Agenda-agenda kolektif dalam Politik.
Esai Recap Podcast bersama Pepep Saeful Hidayat
Menyimak perbincangan bersama Kang Pepep Saeful Hidayat di balik meja studio Distrik Utara memberi kita kesempatan langka untuk memandang politik tak lagi sebagai arena perebutan kekuasaan yang bising, melainkan sebagai sebuah ruang kontemplasi yang hangat. Pria bernama lengkap H. Pepep Saeful Hidayat ini hadir bukan dengan ambisi meledak-ledak seorang politisi yang sedang berburu panggung, melainkan dengan ketenangan seorang begawan atau filsuf politik. Di hadapan saya dan rekan host Indra Hidayat, ia membagikan memoar perjalanan politik praktisnya dengan jernih, memandangnya dari jarak aman, seperti seorang resi yang melihat riak gelombang samudra dari atas tebing tinggi, penuh penerimaan sekaligus kebijaksanaan (political wisdom).
Rekam jejak Kang Pepep di panggung politik Jawa Barat sesungguhnya adalah bentangan sejarah yang panjang. Beliau adalah salah satu saksi sekaligus pelaku yang tumbuh bersama dinamika transisi politik pasca-Amanat Reformasi 1999, merangkak dari kepengurusan paling dasar di tingkat PAC Cikijing pada tahun 1996, hingga dipercaya menempati posisi-posisi strategis di level wilayah. Pengalaman tiga periode di DPRD Kabupaten Majalengka dan satu dekade di DPRD Provinsi Jawa Barat memberikan beliau tabungan memori praktis yang teramat kaya.
Ketika dalam Pemilu legislatif lalu ia berhasil mengumpulkan lebih dari 110.000 suara murni di Dapil Jabar IX namun gerbang nasional belum terbuka karena kalkulasi ambang batas parlemen partainya, Kang Pepep tak menanggapinya dengan kepahitan. Begitu pula saat namanya kini berkelindan dalam dinamika legalitas kepengurusan wilayah yang bergulir ke Mahkamah Partai dan Pengadilan Negeri. Di studio kami, seluruh catatan sejarah dan benturan legal-formal itu diletakkan di atas meja bukan sebagai komoditas konflik, melainkan sebagai bahan studi komparatif tentang bagaimana idealisme moral manusia terus-menerus diuji oleh roda mekanis sebuah sistem.
Dari rekapitulasi podcast Distrik Utara malam itu, pemikiran sang begawan politik ini dapat kita urai ke dalam beberapa esensi kebijaksanaan yang mendalam:
1. Dialektika Niat Baik dan Realitas Dapur Kekuasaan
Inti dari perbincangan malam itu berputar pada konsep good intentions (niat baik) dalam berpolitik. Dalam filsafat klasik, Plato lewat teks Republic pernah merumuskan premis bahwa pengabaian orang-orang bijak terhadap urusan publik hanya akan menyerahkan ruang kekuasaan kepada anarki atau tirani. Kang Pepep memandang premis ini dengan kearifan seorang praktisi yang memahami tekstur lapangan. Niat baik adalah kompas moral yang absolut, namun ia mengingatkan bahwa ruang politik memiliki gravitasinya sendiri.
Menggunakan kacamata realisme politik Niccolò Machiavelli, arena praktis digerakkan oleh virtù (kecakapan taktis) dan fortuna (nasib atau keberuntungan). Di dalam studio, Kang Pepep menjembatani dua kutub pemikiran tersebut. Baginya, politik praktis laksana sebuah dapur besar yang bising, penuh kepulan asap, dan bergerak cepat. Seseorang tak bisa mengelola dapur tersebut hanya dengan khotbah tentang moralitas; ia harus menguasai teknik memasak, memahami manajemen api, dan memiliki ketangguhan mental untuk bertahan di tengah panasnya ruangan. Kebijaksanaan politik sejati terletak pada kemampuan menjaga niat baik tetap menyala di dasar hati, sembari tetap adaptif dan tangguh menavigasi realitas sistem hukum serta struktural yang kerap berubah arah.
2. Demokrasi Botram: Etos Dahar Keliling di Akar Rumput
Ketika struktur formal di tingkat atas mengalami guncangan atau reorganisasi, seorang begawan politik tak akan kehilangan pijakan karena ia tahu persis di mana akarnya tertanam. Di sinilah Kang Pepep (bukan dalam podcast ini, tapi dalam obrolan ngopi kami lainnya) membagikan resep komunikasi politiknya yang sangat membumi dan penuh kehangatan: sebuah aktivitas bonding dengan masyarakat yang ia sebut sebagai "Darling" atau Dahar Keliling. Ini adalah manifes dari sesuatu yang boleh kita iseng namakan Demokrasi Botram, sebuah tradisi makan bersama dimana masing-masing partisipan membawa bekal untuk dibagikan, di mana semua sekat kelas sosial meluruh dalam suapan nasi liwet, asin peda, dan sambal goang.
Etos politik botram ini membawa ingatan kolektif kita pada fragmen sejarah yang dilalui oleh Ibrahim Datuk Tan Malaka. Sejarah mencatat Tan Malaka sebagai seorang konseptualis ulung yang membidani gagasan republik lewat Naar de Republiek Indonesia (1925), namun tak pernah mencicipi kemewahan panggung utama birokrasi pasca-kemerdekaan. Ada sebuah kisah berharga ketika ia menyingkir ke Bayah, Banten Selatan, hidup menyamar sebagai kerani rendahan bernama Ilyas Hussein. Di sana, ia tak memimpin rapat-rapat akbar kabinet. Ia memilih berbaur di warung kopi becek, ikut "botram" dan makan apa adanya bersama para romusha, membagi rokoknya yang tinggal sebatang, dan menyerap penderitaan rakyat jelata untuk kemudian dikristalisasikan menjadi mahakarya filosofis berjudul Madilog.
Paralelitas yang ditarik dari perbincangan dengan Kang Pepep adalah tentang esensi "tempat kembali". Bagi seorang filsuf politik, surat keputusan, stempel kepengurusan, atau angka persentase di atas kertas adalah produk-produk struktural yang bisa terbit dan dianulir kapan saja oleh kesepakatan-kesepakatan formal di ibu kota. Namun, hubungan organik yang dibangun dari riuh rendahnya ruang makan bersama di desa-desa selama puluhan tahun adalah modal sosial yang tak bisa dihapus oleh secarik dokumen hukum. Ketika terjadi turbulensi struktural, energi politik Kang Pepep justru terkonsolidasi kembali karena ia selalu memilih kembali ke kehangatan botram akar rumput, tempat di mana politik bermula sebagai sebuah persaudaraan, bukan sekadar kompromi elite.
3. Pendidikan Politik: Mengisi Ruang Keniscayaan
Nasihat paling substantif dari Kang Pepep dalam podcast kami ditujukan khusus kepada generasi muda yang hari ini didera apatisme akut. Gen Z dan milenial sering kali memandang politik sebagai sirkus artifisial yang dipenuhi visual pencitraan kosong di media sosial. Dari sudut pandang seorang resi yang telah melihat berbagai siklus kekuasaan naik dan tumbang, Kang Pepep menawarkan perspektif yang sangat membumi: politik adalah sebuah keniscayaan ruang dalam bernegara, dan ruang itu tak akan pernah dibiarkan kosong.
Menjauhkan diri dari politik karena menganggapnya kotor adalah sebuah tindakan romantis yang keliru. Jika orang-orang yang memiliki kapasitas intelektual dan integritas moral memilih menarik diri ke pinggiran agar baju mereka tetap bersih, maka secara otomatis ruang-ruang pengambil kebijakan, yang menentukan harga pangan, akses pendidikan, dan arah masa depan lingkungan, akan diserahkan sepenuhnya kepada para oportunis. Politik, dengan demikian, harus dipandang sebagai instrumen warga (civil courage) untuk melakukan intervensi kebaikan. Generasi muda tak boleh takut untuk masuk dan mengotori tangan dalam sistem, karena perbaikan kolektif hanya mungkin terjadi jika ada keterlibatan aktif dari dalam gelanggang.
Menolak Mati di Ruang Tunggu
Kita kini berada di zaman di mana politik sering kali disajikan seperti makanan cepat saji (fast food): instan, dikemas dengan estetika visual yang menawan, namun miskin nutrisi moral. Perbincangan Distrik Utara bersama Kang Pepep Saeful Hidayat malam itu adalah sebuah antitesis yang menyegarkan. Ini adalah hidangan yang padat dan bertekstur, menuntut nalar kita untuk mengunyahnya perlahan, serta menyisakan ruang refleksi yang panjang setelahnya.
Melihat langkah konstitusional yang ditempuh beliau dalam menghadapi sengketa internal kepengurusan, kita tak sedang disuguhi tontonan perebutan jabatan yang pragmatis. Dari kacamata filsafat politik, ini adalah sebuah pembelaan terhadap prinsip rule of law, sebuah penegasan bahwa aturan main organisasi (AD/ART) harus dihormati oleh siapa pun demi menjaga kedaulatan suara para kader di daerah.
Karier politik Kang Pepep mengingatkan saya pada karakter geografis Pulau Sibandang di Danau Toba yang pernah saya kunjungi. Pulau yang tenang dan subur itu terbentuk dari proses vulkanik yang dahsyat di masa lalu; letupan lava, benturan batuan keras, dan tekanan bumi yang luar biasa selama ribuan tahun. Di atas tanah keras yang penuh bekas luka geologis itulah, mineral terbaik mengendap hingga akhirnya kehidupan tumbuh dengan anggun dan subur. Karier politik Kang Pepep adalah tanah vulkanik itu, ditempa oleh benturan angka pemilu dan dinamika hukum organisasi. Namun, di bawah tatapan seorang begawan, semua benturan itu tak lebih dari sekadar riak kecil dalam bentangan luas samudra pengabdian, sehangat piring-piring liwet yang dioper dari tangan ke tangan dalam lingkaran botram warga.
Lampu studio Distrik Utara akhirnya padam, meninggalkan sebaris kebajikan yang renyah di kepala kami: Niat baik memang tak pernah menjamin kemenangan yang mudah atau instan. Ia adalah tiket menuju jalan panjang yang melelahkan. Namun, berjalan di jalur tersebut dengan kepala tegak dan integritas yang utuh jauh lebih abadi daripada menang sebagai oportunis yang kehilangan jiwanya di ruang tunggu kekuasaan.



Comments