top of page
logo-putih.png

Tanah Manusia dari Sisilia sampai Majalengka

  • May 22
  • 5 min read

Esai Pengantar Podcast dengan Domenico Mangano dan Ahmad Sujai


 

Domenico Mangano terlihat kurang tidur saat saya sampai larut malam di Jatiwangi Art Factory. Matanya sembab, tapi tubuhnya masih bergerak dengan energi yang aneh: seperti orang yang terlalu lelah untuk berhenti. Saya sendiri datang dengan tampang yang mungkin tak jauh beda. Bedanya saya lelah karena kebanyakan duduk sambil merokok dan merasa produktif, sementara Domenico baru pulang menjelajah alam sekitar Majalengka.

 

Seniman asal Sisilia yang kini berbasis di Amsterdam itu baru saja kembali dari perjalanan geografi menyusuri beberapa rute di alam sekitar Majalengka. Sebuah perjalanan yang bukan wisata, bukan pula survei akademik, melainkan upaya mengamati hubungan manusia dengan tanah tempat ia hidup.

 

Bagi Domenico, tanah bukan sekadar material. Tanah adalah memori. Tanah adalah saksi dari cara manusia membangun peradaban, cara mereka makan, bertengkar, bernyanyi, mencintai, dan mati.

 

Ia mengikuti perjalanan itu karena tengah menjalani residensi di Jatiwangi dan sedang mencari material tanah andosol untuk karya yang ia kerjakan. Namun semakin lama berbicara dengannya malam itu, saya mulai merasa bahwa pencarian tersebut bukan semata pencarian bahan baku. Ia seperti sedang mencari jejak hubungan manusia dengan bumi yang perlahan menghilang di zaman layar sentuh dan algoritma.

 

Malam itu udara Jatiwangi panas dan lengket. Kipas angin di ruangan hanya memindahkan hawa gerah dari satu sudut ke sudut lain. Di luar terdengar motor lewat sesekali dan suara jangkrik yang kalah oleh musik dangdut jauh dari perkampungan. Domenico bicara pelan dengan aksen Italia yang kadang membuat saya harus sedikit memiringkan kepala seperti antena radio rusak.

 

Sisilia tampaknya memang membekas kuat dalam cara Domenico memandang dunia. Ia lahir di Palermo tahun 1976 dan besar di sebuah pulau yang sepanjang sejarahnya merupakan persimpangan peradaban: Arab, Norman, Spanyol, Italia, mafia, gereja, kemiskinan, laut Mediterania, dan reruntuhan masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai. Dalam berbagai wawancara dan proyeknya, Palermo selalu muncul bukan sekadar kota asal, tetapi semacam metafora. Ia pernah menggambarkan Palermo seperti “sirkus raksasa tanpa tenda”: kacau, absurd, penuh tragedi sekaligus vitalitas.

 

Dan memang ada sesuatu yang terasa Sisilia sekali dalam cara Domenico memandang manusia. Ia tertarik pada cerita-cerita kecil yang biasanya lolos dari narasi besar globalisasi. Orang-orang pinggiran. Kebiasaan domestik. Gestur sehari-hari. Lanskap yang dianggap rusak atau tertinggal. Dalam karya-karyanya, ia sering mendekati subjek bukan seperti dokumenteris dingin, melainkan seperti seseorang yang ikut hidup di dalam situasi tersebut.

 

Mungkin karena itu juga ia terasa cepat nyambung dengan Jatiwangi.

 

Karena Jatiwangi sendiri adalah wilayah yang dibentuk oleh tanah. Secara literal.

 

Daerah ini sejak lama dikenal sebagai kawasan penghasil genteng dan keramik. Bentang alamnya ditandai oleh tanah liat, tungku pembakaran, debu bata, dan suara produksi yang menjadi ritme kehidupan sehari-hari. Tak heran jika Jatiwangi Art Factory tumbuh menjadi ruang seni yang begitu obsesif membicarakan tanah, material, bunyi, dan relasi manusia dengan lanskapnya sendiri.

 

Domenico tampaknya memahami itu dengan cepat. Mungkin terlalu cepat malah, sampai-sampai warga sekitar sudah memberinya nama baru: Ua Dodo.

 

Ada sesuatu yang menarik ketika seorang seniman asing bisa begitu cepat mendapat panggilan kekeluargaan di sebuah desa di Majalengka. Biasanya hubungan global hadir melalui bahasa bisnis, pariwisata, atau jargon pembangunan. Tapi di sini hubungan itu terjadi melalui tanah liat, obrolan warung, perjalanan motor di jalan desa, dan proses membuat karya bersama.

 

 

Saya ngobrol lagi dengan Domenico keesokan harinya di tempat itu juga. Matahari Majalengka siang itu terasa brutal. Panasnya memantul dari permukaan genteng dan halaman tanah hingga udara seperti bergelombang. Saya sempat merasa seperti ayam ungkep yang sedang dipanaskan ulang.

 

Domenico ditemani oleh Ahmad Sujai, seniman Jatiwangi yang ikut terlibat dalam proses proyek tersebut.

 

Di sela obrolan itu saya mulai memahami bahwa bagi Domenico, proses pembuatan karya tak bisa dipisahkan dari seluruh interaksi yang melahirkan karya tersebut. Sebuah karya seni tak berhenti pada objek akhirnya. Ia mencakup perjalanan mencari tanah, percakapan dengan warga, tubuh yang berkeringat saat menggali material, hingga bagaimana suara dan napas manusia nantinya berinteraksi dengan benda itu.

 

Karena itu clay yang digunakan harus benar-benar berasal dari tempat karya tersebut dibuat.

 

Tanah lokal bukan gimmick romantik. Ia adalah bagian dari jiwa karya.

 

Dalam proyeknya kali ini, Jatiwangi menjadi daerah clay ketiga setelah Caltagirone di Sisilia dan Bornholm di Denmark. Di tempat-tempat tersebut Domenico mengerjakan proyek serupa: menciptakan karya dari tanah liat lokal dengan kolaborasi bersama komunitas setempat. Ia dan partner artistiknya, Marieke van Rooy, memang dikenal menggabungkan riset sosial, antropologi, sejarah lokal, dan seni partisipatoris dalam proyek-proyek mereka.

 

Wujud akhirnya cukup unik. Sebuah karya rupa yang sepintas tampak seperti terumbu karang atau fosil makhluk laut purba. Di permukaannya terdapat lubang-lubang yang bisa ditiup untuk menghasilkan suara dan musik. Karya itu memang dirancang bukan untuk dipandangi diam-diam seperti relik suci di museum. Ia harus disentuh. Ditiup. Dimainkan.

 

“Baik pemusik profesional maupun amatir harus tetap bisa bermain dengannya,” ujar Domenico.

 

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya cukup radikal.

 

Karena dalam banyak ruang seni kontemporer hari ini, publik sering diposisikan hanya sebagai penonton pasif. Berdiri diam. Memotret. Mengunggah ke Instagram dengan caption sepanjang dua kalimat sok kontemplatif, lalu bergerak ke objek berikutnya. Saya tahu karena saya kadang melakukan itu juga.

 

Sementara Domenico justru ingin karya menjadi alasan bagi manusia untuk saling berinteraksi kembali.

 

Pendekatan seperti ini sebenarnya sudah terlihat dalam berbagai proyek sebelumnya. Bersama Marieke van Rooy, ia pernah membuat instalasi keramik musikal di Belanda yang lahir dari riset tentang eksperimen komunitas psikiatri tahun 1970-an. Dalam pertunjukan tersebut, para musisi memainkan patung-patung keramik dengan cara disentuh, digesek, bahkan ditiup seperti instrumen napas. Patung bukan lagi benda mati. Ia menjadi medium relasi manusia.

 

Di Sisilia pun pendekatan mereka serupa. Dalam proyek di Castelbuono, mereka bekerja bersama pengrajin lokal, warga, anak-anak, hingga ahli lingkungan hidup untuk membuat karya keramik menggunakan material khas wilayah Madonie seperti manna—getah pohon ash yang menjadi bagian penting tradisi lokal di sana. Bahkan proses pembakarannya dilakukan dengan tungku terbuka menggunakan daun, kayu, jerami, kulit biji, dan material organik lain agar “esensi wilayah” ikut menempel pada permukaan karya.

 

Lagi-lagi semuanya kembali pada gagasan tentang hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya.

 

Ada keresahan yang terus muncul dalam pembicaraan kami: bahwa hubungan antarmanusia perlahan direbut oleh gadget, ritme kerja industrial, dan budaya kapitalisme yang membuat manusia makin kesepian meski terus terhubung secara digital.

 

Barangkali itu sebabnya karya-karya Domenico sering terasa seperti upaya kecil merebut kembali ruang sosial yang hilang.

 

Ia bukan seniman yang terobsesi pada teknologi masa depan. Ia justru tampak tertarik pada sesuatu yang jauh lebih tua: tanah, napas, suara manusia, sentuhan tangan, permainan kolektif.

 

Dalam konteks itu, proyeknya di Jatiwangi terasa menarik karena bertemu dengan kultur lokal yang memang masih menyimpan unsur komunal cukup kuat. Orang masih nongkrong panjang. Masih ngobrol tanpa tujuan jelas. Masih mengenal tetangga. Masih punya hubungan fisik dengan lanskap tempat mereka hidup.

 

Dan mungkin karena itu juga Jatiwangi menjadi magnet bagi banyak seniman internasional.

 

Ahmad Sujai mengatakan bahwa Jatiwangi cukup beruntung karena komunitas seni internasional cukup sering datang dan melakukan residensi di sana. Sebaliknya, seniman-seniman Jatiwangi juga mendapat kesempatan residensi ke berbagai tempat di dunia. Pertukaran itu menciptakan situasi yang unik: sebuah kecamatan penghasil genteng di Majalengka tiba-tiba menjadi titik temu percakapan global tentang seni, ekologi, komunitas, dan masa depan manusia.

 

Namun menariknya, globalisasi di Jatiwangi tak hadir dalam bentuk mal mewah atau coffee shop generik yang identik di setiap kota dunia. Ia hadir lewat tanah liat. Lewat bunyi. Lewat eksperimen artistik. Lewat manusia-manusia yang duduk bersama di teras malam sambil membicarakan bagaimana suatu karya bisa lahir dari interaksi dengan lingkungan sekitarnya.

 

Mungkin itu yang paling menarik dari pertemuan saya dengan Domenico Mangano.

 

Di tengah dunia yang makin digital dan abstrak, seorang seniman dari Sisilia datang jauh-jauh ke Majalengka untuk mencari tanah.

 

Secara harfiah.

 

Dan dari tanah itu, ia mencoba membuat manusia saling berbicara kembali.

 
 
 

Recent Posts

See All
Tentang Bola, Bangsa dan Musuh Bersama

Esai Seputar Piala Dunia FIFA 2026 Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina di final. Bagi penggemar sepak bola, cerita malam itu mungkin selesai pada statistik pen

 
 
 

Comments


bottom of page