top of page
logo-putih.png

Petualangan Geografi ala Junghuhn

  • Mar 25
  • 4 min read

Bentang Alam, Ingatan Bumi, dan Percakapan yang Mengajak Kita Membaca TanahEsai Pengantar Podcast Bersama Malik Arr Rahiem

Oleh Priyo Utomo Laksono


Was ist das Schwerste von allem? Was dir das Leichteste dünket:Mit den Augen zu sehn, was vor den Augen dir liegt.”— Johann Wolfgang von Goethe, dalam Xenien

Apa yang paling sulit dari semuanya?Apa yang tampak paling mudah:melihat dengan mata kita sendiriapa yang sebenarnya sudah berada tepat di depan mata.



Ada sesuatu yang terasa sangat Junghuhn dalam kutipan Goethe itu.

Franz Wilhelm Junghuhn datang ke Nusantara pada abad ke-19 dan melakukan sesuatu yang hari ini terdengar sederhana: ia berjalan. Banyak berjalan. Ia mendaki gunung-gunung Jawa, meneliti vegetasi, mencatat gunung api, mengamati ketinggian, suhu, dan tanah.

Ia  melakukan sesuatu yang pada dasarnya sangat elementer bagi seorang ilmuwan—mengamati.

Namun pengamatan Junghuhn memiliki satu kualitas yang jarang dimiliki oleh orang modern: kesabaran.

Ia membaca lanskap seperti seseorang membaca buku yang sangat tebal. Setiap gunung adalah bab. Setiap lereng adalah catatan kaki. Setiap perubahan vegetasi adalah petunjuk tentang hubungan antara tanah, iklim, dan kehidupan manusia.

Dari perjalanan-perjalanan itu lahir salah satu gagasan penting dalam ilmu bumi tropis: bahwa ketinggian, iklim, dan vegetasi saling terhubung dalam pola yang bisa dipahami.

Junghuhn memandang geografi bukan sebagai latar belakang kehidupan manusia, melainkan sebagai sistem yang membentuk kehidupan itu sendiri.

Gunung menentukan iklim.Iklim menentukan vegetasi.Vegetasi menentukan ekonomi dan pola permukiman.

Pendek kata, bentang alam bukan latar belakang. Ia adalah kerangka.



Lebih dari satu abad kemudian, di sebuah ruangan kecil di Bandung, nama Junghuhn kembali muncul dalam percakapan santai sebuah podcast Distrik Utara.

Di sana, Indra Hidayat dan Asih (Prasanti W. Sarli, narasumber podcast sebelumnya) berbincang dengan Muhammad Malik Ar-Rahiem—yang latar belakangnya geologi—menceritakan sesuatu yang sebenarnya sudah lama berada di depan mata warga Bandung: kota ini berdiri di atas bekas danau.

Bandung, dalam pengertian geologi, adalah cekungan besar yang terbentuk setelah letusan Gunung Sunda purba. Letusan itu menghasilkan kaldera raksasa yang kemudian terisi air dan menjadi Danau Bandung purba.

Lapisan tanah yang hari ini menopang rumah, jalan, dan gedung-gedung kota sebagian besar merupakan sedimen dari danau itu.

Bagi seorang geolog, fakta ini adalah fondasi untuk memahami karakter wilayah: kualitas air tanah, kestabilan tanah, hingga cara fondasi bangunan harus dirancang.

Namun bagi sebagian besar warga kota, hal ini hampir tak pernah menjadi bagian dari kesadaran sehari-hari.

Kita hidup di atas lanskap yang sangat dramatis tanpa pernah benar-benar membaca dramanya.



Malik juga menyinggung sesuatu yang menarik: hubungan antara geologi dan cerita rakyat.

Legenda Sangkuriang sering dianggap sekadar dongeng. Seorang pemuda membendung sungai, membuat danau dalam satu malam, lalu menendang perahu yang berubah menjadi Gunung Tangkuban Parahu.

Namun jika dilihat dari sudut pandang geologi, kisah itu memiliki resonansi dengan sejarah lanskap Bandung.

Ada sungai yang terbendung. Ada danau yang terbentuk. Ada gunung yang muncul.

Tentu saja legenda bukan laporan ilmiah. Tapi ia mungkin merupakan cara masyarakat lama merekam pengalaman lanskap.

Pengetahuan tentang bumi tidak selalu ditulis dalam jurnal akademik. Kadang ia disimpan dalam cerita.

Folklor menjadi arsip.



Percakapan itu juga menyentuh sesuatu yang terasa sangat kontemporer: paradoks antara pengetahuan dan kerusakan lingkungan.

Kita hidup di kota yang penuh dengan ahli—ahli geologi, ahli lingkungan, ahli tata ruang.

Namun kerusakan lingkungan tetap terjadi.

Kota melebar ke daerah yang dulu merupakan sawah atau rawa. Sungai diperlakukan seperti halaman belakang bangunan. Nama-nama tempat yang dulu mungkin menyimpan petunjuk tentang karakter lanskap perlahan diganti atau dilupakan.

Ingatan kolektif tentang ruang memudar.

Padahal dalam banyak kasus, nama tempat atau cerita lokal justru menyimpan informasi penting tentang kondisi alam.

 

Malik bercerita tentang hobinya membaca arsip lama—catatan ilmuwan Belanda abad ke-19 yang mendokumentasikan geologi Jawa. Juhuhn tentunya paling menonjol (Malik bahkan menulis buku tentang Junghuhn).

Junghuhn bukan sekadar tokoh sejarah ilmu pengetahuan. Ia adalah bagian dari memori panjang tentang bagaimana lanskap Nusantara pernah diamati dengan sangat teliti.

Ia berjalan di Jawa ketika wilayah tertentu masih belum dipetakan secara ilmiah. Ia mencatat hubungan antara ketinggian dan vegetasi, antara iklim dan kesuburan tanah.

Hari ini, banyak dari pengamatan itu masih relevan.

Bukan karena dunia tak berubah, tetapi karena prinsip dasar lanskap tetap sama.

Gunung masih memengaruhi cuaca.Tanah masih menentukan jenis tanaman yang bisa tumbuh.Air masih mengikuti gravitasi.

Bumi bekerja dengan logika yang jauh lebih tua dari kota-kota kita.

***

Saya sendiri yang hanya menyimak obrolan itu dari jauh, mungkin tak terlalu akrab dengan perjalanan gunung. Sebagian besar hidup saya dihabiskan di laut, bukan di pegunungan.

Saya mendayung kayak, mengikuti garis pantai, dan kadang-kadang menatap pulau-pulau Indonesia yang muncul dari laut seperti punggung naga purba.

Namun tetap saja, semakin lama berada di lanskap Nusantara, semakin terasa bahwa geografi sebenarnya adalah cerita yang sangat panjang.

Pulau-pulau di negeri ini bukan kebetulan. Mereka lahir dari pertemuan lempeng tektonik, letusan gunung api, dan jutaan tahun proses geologi.

Kita hidup di atas sistem yang sangat kompleks.

Namun sering kali kita memperlakukannya seperti halaman kosong yang bisa diisi sesuka hati.

Junghuhn mungkin akan menganggap sikap itu aneh.

Baginya, memahami lanskap adalah langkah pertama sebelum manusia mencoba mengubahnya.

Ia mempelajari gunung sebelum menulis tentang pertanian. Ia memahami vegetasi sebelum berbicara tentang ekonomi wilayah.

Namun dalam dunia pembangunan modern yang bergerak cepat, kesabaran semacam itu sering terasa seperti kemewahan.

Kita membangun lebih cepat daripada kemampuan kita untuk membaca tanah.



Percakapan kecil di Distrik Utara tentang Junghuhn, geologi Bandung, dan bentang alam Nusantara mungkin tampak sederhana.

Namun ia mengingatkan sesuatu yang cukup mendasar.

Bahwa sebelum bicara tentang pembangunan, kita perlu belajar lagi membaca bumi.

Kadang cukup dengan melakukan sesuatu yang—seperti kata Goethe—ternyata sangat sulit:melihat dengan mata kita sendiriapa yang sebenarnya sudah berada tepat di depan mata

 
 
 

Comments


bottom of page