top of page
logo-putih.png

Kepekaan Sosial dan Estetika Berawal di Terminal Ledeng yang masih Eden

  • 5 days ago
  • 4 min read

Esai pengantar Podcast dengan Tisna Sanjaya

Oleh Priyo U. L.



Sulit move on dari cara Tisna Sanjaya menceritakan masa kecilnya.

Di awal rekaman podcast Distrik Utara—sebelum kami masuk ke Jeprut, sebelum Jawot mulai menelusuri praktik seni dan kritik sosialnya, sebelum saya sendiri sempat menyinggung Orde Baru dan bayangannya hari ini—Pak Tisna justru membawa kami ke Ledeng. Bukan Ledeng sebagai terminal di Kota Bandung yang kita kenal sekarang, tetapi Ledeng sebagai sesuatu yang, dalam tutur beliau, terasa lebih dekat ke Eden.

Sebuah pekarangan dengan mata air yang dijaga oleh ibunya. Air itu terbuka untuk siapa pun. Tetangga, orang lewat, siapa saja yang membutuhkan. Lalu, dalam satu gestur yang sederhana tapi sangat kuat, sang ibu memberi nama pada mata air itu—mengambil nama anak perempuannya. Di ruang kecil itu, air, nama, dan relasi sosial menyatu tanpa perlu penjelasan.

Di tempat yang sama, Entis kecil—yang kelak menjadi Tisna Sanjaya—mulai menggambar. Kadang di tempat yang tak semestinya: dinding tetangga, pagar, permukaan apa pun yang bisa menampung dorongan untuk mencipta. Respons yang datang bukan hukuman. Sang ibu hanya menyentuh bahunya dan berkata, “jangan khawatir Entis, nanti kita cat ulang seperti semula.”

Saya menyadari bahwa kisah ini bukan sekadar nostalgia masa kecil. Ia terasa seperti struktur awal dari cara seseorang memahami dunia.

Podcast kami tentu bergerak ke arah yang lebih “resmi”. Jawot, dengan ketekunan khasnya, masuk ke pembahasan tentang Jeprut—gerakan yang muncul di Bandung pada era 1980-an, yang menekankan ekspresi spontan, eksentrik, dan sering kali menjadi bentuk perlawanan terhadap kemapanan estetika maupun politik. Kami juga membahas bagaimana karya-karya Tisna sejak awal sudah mengandung kritik terhadap rezim Orde Baru, bahkan ketika ruang untuk kritik itu sangat terbatas.

Dalam perjalanan kariernya, Tisna memang tak pernah tinggal di ruang galeri yang steril. Dari pendidikan seni rupa di Bandung hingga studi lanjut di Jerman, ia terus membawa praktik seninya keluar ke ruang publik: ke lingkungan, ke komunitas, ke wilayah yang sering kali dianggap terlalu “kotor” atau terlalu “rumit” untuk seni. Melalui inisiatif seperti Imah Budaya di Cigondewah, atau berbagai aksi performans lingkungan, ia menunjukkan bahwa seni bukan sekadar representasi, melainkan keterlibatan langsung dalam kehidupan sosial.

Namun di tengah semua pembahasan itu—Jeprut, kritik sosial, aktivisme lingkungan—pikiran saya terus kembali ke Ledeng, Kota Bandung.

Karena di sana, sesuatu yang sering kita pisahkan tampak lahir dari sumber yang sama: kepekaan estetika dan kepekaan sosial.

Kita terbiasa memisahkan keduanya. Estetika dianggap wilayah rasa—subjektif, bebas, kadang bahkan dianggap mewah. Sementara keadilan atau kepekaan sosial ditempatkan sebagai wilayah etika—tegas, normatif, dan sering kali berat. Dalam banyak praktik hari ini, keduanya berjalan sendiri-sendiri. Ada karya yang indah tapi tak menyentuh realitas. Ada aktivisme yang benar secara moral, tapi kehilangan daya sentuh karena miskin kepekaan bentuk.

Dalam kisah Ledeng itu, pemisahan semacam ini tak terlihat.

Air yang dijaga itu indah karena ia mengalir, karena ia berada dalam harmoni dengan lingkungannya. Tapi ia juga adil karena ia dibagi, karena ia hadir dalam relasi dengan orang lain. Bahkan ketika Entis kecil melampaui batas dengan menggambar di tempat yang bukan miliknya, respons yang muncul bukan penolakan terhadap dorongan estetika, melainkan penataan ulang relasi agar ciptaan tetap mungkin tanpa merusak yang lain.

Di titik ini saya mulai melihat bahwa kepekaan estetika, dalam bentuk paling awalnya, mungkin adalah kepekaan terhadap relasi. Relasi antara diri dan orang lain, antara manusia dan ruang, antara ciptaan dan tanggung jawab.

Dan jika itu benar, maka menjadi masuk akal bahwa praktik seni Tisna selalu bergerak ke wilayah sosial. Ia tak berhenti pada bentuk. Ia masuk ke konteks. Ia membawa tubuhnya, materialnya, bahkan risikonya ke ruang-ruang di mana keindahan dan kerusakan hadir bersamaan.

Dalam kerangka ini, Jeprut menjadi lebih dari sekadar ekspresi liar. Ia adalah penolakan terhadap estetika yang terlalu steril—estetika yang rapi, tapi tak bersentuhan dengan kehidupan. Jeprut mengembalikan seni ke wilayah yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari: tubuh, komunitas, konflik.

Namun bergerak di wilayah ini bukan tanpa ketegangan. Seni yang terlalu dekat dengan realitas berisiko kehilangan bentuk. Sementara seni yang terlalu menjaga bentuk berisiko kehilangan relevansi. Banyak praktik jatuh di salah satu sisi. Yang menarik dari Tisna adalah upayanya untuk terus berada di antara keduanya.

Di sinilah latar belakang intelektual dan praktiknya menjadi penting. Pendidikan formalnya, pengalaman internasionalnya, serta keterlibatannya dalam berbagai gerakan seni dan komunitas memberi fondasi yang memungkinkan ia bergerak lintas wilayah—antara studio dan jalan, antara konsep dan tindakan.

Dan mungkin, semua itu kembali ke satu hal yang sangat sederhana: pengalaman awal tentang bagaimana dunia seharusnya terasa.

Saya mulai melihat Ledeng bukan sebagai kenangan, tetapi sebagai semacam “standar diam-diam”. Sebuah pengalaman awal tentang keselarasan—di mana keindahan dan keadilan tak terpisah—yang kemudian menjadi acuan, bahkan ketika dunia nyata jauh dari itu.

Dalam konteks ini, kritik Tisna terhadap kekuasaan—baik di masa lalu maupun yang ia lihat muncul kembali hari ini—menjadi lebih bisa dipahami. Ia bukan sekadar kritik terhadap struktur. Ia adalah respons terhadap ketidaksinkronan relasi. Terhadap dunia yang, dalam banyak hal, telah menjauh dari keselarasan yang pernah ia kenal.

Dan mungkin di situlah relevansi gagasannya tentang “seni sebagai doa”. Bukan dalam arti religius yang sempit, tetapi sebagai usaha terus-menerus untuk mengembalikan keseimbangan—antara manusia dan lingkungannya, antara ekspresi dan tanggung jawab.

Podcast ini, pada akhirnya, memang membicarakan banyak hal: Jeprut, sejarah seni rupa Bandung, kritik sosial, hingga praktik seni berbasis komunitas. Namun bagi saya, percakapan itu memiliki satu pusat yang lebih sunyi.

Sebuah halaman di Ledeng.

Sebuah mata air yang diberi nama.

Dan seorang ibu yang, tanpa banyak teori, menunjukkan bahwa dunia bisa diperbaiki tanpa mematikan dorongan untuk mencipta.

Mungkin dari situlah semua ini bermula.

Dan mungkin, secara diam-diam, itulah arah yang terus dicari.

 
 
 

Comments


bottom of page