top of page
logo-putih.png

Semacam Gerilya Untuk Menjaga Kota Tetap Kreatif

  • May 15
  • 6 min read

Esai pengantar menonton podcast  dengan Tita Larasati.



Distrik Utara mengundang Tita Larasati untuk ngobrol soal perjalanannya mengelola daya kreatif Bandung. Dan isi obrolannya penting tak hanya untuk orang Bandung. Let me explain.

Kita bukan bangsa paling konsisten sedunia. Atau paling disiplin. Mungkin karena kita terlalu terbuka, maka kita jadi terlalu beragam, terlalu amalgam, terlalu komposit, terlalu sintetik untuk bisa bergerak dengan ritme yang seragam. Tapi justru segala keterlaluan akibat keragaman itu menciptakan prakondisi subur bagi sesuatu yang lain, yakni iklim kreatif.

Kita memang bangsa kreatif. Tak usah lihat data yang sulit dibaca, cukup marathon ngopi sepanjang weekend di kota seperti Jogja dan Bandung dan Anda akan dikepung oleh ribuan ide liar yang termanifestasikan dalam puluhan konsep resto, brand T-shirt, event musik, arsitektur, komunitas hobi, merchandise dan oleh-oleh, hingga seni jalanan yang kadang lebih jujur membaca denyut kota dibanding pidato resmi pejabat daerah.

Tapi mohon izin untuk agak tak sopan dan langsung tembak tanya: lalu apa? Apa artinya kreativitas sensorik seperti ini bagi duit warga? Bagi uang jajan, kepul dapur, rasa aman, dan kualitas hidup sehari-hari?

Negara, katanya, mulai mengukur perkara “kita bangsa kreatif” ini secara serius. Ekonomi kreatif Indonesia hari ini menyerap lebih dari 26 juta tenaga kerja dan menyumbang lebih dari Rp1.500 triliun terhadap PDB nasional. Angka itu terus tumbuh dalam satu dekade terakhir. Namun yang lebih menarik dari statistik itu adalah asal-usul kreativitas Indonesia sendiri. Ia sering lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari keterbatasan. Kita bangsa yang terbiasa mengakali keadaan. Warung semi permanen dari seng sisa proyek, speaker hajatan hasil rakitan kombinasi komponen absurd tapi bekerja sempurna, pedagang kaki lima yang memahami psikologi pedestrian lebih baik daripada sebagian urban planner, sampai anak-anak distro Bandung era 2000-an yang tanpa sadar membangun industri fashion independen nasional hanya karena mereka bosan memakai desain generik dari mal.

Masalahnya, kreativitas mentah tak otomatis berubah menjadi kesejahteraan. Kadang ia berhenti sebagai atmosfer. Sebagai vibe. Sebagai identitas yang enak dipakai kota untuk terlihat menarik. Padahal yang lebih sulit justru menerjemahkan kreativitas menjadi sistem yang membuat orang bisa hidup lebih layak.

Di titik itulah obrolan bersama mbak Tita Larasati jadi sangat relevan.

Kali ini saya bukan host, duduk menyimak di belakang kamera, sedang pemulihan cedera patah hati. Jadi saya hanya memperhatikan Jawot dan Indra memancing ilmu dari mbak Tita dengan jurus khas mereka, cerdas berwawasan sembari di lumuri jokes bapak-bapak. Saya sendiri lebih banyak duduk sambil sesekali berusaha bertahan dari banjir singkatan yang beterbangan di ruangan itu. BCCF. ICCF. UNESCO. GCCN. Saya merasa seperti mahasiswa baru yang nyasar masuk rapat kementerian sambil belum sempat baca glosarium.

Dan mungkin di situlah saya sedikit terkejut.

Entah karena saya terlalu lama membayangkan dosen desain sebagai sosok yang bicara soal bentuk, warna, material, atau estetika visual, sementara mbak Tita malam itu justru terdengar seperti organisator ulung. Seperti strategist. Budaya dalam cara beliau bicara terasa sebagai negosiasi terus-menerus. Negosiasi antara komunitas dan negara, antara warga dan pasar, antara idealisme dan anggaran, antara kreativitas dan birokrasi.

Awalnya saya agak bingung. Bahkan mungkin sedikit kecewa secara egois. Saya datang dengan ekspektasi akan mendengar romantisme desain, tapi yang muncul justru percakapan tentang ekosistem, jejaring, kolaborasi lintas sektor, indeks pertumbuhan, sampai diplomasi budaya internasional.

Tapi makin lama saya mendengarkan, makin terasa bahwa mungkin memang itulah bentuk desain yang ia kerjakan. Bukan desain objek semata, melainkan desain strategi. Mendesain kondisi agar kreativitas bisa hidup lebih lama daripada umur satu festival atau satu wali kota.

Meski begitu, sisi artistiknya tetap bocor di sela-sela percakapan. Mbak Tita datang memakai jaket biking jingga terang yang secara visual terlalu percaya diri untuk diabaikan. Somewhere dalam obrolan juga terungkap bahwa ia membuat jurnal ilustrasi dan memang seorang ilustrator. Jadi naluri visual itu tetap ada. Hanya saja malam itu ia lebih banyak bicara sebagai seseorang yang sudah terlalu lama berkutat dengan realitas bagaimana ide harus bertahan hidup di dunia nyata.

Dan dunia nyata ternyata sangat administratif.

Tita Larasati dikenal sebagai salah satu pendiri Bandung Creative City Forum atau BCCF, organisasi yang selama hampir dua dekade ikut membentuk cara Bandung memahami dirinya sendiri sebagai “kota kreatif”. Tapi yang menarik dari BCCF justru fakta bahwa ia lahir bukan dari proyek negara yang turun dari atas dalam bentuk seminar hotel dan dokumen PDF, melainkan dari komunitas. Dari tongkrongan, gigs musik, studio desain, kampus, kolektif seni, pejalan kaki urban, dan orang-orang yang merasa kota mereka terlalu menarik untuk diserahkan sepenuhnya pada developer dan birokrasi.

Yang mereka lakukan waktu itu sebenarnya sederhana tapi pelik, yaitu mencoba menghimpun energi kreatif yang tadinya sporadik menjadi kolaboratif.

Karena ide di Bandung tak pernah benar-benar kurang. Yang sering absen justru infrastruktur sosial agar ide-ide itu bisa saling bertemu dan memperbesar dampak satu sama lain. Komunitas musik jalan sendiri. Desainer jalan sendiri. Pengrajin jalan sendiri. Aktivis kota jalan sendiri. Dan BCCF mencoba menjadi semacam meja makan besar tempat semua orang itu bisa duduk bersama, meski mungkin akhirnya tetap debat dan rebutan colokan listrik.

Bandung sendiri memang kasus yang unik. Kota ini seperti punya kemampuan aneh untuk terus memproduksi kultur urban yang menyebar ke seluruh Indonesia. Musik independen, distro, desain grafis, komunitas kreatif, sampai cara membuka coffee shop, semuanya terasa pernah melewati Bandung dulu sebelum menjadi tren nasional. Kadang Bandung terasa terlalu sadar bahwa dirinya kreatif. Sedikit narsistik mungkin. Sedikit terlalu menikmati reputasi sendiri. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang memang bekerja di kota ini.

Namun poin menarik dari mbak Tita justru bahwa tak semua daerah harus seperti Bandung.

Dan ini penting.

Karena sering kali kita bicara ekonomi kreatif seolah semua kota harus punya coffee shop artsy, festival mural, pasar kreatif, dan anak muda berkaus hitam yang nongkrong sambil bikin zine. Padahal tiap daerah punya kekuatan berbeda. Ada daerah yang basis kekuatannya manufaktur. Ada yang pertanian. Ada yang perkebunan. Ada yang jasa. Ada yang logistik. Maka strategi kreatifnya pun tak bisa disalin mentah-mentah.

Di titik itu saya langsung teringat Jatiwangi.

Bagaimana daerah yang dulu mungkin dianggap biasa saja itu perlahan membangun identitasnya melalui terakota. Tanah liat bukan dianggap sekadar bahan bangunan murah, tapi diterjemahkan menjadi karakter budaya, medium seni, bahkan cara membaca daerah itu sendiri. Kreativitas di sana tak muncul dengan cara meniru Bandung menjadi lebih hipster. Ia tumbuh dari material dan sejarah lokalnya sendiri.

Dan mungkin memang itu inti sebenarnya. Kreativitas daerah bukan soal menjadi seragam kreatif, melainkan menemukan cara khas untuk membaca potensi sendiri.

Dalam obrolan kami, Helarfest beberapa kali muncul sebagai contoh bagaimana kreativitas diterjemahkan menjadi praktik sosial. Festival itu dulu terasa setengah chaos tapi justru karena itu hidup. Ruang kota terasa cair. Orang dari latar berbeda bertemu tanpa terlalu banyak protokoler. Bandung saat itu seperti sedang bereksperimen dengan dirinya sendiri.

Tapi tentu saya tetap menyimpan skeptisisme khas warga negara yang terlalu lama hidup di Indonesia.

Karena saya tahu jargon kreatif juga bisa jadi alat marketing baru. Kota mulai bicara soal “creative hub” tapi ruang hidup warga makin mahal. Komunitas dipuji selama bisa menaikkan citra kota, lalu dilupakan ketika tak lagi seksi secara ekonomi. Kreativitas dirayakan selama bisa dijual.

Dan justru karena itulah saya mulai menghargai cara mbak Tita bicara. Ia tak terdengar sedang menjual utopia. Yang terdengar justru seseorang yang paham bahwa menjaga ekosistem kreatif itu pekerjaan melelahkan. Banyak negosiasi. Banyak kompromi. Banyak administrasi. Banyak rapat yang mungkin membunuh jiwa jika tak diselingi kopi dan humor.

Ia juga menjelaskan bagaimana ekonomi kreatif hari ini memang sedang menjadi perhatian serius secara global, terutama di Global South, termasuk Indonesia. Di forum-forum UNESCO maupun jaringan ekonomi kreatif internasional, mulai muncul kesadaran bahwa kreativitas negara-negara Selatan punya karakter berbeda dengan Eropa atau Amerika Utara.

Kreativitas kita tumbuh dari improvisasi sosial. Dari kepadatan. Dari keterbatasan. Dari budaya gotong royong sekaligus budaya “yaudah kita akalin aja”. Dan itu tak bisa dipetakan memakai template negara industri maju begitu saja.

Mbak Tita sendiri terlibat dalam Global Creative Economy Council, sehingga perspektifnya memang bergerak lintas kota dan lintas negara. Tapi menariknya, semakin global pembahasannya, semakin terasa bahwa yang dipertaruhkan justru hal-hal lokal dan sangat sehari-hari. Apakah warga bisa hidup dari kreativitasnya. Apakah komunitas punya ruang tumbuh. Apakah kota masih memberi ruang eksperimen.

Dan saya rasa di situlah obrolan ini jadi penting bahkan untuk orang yang mungkin tak peduli desain atau festival seni.

Karena pada akhirnya pembicaraan ini bukan cuma soal kreativitas. Tapi soal bagaimana manusia mempertahankan martabat dan penghidupan di tengah ekonomi modern yang makin seragam.

Mungkin itu sebabnya saya menikmati posisi sebagai penonton kali ini. Duduk sambil mendengarkan Jawot dan Indra melempar pertanyaan, memperhatikan mbak Tita merespons dengan campuran idealisme dan pragmatisme organisator, lalu sesekali merasa puyeng sendiri oleh singkatan-singkatan internasional yang beterbangan seperti Pokémon evolusi tingkat akhir.

Tapi di balik semua itu saya menangkap sesuatu yang cukup sederhana. Bahwa menjaga kota tetap kreatif ternyata bukan kerja romantik semata. Ia lebih mirip gerilya panjang. Sedikit seni, sedikit diplomasi, sedikit manajemen krisis, sedikit akrobat birokrasi.

Dan mungkin memang itu bentuk kreativitas paling dewasa. Bukan sekadar melahirkan ide liar, tapi memastikan ide itu cukup tahan banting untuk hidup di dunia nyata.

Sisanya, ya silakan tonton sendiri obrolannya. Karena terus terang, mbak Tita menjelaskan semuanya jauh lebih jernih daripada saya yang setengah waktu sibuk mencoba mengingat kepanjangan singkatan-singkatan tadi

 

 
 
 

Comments


bottom of page