Festival Kuliner yang Bandung Bangeet
Pengantar Podcast bersama Meizan “Ican” Natadiningrat

Pada suatu malam setelah buka puasa ketika gula dari es campur, gorengan, dan mungkin kopi manis yang sedikit terlalu optimistis mulai bekerja diam-diam di aliran darah—kami bertiga duduk mengelilingi meja rekaman dengan niat awal yang sebenarnya cukup terhormat, yaitu membicarakan festival kuliner, pembangunan daerah, dan identitas kota, tetapi seperti banyak percakapan yang dimulai dengan niat baik dan kadar gula yang agak tinggi, pembicaraan itu segera mengambil jalan yang lebih liar: dari festival Keuken Bandung yang katanya “Bandung banget”, ke pertanyaan filosofis tentang apa sebenarnya arti “Bandung banget”, lalu—dengan kecepatan yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh logika diskusi publik—ke kelakar soal kejombloan Ican, yang dengan ketenangan seseorang yang tampaknya sudah berdamai dengan hidupnya menerima semua komentar kami, termasuk beberapa yang bahkan sempat melibatkan kru di belakang layar, karena pada titik tertentu kami memang berhenti berpura-pura bahwa ini adalah podcast yang tertib dan memilih saja untuk mengakui bahwa percakapan yang baik kadang memang perlu kekacauan. Atau mungkin saya saja yang neurotik—yang, jika mengikuti Gilles Deleuze, justru adalah kondisi yang produktif untuk berpikir secara non-linear.
Di meja itu ada saya sebagai host, Jawot—yang dalam episode sebelumnya justru duduk di kursi narasumber ketika kami membicarakan pariwisata—dan Ican, yang dikenal sebagai salah satu penggerak di balik Keuken Bandung, sebuah festival kuliner yang dalam dekade terakhir berkembang menjadi salah satu perayaan makanan yang cukup idealis di kota ini.
Namun seperti banyak hal yang tampak sederhana dari luar, Keuken sebenarnya menarik karena alasan yang lebih besar dari sekadar makanan—dan di titik inilah saya mulai merasa perlu sedikit curiga.
Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan festival kuliner di berbagai kota berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat orang makan enak di akhir pekan. Ia mulai berfungsi sebagai ruang temu antara budaya, ekonomi kreatif, dan partisipasi warga dalam merayakan—bahkan merumuskan—identitas daerah mereka sendiri.
Festival kuliner menjadi semacam panggung sosial. Di sana orang tidak hanya datang untuk membeli makanan, tetapi juga untuk merasakan atmosfer kota: siapa yang memasak, dari mana resepnya datang, bagaimana sebuah makanan bisa menjadi bagian dari cerita yang lebih besar tentang tempat.
Bandung, tentu saja, selalu memiliki hubungan yang agak istimewa dengan eksperimen semacam ini.
Kota ini sejak lama tampak nyaman dengan ide-ide yang sedikit nyeleneh. Ada semacam kecenderungan kolektif untuk mencoba hal baru tanpa terlalu khawatir apakah semuanya sudah rapi secara konseptual. Kadang berhasil dengan indah, kadang juga hanya menjadi anekdot yang menyenangkan untuk diceritakan ulang.
Keuken lahir dari atmosfer semacam itu.
Namun justru karena itu, pertanyaan kritisnya menjadi tak terhindarkan:
apakah “Bandung banget” ini benar-benar sebuah model yang bisa menular—atau hanya sebuah estetika yang terasa memuaskan bagi dirinya sendiri?
Karena dalam banyak kasus global, kita melihat fenomena serupa. Kota-kota seperti Berlin, Portland, atau bahkan sebagian kawasan di Tokyo pernah mengalami fase di mana mereka menjadi sangat “self-aware” terhadap identitas kreatifnya—begitu sadar diri, begitu nyaman dengan eksperimentasi internal—hingga perlahan berhenti berkomunikasi dengan dunia luar.
Mereka menjadi keren…
tapi hanya untuk dirinya sendiri.
Dalam istilah yang lebih filosofis, mungkin ini yang bisa kita sebut sebagai jebakan “lokalitas yang narsistik”: ketika sebuah kota terlalu sibuk merayakan keunikannya sendiri, hingga kehilangan daya tularnya.
Dan di titik ini, saya mulai bertanya—dengan sedikit rasa tidak nyaman—apakah Bandung sedang bergerak ke arah sana?
Karena dalam praktiknya, Keuken memang berhasil menciptakan ruang yang menarik. Ia tidak sekadar menampilkan makanan sebagai komoditas. Ia menghadirkan cerita: tentang dapur kecil di rumah seseorang, tentang resep keluarga yang diwariskan turun-temurun, tentang bagaimana sebuah kota sebenarnya hidup melalui makanan yang dimasak dan dimakan oleh warganya.
Tenant yang hadir tidak selalu berasal dari restoran besar atau industri kuliner mapan. Banyak justru datang dari usaha rumahan, dari komunitas kecil, dari orang-orang yang mungkin sebelumnya hanya memasak untuk tetangga atau teman.
Dalam ruang seperti ini, makanan menjadi lebih dari sekadar produk. Ia menjadi narasi.
Dan narasi itu sering kali jauh lebih jujur daripada slogan pembangunan yang terlalu rapi.
Namun narasi, seperti diingatkan oleh Jean Baudrillard, juga bisa menjadi simulasi—sesuatu yang terasa nyata, tetapi sebenarnya hanya berputar dalam sistem representasi itu sendiri.
Apakah Keuken—dan secara lebih luas, Bandung—masih bergerak sebagai praktik budaya yang hidup?
Atau mulai menjadi simulasi dari dirinya sendiri?
Pertanyaan ini tidak dimaksudkan sebagai kritik destruktif. Justru sebaliknya—ia muncul dari kekhawatiran bahwa energi kreatif Bandung yang luar biasa ini berpotensi terjebak dalam lingkarannya sendiri.
Karena jika Bandung bisa memiliki sesuatu yang disebut “Bandung banget”, maka tantangan sebenarnya bukan hanya merayakannya, tetapi memastikan bahwa ia tetap relevan di luar dirinya sendiri.
Bahwa ia bisa dibaca, diadaptasi, bahkan ditantang oleh kota lain.
Mengapa tidak ada “Pontianak banget”?
Atau “Makassar banget”?
Atau “Padang banget”?
Bukan untuk meniru Bandung, tentu saja. Tetapi untuk menunjukkan bahwa identitas lokal bukan monopoli satu kota.
Di sinilah festival kuliner menjadi menarik dari sudut pandang pembangunan regional.
Selama ini pembangunan sering dipahami sebagai proses teknokratis: perencanaan, anggaran, infrastruktur, dan statistik ekonomi. Semua hal yang penting, tetapi sering terasa jauh dari pengalaman sehari-hari warga.
Festival kuliner memperlihatkan kemungkinan yang berbeda.
Ia menunjukkan bahwa pembangunan juga bisa muncul dari praktik kultural yang hidup—dari cara orang memasak, makan, dan berbagi cerita tentang makanan.
Dalam ruang seperti Keuken, dapur-dapur kecil bisa berdiri berdampingan dengan pelaku industri besar. Resep keluarga bisa memiliki panggung yang sama dengan brand komersial.
Proses ini menciptakan semacam melting pot yang menarik.
Namun melting pot, jika tidak hati-hati, juga bisa menjadi ruang yang hanya mencampur—tanpa benar-benar mentransformasikan.
Dan di situlah tantangan berikutnya.
Apakah festival seperti ini hanya menjadi perayaan?
Atau benar-benar menjadi mekanisme perubahan?
Podcast Distrik Utara yang kami rekam malam itu mungkin tidak memberikan jawaban yang rapi.
Justru sebaliknya.
Ia bergerak dari candaan ke refleksi, lalu kembali lagi ke candaan—seperti banyak percakapan yang jujur.
Dan mungkin, justru dalam ketidakteraturan itu, kita mulai melihat sesuatu yang lebih penting daripada kesimpulan:
bahwa identitas kota bukan sesuatu yang selesai.
Ia selalu dalam proses.
Dan mungkin pertanyaan yang paling jujur bukan lagi:
“apa itu Bandung banget?”
Melainkan:
apakah kita cukup berani untuk memastikan bahwa ia tidak berhenti…
menjadi hanya Bandung untuk dirinya sendiri.



Comments