top of page
logo-putih.png

Pantura, Islam dan Strange Pilgrims

  • Mar 25
  • 6 min read


Pada akhirnya, mungkin inilah hal paling menarik tentang Islam di Jawa: ia datang sebagai agama yang mengatur, tetapi jarang datang sebagai agama yang memaksa; ia membawa hukum, tetapi juga membawa kelenturan untuk menghadapi kenyataan hidup manusia; ia menawarkan kosmologi baru, tetapi tak serta-merta menghapus kosmologi lama.

Sejarah Islam di Nusantara, jika dilihat dari dekat, bukanlah cerita tentang penaklukan yang mengganti dunia lama dengan dunia baru dalam satu gerakan tegas. Ia lebih mirip proses perembesan yang pelan. Air yang masuk melalui retakan-retakan kecil dalam kehidupan sehari-hari: perdagangan, pernikahan, persahabatan, perjalanan laut.

Karena itu, ketika berjalan di kota-kota seperti Demak atau Kudus, yang terasa bukanlah benturan peradaban, melainkan semacam percakapan panjang antara dua dunia.

Di menara bata merah Masjid Kudus yang menyerupai candi Majapahit.

Di kompleks makam para wali yang dipenuhi peziarah.

Di tradisi ziarah yang bagi sebagian Muslim modern terasa ambigu, tetapi bagi banyak orang Jawa justru terasa sangat alami.


Islam di tempat-tempat ini tampak seperti agama yang memahami satu hal sederhana: bahwa manusia hidup dalam kebudayaan yang sudah ada jauh sebelum kitab-kitab datang.

Mungkin karena itulah perjalanan kami ke Pantura terasa menarik.

Kami berangkat dengan niat yang nyaris tak religius sama sekali.

Perjalanan itu dimulai dari sebuah siang Ramadan yang panasnya seperti tak punya niat baik kepada siapa pun.


Langit Jawa sedang berada di bawah periode El Niño, dan jalan Pantura tampak seperti pita aspal panjang yang dipanggang matahari tanpa jeda. Tambak-tambak udang membentang di kanan kiri jalan, udara asin laut bercampur lumpur, dan truk-truk besar lewat dengan ritme yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang hidup di jalan pesisir.

Saya dan Rendra menumpang sebuah mobil yang membawa rombongan survei wilayah rob di pesisir Demak. Bukan tim peneliti dengan perangkat ilmiah yang rumit—lebih tepat disebut rombongan survei lapangan yang ingin melihat langsung bagaimana garis pantai terus bergeser setiap tahun.


Kami ikut lebih sebagai penumpang cerita.

Dua jurnalis yang mungkin sedikit terlalu penasaran.

Di dalam mobil itu, entah bagaimana muncul kompetisi kecil yang agak konyol: siapa yang akan bertahan tetap puasa sampai maghrib, dan siapa yang akhirnya memilih menggunakan rukhsah, keringanan yang diberikan dalam Islam bagi orang yang berada dalam perjalanan atau kesulitan.

Para anggota tim survei tampak cukup kukuh menahan diri.

Sementara saya dan Rendra—mungkin karena terlalu lama hidup dalam dunia ide—justru menemukan sesuatu yang hampir filosofis dalam gagasan tentang rukhsah itu sendiri.

Bahwa Islam, yang sering digambarkan keras oleh mereka yang melihatnya dari jauh, sebenarnya menyediakan ruang kemudahan yang sangat manusiawi.

Maka ketika panas siang mulai terasa seperti ujian yang terlalu literal, kami berdua menyerah dengan cukup elegan.

Ada kegembiraan kecil dalam menyadari bahwa iman tak selalu harus dibuktikan melalui heroisme yang tak perlu.

Perjalanan terus berlanjut menuju sebuah desa pesisir di Kabupaten Demak.

Di sana laut perlahan masuk ke daratan, sedikit demi sedikit setiap tahun. Rumah-rumah berdiri di antara genangan air asin. Jalan desa kadang berubah menjadi jalur sempit yang dikelilingi tambak dan air pasang.

Rombongan survei berjalan mengamati keadaan desa, berbincang dengan warga, melihat bagaimana kehidupan terus berlangsung di tempat yang setiap tahun harus bernegosiasi ulang dengan laut.

Cerita tentang desa itu sebenarnya pantas mendapat ruangnya sendiri.

Karena itu, setelah kunjungan selesai dan matahari mulai condong ke barat, kami memutuskan melakukan detour kecil.

Demak hanya beberapa kilometer dari sana.

Dan akan terasa hampir berdosa melewati wilayah itu tanpa singgah ke tempat yang pernah menjadi salah satu pusat perubahan terbesar dalam sejarah Jawa.

Demak hari ini adalah kota yang berjalan dengan ritme kabupaten biasa.

Warung, pasar, sepeda motor, dan orang-orang yang tampaknya tak terlalu terganggu oleh fakta bahwa kota mereka pernah menjadi salah satu pusat kekuasaan penting di Nusantara.

Namun pada abad ke-15 dan 16, Kesultanan Demak adalah sesuatu yang sangat berbeda.

Ia muncul pada masa ketika kekuasaan Majapahit di pedalaman Jawa Timur mulai melemah. Sekitar seabad sebelumnya, kerajaan besar itu diguncang Perang Paregreg, perang saudara yang memecah pusat kekuasaan dan melemahkan struktur politiknya.

Ketika pusat goyah, pinggiran mulai bergerak.

Kota-kota pesisir menjadi penting.

Demak, Jepara, Gresik, Tuban—pelabuhan-pelabuhan ini terhubung dengan jaringan perdagangan yang membentang dari India, Gujarat, dan Arab hingga Tiongkok.

Di pelabuhan-pelabuhan inilah Islam menemukan ruang tumbuh.

Bukan sebagai agama penakluk, melainkan sebagai bahasa bersama dalam jaringan perdagangan global.

Kami tiba di Masjid Agung Demak tepat menjelang waktu Asar.

Alun-alun tampak lengang oleh panas siang yang baru mulai mereda. Masjid itu berdiri dengan wibawa yang agak tenang, seperti bangunan yang sudah terlalu lama melihat sejarah untuk merasa perlu menjelaskannya lagi kepada siapa pun.

Di dalam kompleks masjid terdapat makam Raden Fatah, pendiri Kesultanan Demak, serta beberapa tokoh bangsawan dari masa awal kerajaan itu.

Kami berjalan perlahan di antara nisan-nisan tua.

Udara di kompleks makam terasa lebih teduh. Orang-orang datang dan pergi dengan langkah pelan. Beberapa duduk diam cukup lama, seolah ingin menyerap sesuatu dari tempat itu.

Di lokasi seperti ini, sejarah terasa jauh lebih nyata daripada di buku.

Jika Majapahit pernah mewakili kosmologi Jawa yang berpusat pada pedalaman—dengan gunung, kerajaan, dan lanskap sakral sebagai pusat dunia—Demak menandai sesuatu yang berbeda.

Sebuah pergeseran kosmologi.

Dari pedalaman ke pesisir.

Dari dunia yang berorientasi pada gunung dan pusat kerajaan, menuju dunia yang terhubung oleh laut.

Islam datang bersama perubahan horizon itu.

Melalui kapal, pelabuhan, dan pasar.

Melalui pedagang yang membawa bukan hanya barang, tetapi juga bahasa, cerita, dan cara baru memahami dunia.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Kudus.

Jika Demak terasa seperti kota yang menyimpan sejarahnya dengan tenang, Kudus terasa sedikit lebih keras.

Hari sudah panas sejak pagi.

Kota ini kini dikenal sebagai kota kretek. Pabrik-pabrik rokok berdiri di berbagai sudut, dan udara terasa kering dengan cara yang khas kota industri.

Namun tujuan kami jelas: Masjid Kudus.

Ketika akhirnya tiba di sana, saya langsung merasakan kegembiraan yang agak sulit dijelaskan.

Karena Masjid Kudus memang luar biasa unik.

Menaranya bukan menara masjid dalam bayangan Timur Tengah. Ia lebih menyerupai candi bata merah dari era Majapahit. Bertingkat, padat, dan jelas berasal dari tradisi arsitektur Jawa-Hindu.

Jejak Majapahit terasa sangat kuat.

Seolah sejarah lama tak benar-benar pergi, hanya berubah bahasa.

Saya tiba-tiba teringat judul buku Gabriel García Márquez, Strange Pilgrims.

Para peziarah aneh.

Dan rasanya tempat ini memang cocok bagi para peziarah semacam itu.

Di belakang masjid terdapat kompleks makam Sunan Kudus.

Lorong menuju makam dipenuhi peziarah. Ada yang datang berkelompok, ada yang sendiri, ada yang hanya duduk diam cukup lama.

Di tempat itu saya tiba-tiba teringat buku-buku kecil tentang Wali Songo yang dulu saya baca waktu SD.

Buku-buku yang mencoba menjelaskan bagaimana Islam menyebar di Jawa bukan melalui pedang, melainkan melalui hubungan sosial yang pelan: perdagangan, pernikahan, dakwah yang sering dibungkus cerita.

Suasana di kompleks makam terasa syahdu.

Bagi sebagian Muslim puritan perkotaan—terutama mereka yang hidup dalam tradisi urban Jawa Barat—praktik ziarah seperti ini sering dianggap ambigu.

Namun berada di sana membuat saya merasa bahwa yang sedang terjadi sebenarnya jauh lebih sederhana.

Orang datang untuk mengingat.

Untuk terhubung dengan sejarah.

Untuk merasa menjadi bagian dari perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum mereka lahir.

Dari semua tempat yang kami kunjungi di Pantura, mungkin Kudus adalah yang paling jelas menunjukkan bagaimana Islam di Jawa berkembang melalui asimilasi kebudayaan.

Menara candi yang menjadi menara masjid.

Tradisi ziarah yang tetap hidup.

Ruang spiritual yang tak sepenuhnya menolak masa lalu.

Di banyak wilayah lain di dunia, Islam menyebar melalui penaklukan militer.

Di Nusantara, cerita itu jauh lebih sering dimulai dari laut.

Pedagang, pelaut, dan ulama yang bergerak di jalur perdagangan membawa bukan hanya agama, tetapi juga tradisi tasawuf dan tarekat—pendekatan spiritual yang relatif lentur dalam berinteraksi dengan budaya lokal.

Di dalam kelenturan itulah ruang asimilasi terbuka.

Bagi sebagian orang mungkin terlihat kabur.

Namun justru dari kekaburan itu lahir sesuatu yang unik.

Sebuah bentuk Islam yang sangat Nusantara.

Ketika kami meninggalkan Kudus sore itu, jalan Pantura kembali dipenuhi truk-truk besar yang bergerak tanpa tergesa tetapi tak pernah berhenti.

Angin laut membawa aroma garam dan lumpur.

Saya dan Rendra tertawa mengingat kompetisi puasa sehari sebelumnya.

Dua jurnalis yang memulai perjalanan dengan sedikit kenakalan teologis—menumpang mobil survei rob, menembus panas El Niño, lalu berakhir sebagai semacam peziarah aneh yang berjalan dari makam ke makam.

Mungkin memang begitulah cara terbaik memahami sejarah Jawa.

Bukan sebagai garis lurus yang rapi.

Melainkan sebagai perjalanan panjang yang penuh persimpangan.

Di mana pedagang, ulama, raja, dan orang biasa bersama-sama menggeser arah peradaban—sering tanpa sepenuhnya menyadarinya.

Dan di sepanjang Pantura itu, perubahan itu masih terasa.

Di masjid.

Di makam.

Di kota-kota pesisir yang dulu menjadi gerbang dunia bagi pulau ini.

Tempat di mana kosmologi lama perlahan bergeser.

Dari gunung ke laut.

Dari kerajaan pedalaman ke kota pelabuhan.

Dari dunia yang tertutup menuju dunia yang tiba-tiba terasa jauh lebih luas.

 
 
 

Comments


bottom of page