top of page
logo-putih.png

Indonesia & Rekayasa Genetika

3 days ago
7 min read

Esai Recap Podcast bersama Pramesti “Ichi” Istiandari

oleh: Priyo U. Laksono


Pada Podcast Distrik Utara kali ini kami kedatangan seorang akademisi dan peneliti muda yang bergerak di garda depan bioteknologi tanaman Indonesia: Pramesti Istiandari, Ph.D., atau yang akrab disapa Ichi. Obrolan kami mengalir dari hal mendasar yang sering kali diselimuti miskonsepsi publik, yaitu terminologi "rekayasa genetika". Mendengar frasa ini, bayangan awam kerap kali langsung tertuju pada tabung reaksi, jas laboratorium putih, dan mutasi ekstrem layaknya film fiksi ilmiah. Namun, Ichi mengkoreksi persepsi tersebut di awal diskusi kami.


"Rekayasa genetika itu sebenarnya berusia jauh lebih tua daripada laboratorium modern mana pun di dunia," ujar Ichi membuka narasi. Ia memperjelas bahwa esensi dari rekayasa genetika adalah manipulasi sengaja terhadap materi genetik suatu organisme untuk menghasilkan sifat yang diinginkan. Ketika peradaban manusia pertama kali memutuskan untuk menetap, beralih dari fase berburu-meramu menuju budaya agrikultur (bercocok tanam) serta mulai beternak, di sanalah benih-benih modifikasi genetika pertama disemai.

Secara historis, apa yang dilakukan nenek moyang kita ribuan tahun lalu adalah bentuk artificial selection atau seleksi buatan. Sebagai contoh data historis, jagung modern (Zea mays) yang kita konsumsi hari ini adalah hasil modifikasi genetik konvensional selama hampir 9.000 tahun dari rumput liar Meksiko yang disebut teosinte. Nenek moyang petani memilih biji yang paling besar dan empuk, menanamnya kembali, hingga merubah struktur genetik asli tanaman tersebut secara drastis. Begitu pula dalam dunia peternakan; proses domestikasi serigala menjadi ratusan ras anjing peliharaan atau seleksi genetik pada sapi liar Aurochs menjadi sapi perah modern adalah bukti konkret. Rekayasa genetika pra-laboratorium telah berjalan ribuan tahun menggunakan metode perkawinan silang dan seleksi alamiah yang dipandu oleh kebutuhan bertahan hidup manusia.


Satu poin filosofis sekaligus biologis yang menarik dari penjelasan Ichi malam itu adalah penegasannya mengenai subjek yang melakukan rekayasa ini. Manusia, menurutnya, adalah satu-satunya hewan yang dapat melakukan rekayasa genetika dengan unsur kesengajaan, kesadaran penuh, dan tujuan yang terukur. Jika kita berbicara tentang perpindahan atau modifikasi genetik yang tak sengaja, alam semesta menyediakannya secara acak. Burung yang memakan biji-bijian kemudian menjatuhkan kotorannya di wilayah baru, membantu penyerbukan silang antar-varietas tanaman yang berbeda secara geografis, bisa dikategorikan sebagai agen "modifikasi genetika". Namun, hanya manusia yang dibekali kemampuan kognitif untuk merencanakan, memotong jalinan DNA secara spesifik, dan memprediksi hasil akhir demi kemaslahatan ekosistemnya.


Stigma, Kontroversi Global, dan Ancaman Kepunahan Genetika

Meskipun rekayasa genetika memiliki akar sejarah yang panjang, pergeserannya ke dalam ruang laboratorium modern memicu gelombang stigma dan polarisasi hebat di panggung internasional. Perdebatan mengenai Genetically Modified Organisms (GMO) atau Organisme Transgenik terus bergulir tanpa henti. Di satu sisi, negara-negara produsen utama seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina mengadopsi teknologi GMO secara masif. Berdasarkan data dari International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA), lahan tanaman bioteknologi global telah melampaui 190 juta hektar, di mana adopsi komoditas seperti kedelai, jagung, dan kapas transgenik berkontribusi besar dalam menekan harga pangan dunia dan mengurangi penggunaan pestisida kimia berlebih.

Namun, di sisi lain, benua Eropa memberlakukan regulasi yang sangat restriktif. Isu pro-kontra di berita internasional sering kali berkutat pada potensi risiko kesehatan jangka panjang yang belum terpetakan sepenuhnya, kekhawatiran akan monopoli benih oleh perusahaan multinasional raksasa, hingga resistensi gulma akibat paparan tanaman transgenik secara terus-menerus. Stigma bahwa produk hasil rekayasa genetika adalah "makanan Frankenstein" yang melawan kodrat alam masih tertanam kuat di sebagian benak masyarakat global.


Ada anekdot seru dalam obrolan dengan Ichi, ia mengungkapkan bahwa Uni Eropa, sebagai contoh, memberlakukan regulasi ketat yang melarang berbagai rekayasa genetika namun kenyataannya tetap menginmpor produk GMO dari negara lain.

Di tengah riuh pro-kontra pemanfaatan teknologi ini, dunia internasional sebenarnya sedang menghadapi krisis lain yang, secara harfiah, lebih mematikan: isu kepunahan genetika (genetic erosion atau genetic extinction). Ketika industri pertanian global mulai beralih hanya pada segelintir varietas unggul yang seragam secara genetik (monokultur), kita secara perlahan memusnahkan varietas-varietas lokal asli.


Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyebutkan bahwa bumi telah kehilangan sekitar 75% keanekaragaman genetika tanaman pertanian sepanjang abad ke-20 akibat peralihan ke pertanian modern berskala besar. Kepunahan genetika berarti hilangnya "buku resep rahasia" alam. Ketika suatu varietas tanaman punah, gen yang membawa sifat tahan kekeringan, kebal terhadap hama tertentu, atau kandungan nutrisi khusus akan hilang selamanya dari muka bumi, meninggalkan umat manusia dalam posisi yang sangat rentan jika terjadi pandemi penyakit tanaman global.


Ketahanan Pangan: Prioritas Utama Indonesia dan Anekdot Galapagos

Menanggapi dilema global tersebut, Ichi mengungkapkan arah kebijakan dan prioritas dukungan Indonesia dalam penelitian genetika saat ini. Bagi Indonesia, fokus utamanya bukan lagi sekadar mengikuti tren sains mutakhir demi prestise, melainkan didorong oleh kebutuhan mendesak: ketahanan pangan. Sebagai negara dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa yang terus bertumbuh, ditambah dengan ancaman nyata krisis iklim yang membuat cuaca tidak menentu, Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada metode pertanian konvensional yang statis.


Pemerintah Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta berbagai perguruan tinggi kedokteran dan pertanian, termasuk ITB tempat Ichi mengabdi, memprioritaskan pemuliaan tanaman berbasis molekuler untuk menciptakan varietas padi, jagung, dan kedelai yang tahan banjir, tahan kekeringan (drought-tolerant), serta adaptif terhadap salinitas (kadar garam) tinggi akibat naiknya permukaan air laut di wilayah pesisir. Kabar berita nasional juga kerap menyoroti bagaimana riset genetika lokal diarahkan untuk mengurangi ketergantungan impor pangan, seperti pengembangan varietas kedelai lokal unggul agar pengrajin tahu dan tempe tidak lagi terombang-ambing oleh fluktuasi harga komoditas global.


Untuk menggambarkan bagaimana genetika bekerja menemukan solusi di lingkungan ekstrem, Ichi membagikan sebuah anekdot menarik dari pengalamannya berkolaborasi dengan rekan peneliti di Ekuador. Mereka meneliti varietas tomat liar (Solanum pimpinellifolium) yang mampu tumbuh subur di atas tanah vulkanik kepulauan Galapagos yang gersang, miskin hara, dan terpapar kadar garam tinggi dari laut. Secara fisik, tomat liar ini berukuran kecil dan tidak menarik untuk dikonsumsi langsung. Namun, rahasia keajaibannya terletak di dalam untaian DNA-nya.


Dengan menganalisis profil genetik tomat Galapagos tersebut, para ilmuwan dapat mengidentifikasi gen spesifik yang bertanggung jawab atas toleransi luar biasa terhadap stres lingkungan. Gen inilah yang kemudian dapat "dipinjam" atau dijadikan cetak biru melalui rekayasa genetika untuk dimasukkan ke dalam varietas tomat komersial. Hasilnya? Petani di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia yang kaya akan wilayah vulkanik aktif, dapat menanam tomat di lahan-lahan marginal yang sebelumnya dianggap mustahil untuk ditanami.


Kedaulatan Sampel dan Eksploitasi Data Genetika

Diskusi di podcast Distrik Utara semakin mendalam saat kami menyentuh realitas geografis dan geopolitik Indonesia. Ichi mengingatkan kami semua tentang sebuah fakta krusial: Indonesia adalah salah satu kawasan dengan megabiodiversitas dan pusat sampel genetik terbesar di dunia, bersanding erat dengan hutan Amazon di Amerika Selatan. Mulai dari keanekaragaman mikroba, tanaman obat endemik, hingga satwa liar, Indonesia adalah tambang emas data genetika yang tak ternilai harganya.


Namun, di balik kekayaan itu tersimpan kerentanan yang masif. Ichi memaparkan paradoks di era digital biologi saat ini. Di satu sisi, mengambil sampel fisik genetika di lapangan, seperti selembar daun, setetes darah hewan, atau segenggam tanah kaya mikroba, adalah hal yang sangat mudah dan terkesan sepele. Siapa pun bisa memasukkannya ke dalam tabung kecil dan membawanya bepergian. Namun di sisi lain, data genetika yang tersimpan di dalam sampel tersebut hanya bisa dibaca, diterjemahkan, dan dimanfaatkan oleh negara-negara atau lembaga yang memiliki kapasitas teknologi pengurutan genom (genome sequencing) serta fasilitas bioinformatika yang memadai.


"Kita punya bahannya, tapi mesin pembacanya dan laboratorium canggihnya mayoritas berada di negara-negara maju," tutur Ichi. Jika sebuah sampel genetik tanaman obat asli hutan Kalimantan dibawa ke luar negeri tanpa pengawasan, diurutkan DNA-nya di sana, kemudian dipatenkan oleh perusahaan farmasi asing menjadi obat komersial, Indonesia tak akan mendapatkan apa-apa selain status sebagai penonton. Praktik ini dikenal sebagai biopiracy (pembajakan hayati).


Oleh karena itu, Ichi menekankan pentingnya regulasi ketat serta pengendalian keluar masuknya (material transfer agreement) sampel genetika di pintu-pintu perbatasan Indonesia. Penguatan protokol kedaulatan genetik nasional harus berjalan beriringan dengan peningkatan fasilitas laboratorium domestik agar kita tidak sekadar menjadi penyedia bahan mentah hayati bagi industri global.


Rekayasa Genetika sebagai Industri Global dan Ancaman Deforestasi

Jika melihat rekayasa genetika dari kacamata ekonomi, sektor ini bukan lagi sekadar subjek penelitian menara gading akademisi, melainkan telah menjelma menjadi industri global dengan perputaran uang yang fantastis. Pasar rekayasa genetika dunia diproyeksikan terus tumbuh pesat. Berdasarkan laporan riset pasar global, nilai pasar bioteknologi pertanian dan penyuntingan gen (gene editing) diperkirakan akan menembus angka ratusan miliar dolar AS pada akhir dekade ini. Industri ini tak hanya mencakup benih pertanian, tetapi juga merambah ke sektor manufaktur enzim industri, biofarmasi (seperti produksi insulin manusia menggunakan bakteri hasil rekayasa), hingga industri kecantikan berkelanjutan melalui produksi senyawa aktif tanaman lewat ragi heterolog.


Namun, potensi pertumbuhan ekonomi dan kelestarian data genetika ini berada di bawah bayang-bayang ancaman besar di dalam negeri kita sendiri: deforestasi dan kebakaran hutan. Selama ini, narasi seputar deforestasi di media massa arus utama hampir selalu berkutat pada isu hilangnya luasan hutan, emisi gas rumah kaca, polusi kabut asap, atau terusirnya satwa karismatik seperti orangutan dan harimau Sumatera.


Ada satu kerugian fatal yang luput dan hampir tidak pernah dibahas oleh publik maupun pengambil kebijakan, yaitu hilangnya data genetika yang belum sempat teridentifikasi. Hutan tropis Indonesia menyimpan jutaan spesies mikroba, jamur, dan tanaman yang bahkan belum memiliki nama ilmiah. Ketika satu hektar hutan primer terbakar habis atau dialihfungsikan secara ilegal, ribuan kode genetik unik yang telah berevolusi selama jutaan tahun ikut musnah menjadi abu dalam hitungan jam. Kita kehilangan obat kanker masa depan, kita kehilangan gen pelawan kelaparan, dan kita kehilangan pustaka biologi terbesar sebelum kita sempat membaca halaman pertamanya. Isu kebakaran hutan adalah isu kepunahan data informasi genetik nasional.


Masa Depan Riset dan Industri Rekayasa Genetika di Indonesia

Mengakhiri obrolan hangat kami di podcast Distrik Utara, Farenza 'Eja' Fadil melemparkan pertanyaan kunci yang mewakili kecemasan sekaligus rasa penasaran generasi muda Indonesia: Bagaimana sebenarnya prospek industri, karir, dan masa depan riset genetic engineering di dalam negeri? Apakah Indonesia siap menampung talenta-talenta di bidang ini?


Ichi memberikan jawaban yang sangat optimistis namun tetap berpijak pada realitas. Ia menegaskan bahwa bidang rekayasa genetika memiliki prospek yang besar di Indonesia. Dunia sedang berada di bawah tekanan konstan global warming dan ancaman krisis pangan makro. Menurut data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celsius saja dapat menurunkan hasil panen komoditas pangan utama dunia hingga 10-25%. Solusi konvensional tak akan mampu mengejar kecepatan kerusakan lingkungan ini. Di sinilah ilmuwan rekayasa genetika memegang peran kunci sebagai arsitek masa depan ekosistem kita.


Di Indonesia sendiri, ekosistem industri bioteknologi mulai tumbuh. Kebutuhan akan tenaga ahli yang menguasai teknik genetika molekuler, CRISPR/Cas9, dan bioinformatika tak hanya datang dari lembaga penelitian pemerintah, tetapi juga dari sektor swasta, mulai dari perusahaan benih nasional, industri pangan, korporasi farmasi, hingga perusahaan rintisan (startup) berbasis green biotechnology dan industri hilirisasi produk pertanian berkelanjutan.

Menjadi seorang genetic engineer di Indonesia bukan hanya tentang berkarir di jalur sains yang keren dan prestisius secara ekonomi. Lebih dari itu, ini adalah sebuah panggilan untuk menjaga, membaca, dan mengelola perpustakaan genetik terbesar di dunia yang dianugerahkan di tanah air kita. Melalui rekayasa genetika yang bijak, bertanggung jawab, dan berdaulat, Indonesia tak hanya akan mampu memberi makan warganya sendiri di tengah badai perubahan iklim, tetapi juga berpotensi menjadi mercusuar solusi hayati bagi ketahanan pangan global. Rekaman podcast berakhir, namun kesadaran baru tentang kedaulatan genetik Indonesia menjadi lebih jelas dari obrolan bersama Ichi. Meski ambisi saya sendiri untuk membahas rekayasa genetika dan kloning dalam ranah fiksi sains harus menunggu obrolan kami berikutnya.  

 

 
 
 

Comments


bottom of page