasa hidupnya layak meninggalkan jejak.

Itu bukan tindakan yang membantu mencari makan. Bukan teknologi untuk berburu lebih efisien. Tak ada nilai ekonominya. Bahkan ketika hidup manusia masih sepenuhnya ditentukan oleh cuaca dan musim, mereka masih menyisihkan waktu untuk membuat sesuatu yang tampaknya tak berguna. Mereka membuat gambar. Mereka meninggalkan tanda. Mereka melambai kepada seseorang yang bahkan belum lahir.

Saya sering berpikir bahwa manusia modern terlalu mencintai kata kemajuan. Kita mengukurnya melalui jalan tol, kecerdasan buatan, grafik pertumbuhan ekonomi, dan teknologi terbaru. Semua bergerak semakin cepat. Anehnya, semakin cepat kita bergerak, semakin sulit pula kita menjawab pertanyaan sederhana tentang mengapa kita bergerak.

Di hadapan cap tangan yang telah bertahan 67.800 tahun, kegelisahan itu terasa mengecil. Pigmen merah dari tanah ochre itu tak mengenal negara, agama besar, internet, ataupun algoritma. Namun ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan media sosial sering gagal lakukan. Ia bertahan. Ia masih mampu mengundang percakapan puluhan ribu tahun setelah pembuatnya menghilang tanpa nama.

Karena itu saya dan Zakiy tak lagi melihat seni cadas sebagai kisah tentang manusia purba. Kami melihatnya sebagai kisah tentang kita. Tentang spesies yang sejak awal rupanya tak pernah puas hanya bertahan hidup. Kita selalu ingin dipahami. Selalu ingin meninggalkan sesuatu yang melampaui umur tubuh kita sendiri. Lalu, bagaimana kaitannya dengan regional semangat kedaerahan dan pembangunan daerah, raison d’etre dari podcast kami? Mungkin tak ada. Atau mungkin saja ada. Karena saat kita menemukan bahwa setiap daerah di dunia kemungkinan menyimpan kepingan puzzle atau jejak kisah nenek moyang bersama manusia, bahwa kita sebagai spesies terus bergerak seiring tuntutan alam, semua daerah berpotensi menjadi pusat cerita, meski dalam periode waktu yang berbeda-beda.

 

 
 
 

Recent Posts

See All
Tentang Bola, Bangsa dan Musuh Bersama

Esai Seputar Piala Dunia FIFA 2026 Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina di final. Bagi penggemar sepak bola, cerita malam itu mungkin selesai pada statistik pen

 
 
 

Comments


bottom of page