top of page
logo-putih.png

Sirkumnavigasi Ka’bah dan Apa yang Disembelih di Altar Pasar

  • May 27
  • 6 min read

Esai Iedul Adha Distrik Utara

Oleh Priyo U. Laksono


 

Sembari belakangan saya sibuk mengingat dan menulis kembali perjalanan sirkumnavigasi (mengelilingi) Flores dengan kayak laut, mengatasi arus, melawan arus, menghitung pasang, tapi takbir Idul Adha justru memaksa saya lompat kembali pada sirkumnavigasi yang lebih awal dalam hidup saya:

 

sirkumnavigasi Ka’bah.

 

Ada sesuatu yang aneh ketika mengingat thawaf setelah bertahun-tahun, saat saya berumrah dan bahkan berhaji di tahun 2002. Gerakan melingkar itu terasa begitu purba sekaligus modern. Jutaan manusia bergerak mengitari satu titik yang sama, seperti partikel mengelilingi inti atom raksasa. Orang menangis, berdoa, tersesat, membeli oleh-oleh, berdesakan, mengambil foto, lalu kembali mengulang putaran. Di dekat pusat spiritual miliaran manusia itu berdiri hotel mewah, pusat perbelanjaan, restoran cepat saji, dan etalase barang-barang yang nyaris identik dengan bandara internasional mana pun di dunia.

 

Semakin tua saya, semakin saya merasa bahwa pemandangan itu bukan ironi yang kebetulan muncul belakangan. Ia mungkin justru inti dari cerita manusia itu sendiri.

 

Sebab agama-agama besar, terutama tradisi Abrahamik, selalu berbicara tentang pengendalian ego dan pelepasan keterikatan. Tetapi peradaban manusia hampir selalu bergerak ke arah sebaliknya: akumulasi, kepemilikan, ekspansi hasrat, dan pembesaran diri tanpa akhir.

 

Di titik itulah kisah Ibrahim menjadi menarik. Atau mengganggu; tergantung di sisi pasar sebelah mana anda memandangnya.

 

Banyak orang membaca kisah Ibrahim sebagai cerita tentang ketaatan. Tetapi mungkin itu justru pembacaan yang terlalu aman. Sebab bila dipikir lebih jauh, kisah itu sebenarnya sangat radikal. Ibrahim tak diminta mengorbankan harta, ternak, atau rumah. Ia diminta mengorbankan putranya Ismail, sesuatu yang secara biologis, emosional, dan eksistensial adalah perpanjangan dirinya sendiri.

 

Saat sirkumnavigasi Ka’bah pertama saya, usia saya 14, dan thawaf hanyalah ritual. Saat Iedul Adha hari ini, dimana Jamaah haji sedang berthawaf, saya memiliki putra 14 tahun. Saya tau, sekarang, apa yang harus Ibrahim rasakan soal Ismail.

 

Dalam dunia manusia purba maupun modern, anak bukan sekadar anak. Ia adalah masa depan. Alasan bertahan hidup. Perpanjangan nama. Harapan biologis untuk menolak kefanaan. Dalam pengertian tertentu, Ismail adalah ego Ibrahim dalam bentuk paling dalam dan paling manusiawi.

 

Dan justru itu yang diminta untuk dilepaskan.

 

Di sini kisah Ibrahim mulai bersinggungan dengan hampir seluruh tradisi asketisme dunia. Para sufi berbicara tentang fana, lenyapnya ego di hadapan Yang Ilahi. Buddhisme melihat keterikatan sebagai sumber penderitaan. Dalam Zen, manusia bahkan didorong untuk mencurigai obsesinya terhadap identitas diri. Para rahib Kristen meninggalkan dunia demi kesunyian dan disiplin batin. Hampir semua tradisi spiritual besar memiliki satu kesamaan yang menarik: mereka memandang ego manusia sebagai sesuatu yang perlu dijinakkan.

 

Masalahnya, peradaban ekonomi modern justru dibangun di atas kebalikan dari gagasan itu.

 

Kapitalisme modern membutuhkan ego yang aktif, lapar, dan terus merasa kurang. Ia bekerja bukan hanya dengan memproduksi barang, tetapi dengan memproduksi ketidakpuasan. Dalam bentuk paling canggihnya hari ini, pasar tak lagi sekadar menjual kebutuhan; ia menjual identitas, status, bahkan makna.

 

Kita tak membeli sepatu hanya untuk melindungi kaki. Kita membeli citra diri. Kita membeli narasi tentang siapa diri kita. Kita membeli rasa bahwa kita berbeda, lebih baik, lebih layak dilihat. Media sosial lalu memperbesar mekanisme itu menjadi mesin psikologis global. Setiap hari manusia diingatkan bahwa hidup orang lain tampak lebih menarik, lebih indah, lebih sukses, lebih spiritual, lebih sehat, lebih estetik.

 

Dalam kondisi seperti itu, asketisme menjadi gagasan yang nyaris subversif.

 

Bayangkan seorang manusia yang benar-benar merasa cukup. Ia tak terlalu peduli status sosial. Ia tak merasa perlu terus membeli validasi. Ia tak terobsesi memperbesar citra dirinya. Orang seperti ini mungkin tampak mengecewakan bagi algoritma modern, tetapi justru di situlah bahayanya. Seorang manusia yang sungguh-sungguh mampu berkata “cukup” adalah konsumen yang buruk.

 

Pasar dapat mentoleransi moralitas, tetapi tidak kesederhanaan radikal.

 

Karena ekonomi konsumsi modern membutuhkan manusia yang terus merasa ada lubang dalam dirinya yang harus diisi. Dan lubang itu biasanya diisi dengan barang, pengalaman, pencitraan, atau ambisi baru. Ego menjadi mesin ekonomi paling efektif dalam sejarah manusia.

 

Adam Smith pernah berbicara tentang self-interest sebagai energi produktif masyarakat. Namun kapitalisme abad ke-21 tampaknya telah bergerak jauh melampaui sekadar kepentingan diri rasional (jika memang pernah ada kepentingan diri rasional). Ia berubah menjadi sistem yang secara aktif mengorganisasi kecemasan manusia. Hasrat dipelihara dalam kondisi lapar permanen. Dalam bahasa psikologi Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia memang bisa selesai, tetapi kebutuhan akan pengakuan dan esteem hampir tak memiliki titik akhir. Sistem ekonomi modern lalu belajar hidup dari ketidakselesaian itu.

 

Mungkin karena itulah core dari kisah Ibrahim terasa sangat asing bagi dunia kontemporer. Dan hanya cangkang luar narasinya saja, ketaatan, yang boleh menyebar.

 

Ibrahim tak sedang memperbesar dirinya. Ia justru diminta menghancurkan pusat keterikatannya sendiri. Pengorbanan dalam kisah itu bukan glorifikasi penderitaan, melainkan penghancuran ilusi kepemilikan absolut. Bahwa bahkan sesuatu yang paling kita cintai sekalipun pada akhirnya bukan benar-benar milik kita.

 

Dan gagasan seperti itu sangat berbahaya bagi peradaban yang hidup dari akumulasi.

 

Tetapi di sinilah paradoks besar Idul Adha muncul. Ritual yang berbicara tentang pelepasan ego justru selalu hadir dalam bentuk pasar yang sangat ramai. Orang membandingkan ukuran sapi. Harga ternak melonjak. Pedagang musiman bermunculan. Industri distribusi bergerak. Konsumsi meningkat. Di banyak tempat, Idul Adha bahkan menjadi momentum ekonomi tahunan yang signifikan.

 

Ironisnya, paradoks ini sebenarnya sudah ada sejak awal sejarah Islam.

 

Muhammad lahir di Mekah, sebuah kota dagang. Ka’bah bahkan sebelum Islam telah menjadi pusat ziarah dan aktivitas ekonomi. Kafilah, perdagangan, transaksi, dan pasar mengelilingi ruang spiritual itu sejak awal. Islam memang membawa kritik terhadap ketimpangan dan kerakusan: zakat, distribusi kekayaan, larangan eksploitasi berlebihan, perlindungan terhadap yang lemah. Tetapi Islam tidak pernah sepenuhnya memusuhi perdagangan. Muhammad sendiri adalah pedagang.

 

Maka hubungan Islam dan pasar sejak awal memang ambigu. Ia mencoba mendisiplinkan pasar, bukan menghancurkannya.

 

Namun sejarah manusia menunjukkan bahwa pasar hampir selalu lebih adaptif daripada kritik terhadap pasar itu sendiri. Kapitalisme modern memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap bahkan kritik terhadap dirinya lalu menjualnya kembali sebagai komoditas baru. Spiritualitas dijadikan industri. Kesederhanaan dijadikan gaya hidup premium. Meditasi dijual lewat aplikasi berlangganan. Bahkan anti-konsumerisme pun bisa berubah menjadi identitas konsumsi.

 

Tak ada yang lebih lihai daripada pasar dalam mengubah perlawanan menjadi produk.

 

Mungkin karena itu suasana di sekitar Ka’bah hari ini terasa begitu surealis. Di satu sisi manusia mencari pengalaman spiritual tertinggi. Di sisi lain kapitalisme global berdiri tegak di atasnya dengan hotel, mall, dan kemewahan yang luar biasa. Jutaan orang thawaf mengelilingi simbol pelepasan dunia sambil tetap berada dalam orbit ekonomi modern yang sangat materialistis.

 

Tetapi mungkin memang manusia tak pernah benar-benar bisa keluar dari pasar.

 

Ali Shariati pernah membaca kisah Qabil dan Habil bukan sekadar sebagai tragedi moral pertama manusia, tetapi juga sebagai konflik ekonomi pertama. Habil, sang penggembala, mewakili dunia pastoral yang cair dan berbagi. Qabil mewakili pertanian menetap, kepemilikan tanah, akumulasi, dan lahirnya konsep “milikku.” Dalam pembacaan Shariati, pembunuhan pertama manusia lahir bersamaan dengan lahirnya kepemilikan.

 

Bila tafsir itu benar, maka sejarah manusia bisa dibaca sebagai kemenangan panjang Qabil.

 

Kota-kota besar dibangun oleh logika akumulasi. Negara berkembang lewat ekspansi produksi. Teknologi mempercepat konsumsi. Bahkan identitas pribadi hari ini sering dibentuk oleh kemampuan membeli dan mempertontonkan sesuatu. Manusia modern bukan hanya mengonsumsi barang; ia mengonsumsi citra dirinya sendiri.

 

Dan di tengah semua itu, Idul Adha muncul setiap tahun seperti semacam gangguan kecil terhadap logika peradaban tersebut.Ia mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tak bisa diselesaikan hanya dengan kepemilikan. Bahwa mungkin inti manusia bukan terletak pada apa yang berhasil ia kumpulkan, tetapi pada apa yang sanggup ia lepaskan.

 

Tentu saja ritual ini tidak otomatis mengubah manusia menjadi asketis. Besok pasar akan buka lagi. Diskon akan datang lagi. Algoritma akan kembali membuat manusia merasa kurang menarik dibanding orang lain. Tidak ada revolusi spiritual besar yang tiba-tiba terjadi setelah darah kurban mengering.

 

Namun mungkin memang bukan itu fungsi ritual.

 

Ritual tak selalu hadir untuk menyelesaikan kontradiksi manusia. Kadang ia hadir untuk mengingatkan bahwa kontradiksi itu ada. Bahwa di balik seluruh mesin ekonomi, ambisi, konsumsi, dan perlombaan status, manusia diam-diam tetap menyimpan kerinduan terhadap sesuatu yang lebih tenang daripada akumulasi tanpa akhir.

 

Mungkin karena itulah kisah Ibrahim harus bertahan ribuan tahun. Karena ia berbicara tentang sesuatu yang sangat sulit diterima manusia modern: bahwa hidup tak selalu tentang memperbesar diri.

 

Dalam dunia yang terus bertanya “apa lagi yang bisa kau miliki?”, Ibrahim justru menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: “apa yang sanggup kau lepaskan?”

 

Dan mungkin di situlah letak daya ledak spiritual Idul Adha yang sebenarnya.

 

Bukan pada darahnya. Bukan pada sapinya. Bukan pada romantisme ritualnya.

 

Melainkan pada kemungkinan bahwa manusia, barang sejenak, berhenti percaya bahwa dirinya adalah pusat dari segala sesuatu.

 

Itulah gagasan yang selalu berusaha ditenangkan oleh pasar. Karena pasar hidup dari ego yang terus lapar. Sementara pengorbanan, dalam makna paling dalam, adalah usaha untuk membuat ego itu akhirnya diam.

 

Saya jadi berpikir kegiatan sirkumnavigasi ka’abah, yang tahun ini yang dilakukan oleh lebih dari 1,5 juta jemaah haji dari segala warna dan kebangsaan, mampu atau akan bisa mampu memuat makna yang melawan arus narasi pasar dan hasrat manusia serta ego nya.

 

 
 
 

Recent Posts

See All
Tentang Bola, Bangsa dan Musuh Bersama

Esai Seputar Piala Dunia FIFA 2026 Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina di final. Bagi penggemar sepak bola, cerita malam itu mungkin selesai pada statistik pen

 
 
 

Comments


bottom of page