top of page
logo-putih.png

Toko Buku, Perpustakaan, dan Literasi

11 minutes ago
4 min read

Esai recap podcast Distrik Utara bersama Toko Buku Pelagia dan Perpustakaan Bunga Di Tembok.  Oleh: Priyo Utomo Laksono



Generasi Z hari ini kerap dituduh sebagai pembunuh literasi, kelompok pemuja konten video berdurasi belasan detik yang punya rentang atensi sependek ingatan politikus. Namun, tuduhan elitis itu seketika runtuh ketika kita melihat apa yang terjadi di sirkuit literasi akar rumput Jakarta, Bandung, dan Jogja hari ini. Di tiga kota tersebut, toko buku independen dan perpustakaan komunitas sedang mengalami mutasi kultural, berubah fungsi dari sekadar tempat transaksi komersial menjadi ruang ketiga—sebuah safe space komunal tempat anak-anak muda merawat kewarasan dan mendiskusikan gagasan progresif. Rekaman siniar Distrik Utara malam itu, yang mempertemukan saya dan Tides dengan Rifki R. Ramadhani (Jarjit) dari Toko Buku Pelagia serta Nabila (Bila) dari Perpustakaan Bunga Di Tembok, menjadi bukti sahih bahwa kultur membaca anak muda tak sedang sekarat; ia hanya pindah rumah ke ruang-ruang alternatif yang lebih memanusiakan mereka.


Episentrum Baru: Ketika Buku Menjadi Alasan untuk Nongkrong

Pertumbuhan masif ruang baca alternatif di kota-kota besar terjadi karena anak muda hari ini, seperti halnya generasi muda pada titik-titik tertentu dalam sejarah, kelaparan akan ruang publik yang inklusif, namun tak seperti generasi-generasi sebelumnya, generasi ini punya keterhubungan yang unprecedented dengan media sosial. Di Jakarta, misalnya, ruang intim seperti POST Bookshop di Pasar Santa atau Kios Ojo Keos di Lebak Bulus berhasil mengawinkan kultur urban dengan diskusi naskah yang hangat. Di Jogja, kolektif seperti Buku Akik dan Akal Buku berhasil mematahkan kesan bahwa membaca itu membosankan melalui pendekatan visual yang ramah di media sosial. Sementara di Bandung, gairah itu mewujud dalam bentuk yang lebih melawan tapi organik, menciptakan ekosistem budaya perbukuan yang mandiri dari hegemoni toko ritel raksasa kapitalistik.

Anak muda kotaan datang ke tempat-tempat ini bukan cuma untuk bertransaksi, tapi untuk mencari kawan berpikir. Di sini, buku adalah social lubricant, sebuah alasan bagi orang-orang asing untuk duduk bersama, menyesap kopi, dan mengobrolkan segala hal mulai dari krisis iklim hingga patah hati.


Pelagia dan Bunga Di Tembok: Dua Wajah Perlawanan dari Bandung

Manifestasi dari tren ruang ketiga ini tercermin nyata dalam DNA Toko Buku Pelagia dan Perpustakaan Bunga Di Tembok yang berbasis di Bandung. Pelagia, yang beroperasi di Kompleks Luxor Permai, Jalan Kebon Jati, hadir dengan konsep "semi-perpustakaan". Toko buku bertingkat dua ini mengurasi penerbit-penerbit independen seperti Marjin Kiri dan Post Press secara ketat. Di sana, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki demi kenyamanan komunal, sembari bisa menikmati menu-menu dengan nama seperti Dirty Malaka atau membaca gratis di bawah atmosfer yang tenang meski dalam ironi sebuah jalan urban di Bandung yang padat.


Di sudut padat kota Bandung yang lain, Jalan Pasirluyu Timur No. 117A, Perpustakaan Bunga Di Tembok (BdT) mengambil pendekatan yang sama ‘grilya’ nya. Berbagi atap dengan media alternatif BandungBergerak.id, perpustakaan yang namanya dicomot dari puisi ikonik Wiji Thukul ini mengelola lebih dari 4.000 koleksi bertema jurnalisme, gender, hingga sejarah 1965. BdT menghidupkan ekosistemnyacsalah satunya lewat sistem yang agak tak terduga berupa konsep "Sewa Rak" seharga Rp50.000 per bulan bagi publik yang ingin mendisplay koleksinya. Melalui agenda rutin seperti Silent Reading oleh komunitas Kembang Kata dan diskusi Serambi Filsafat, BdT sukses menjelma menjadi oase yang bersahaja bagi mereka yang haus akan literasi dan wacana diskusi yang bebas..

Membeli Judul, Membaca Isinya: Menjembatani Dua Kebiasaan


Pertanyaan yang paling sering muncul dalam perdebatan literasi hari ini adalah: apakah peningkatan tren ini benar-benar mencerminkan peningkatan minat baca, atau sekadar fetisisme buku demi estetika media sosial? Data lapangan menunjukkan volume pembelian buku fisik di kanal independen pasca-pandemi memang naik sekitar 15-20% secara tahunan di kota-kota kreatif. Memang ada jurang pemisah yang kentara antara kebiasaan membeli (buying habit) dan kebiasaan membaca (reading habit). Kurasi personal yang ditawarkan oleh orang-orang seperti Jarjit di Pelagia adalah alasan mengapa anak muda mau merogoh kocek untuk sebuah buku fisik ketimbang menyerahkan keputusan pada algoritma toko online.


Namun, esensi sebenarnya dari ruang alternatif ini adalah perannya sebagai jembatan. Aktivitas komunal seperti silent reading club yang rutin digelar di BdT bertindak sebagai penjinak distraksi gawai. Ruang komunal ini berhasil memaksa buku-buku yang awalnya "hanya dibeli untuk dipamerkan" bertransformasi menjadi lembaran-lembaran yang "benar-benar habis dibaca dan didiskusikan".


Redefinisi Literasi Gen Z: Menepis Cap "Generasi Instan"

Segala stereotipe yang menyebut Gen Z malas membaca seketika runtuh ketika kita melihat demografi pengunjung di Pelagia dan BdT. Fakta di lapangan membuktikan bahwa anak muda tak membenci buku; mereka hanya jenuh dengan cara-cara ortodoks yang kaku dalam mengonsumsi pengetahuan. Di tangan Gen Z, literasi mengalami redefinisi estetik sekaligus fungsional melalui kultur BookTok dan Bookstagram. Memotret sampul buku yang menantang mapan lalu mengunggahnya ke media sosial bukanlah sekadar ajang pamer, melainkan sebuah pernyataan identitas politik dan eksistensi diri yang baru.


Lebih jauh lagi, nafsu membaca generasi ini didorong oleh rasa lapar akan isu-isu krusial. Rak-rak bertema feminisme, kesehatan mental, hak asasi manusia, dan sejarah kontemporer di BdT selalu menjadi komoditas yang paling cepat berpindah tangan ke pembaca muda usia kuliahan. Begitu pula di Pelagia, di mana diskusi-diskusi zine alternatif didominasi oleh wajah-wajah belia. Toko buku independen dan perpustakaan komunitas telah berhasil menyediakan safe space yang selama ini absen dari kehidupan sehari-hari mereka: sebuah ruang di mana mereka bisa membaca, bersuara, dan didengar tanpa perlu takut dihakimi oleh generasi yang lebih tua.

 

 
 
 

Comments


bottom of page