Pariwisata, Fotografi, dan Kelakar Lainnya.
- Feb 27
- 4 min read
Sebuah Pseudo Esai pengantar podcast oleh Priyo

Podcast ini tidak terjadi di studio.
Tidak ada dinding busa peredam suara berbentuk piramida. Tidak ada mikrofon mahal yang digantung dengan presisi seperti instrumen bedah. Tidak ada meja kayu solid yang dirancang untuk memberi ilusi keseriusan intelektual.
Ia terjadi di ruang yang lebih jujur dari itu.
Jawot duduk dengan stelan yang pantas untuk seorang dosen—rapi, tenang, seperti seseorang yang terbiasa hidup dalam dunia argumen yang memiliki awal, tengah, d
an akhir. Ia membawa dirinya dengan gravitasi tertentu, jenis gravitasi yang membuat orang lain secara naluriah memperlambat cara bicara mereka.
Di sebrangnya, di samping saya, Mang Ukis terlihat seperti seseorang yang baru saja selesai makan di warteg dan memutuskan untuk tidak pulang dulu. Kemejanya longgar. Posturnya santai. Ia, secara teknis, adalah videografer kami hari itu—orang yang seharusnya berada di belakang kamera, bukan di dalam percakapan. Tapi seperti banyak hal baik dalam hidup, kehadirannya di dalam diskusi bukan hasil perencanaan, melainkan hasil paksaan ringan dan rasa ingin tahu yang lebih kuat daripada rasa sungkan.
Saya sendiri mengenakan “seragam” yang, jika saya jujur, sudah menjadi semacam kostum default: syal abu-abu dan kaos gelap lengan panjang, kombinasi yang tanpa sengaja membuat saya terlihat seperti siswa Hogwarts yang gagal lulus dari jurusan Ravenclaw karena terlalu sering melamun saat pelajaran penting.
Tidak ada yang simetris di ruangan itu. Tidak ada yang sepenuhnya formal. Dan mungkin justru karena itu, percakapan menjadi mungkin.
Kami mulai tanpa benar-benar mulai.
Seperti banyak percakapan yang tidak memiliki agenda tersembunyi, ia bergerak dengan cara yang tidak patuh. Ia melompat. Ia berputar. Ia kadang tersesat. Saya sendiri, dengan kecenderungan neurologis yang membuat fokus terasa seperti hewan liar yang sulit dijinakkan, beberapa kali menemukan diri saya berbicara tentang sesuatu, lalu tiba-tiba menyadari bahwa saya tidak lagi yakin bagaimana saya sampai di sana.
Untungnya, fotografi adalah topik yang cukup elastis untuk menampung ketidakdisiplinan semacam itu.
Karena fotografi, seperti yang perlahan kami sadari kembali siang itu, tidak pernah hanya tentang gambar.
Ia selalu tentang relasi.
Ada kecenderungan untuk melihat fotografi pariwisata sebagai sesuatu yang relatif baru—produk sampingan dari Instagram, dari algoritma, dari ekonomi perhatian yang membutuhkan suplai keindahan yang konstan. Tapi Indonesia telah difoto jauh sebelum ia menjadi Indonesia.
Ia difoto ketika ia masih bernama Hindia Belanda.
Orang-orang Belanda datang dengan kamera mereka dan mulai melakukan apa yang dilakukan semua kekuasaan yang cerdas: mereka mendokumentasikan.
Mereka memotret gunung, bukan hanya karena gunung itu indah, tapi karena gunung itu, setelah dipotret, menjadi sesuatu yang bisa dimasukkan ke dalam sistem pengetahuan. Mereka memotret sawah, desa, tubuh manusia, pakaian tradisional—semuanya dengan ketelitian yang tampak seperti rasa ingin tahu, tapi pada dasarnya adalah bentuk awal dari kontrol.
Sebuah wilayah yang telah dipotret adalah wilayah yang telah, dalam arti tertentu, dijinakkan.
Kamera mendahului peta. Peta mendahului administrasi. Administrasi mendahului kekuasaan penuh.
Fotografi, dalam konteks ini, bukan seni.
Ia adalah infrastruktur.
Yang menarik—dan sedikit mengganggu—adalah betapa sedikitnya logika ini berubah setelah kemerdekaan.
Operatornya berubah. Bahasa yang digunakan berubah. Tapi relasi dasarnya tetap memiliki kemiripan yang sulit diabaikan.
Pusat masih memotret daerah.
Pusat masih, secara tidak langsung, menentukan bagaimana daerah seharusnya dilihat.
Dan daerah, sering kali tanpa pilihan yang benar-benar bebas, mulai menyesuaikan dirinya dengan citra itu.
Pantai harus terlihat seperti pantai yang layak difoto. Desa harus terlihat seperti desa yang layak dikunjungi. Kehidupan sehari-hari, secara perlahan, mulai hidup berdampingan dengan versi dirinya yang telah diantisipasi oleh kamera.
Jawot, dengan ketenangan khasnya, berbicara tentang bagaimana fotografi tidak pernah netral. Bahwa setiap frame adalah keputusan. Bahwa keputusan itu, sekecil apa pun, selalu membawa implikasi tentang siapa yang memiliki hak untuk melihat, dan siapa yang menjadi objek dari penglihatan itu.
Mang Ukis, yang awalnya hanya memegang kamera, mulai ikut masuk ke dalam percakapan dengan cara yang tidak teatrikal. Ia berbicara dari pengalaman—tentang bagaimana kehadiran kamera bisa mengubah perilaku orang, bagaimana sebuah tempat bisa terasa berbeda begitu ia tahu sedang direkam.
Tidak ada nada tuduhan. Tidak ada upaya untuk terdengar revolusioner.
Hanya observasi.
Dan sering kali, observasi yang paling sederhana adalah yang paling sulit untuk disangkal.
Saya, di sisi lain, beberapa kali menyadari ironi posisi saya sendiri.
Saya telah menghabiskan sebagian besar hidup saya berpindah dari satu lanskap ke lanskap lain—mengayuh kayak di perairan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, berdiri di tempat-tempat yang terasa seperti berada di luar waktu, lalu, hampir secara refleks, mengangkat kamera.
Selalu ada pembenaran.
Bahwa ini adalah dokumentasi. Bahwa ini adalah bentuk apresiasi. Bahwa ini adalah cara untuk berbagi pengalaman.
Dan semua itu, dalam tingkat tertentu, benar.
Tapi kebenaran itu tidak sepenuhnya menghapus pertanyaan yang lebih tidak nyaman: untuk siapa gambar itu benar-benar bekerja?
Fotografi, seperti yang perlahan saya pelajari—dan seperti yang siang itu kembali diingatkan oleh percakapan kami yang tidak sepenuhnya terstruktur—selalu memiliki dua sisi.
Ia bisa menjadi alat untuk melihat dunia.
Ia juga bisa menjadi alat untuk memiliki dunia, setidaknya dalam bentuk citra.
Pariwisata modern dibangun di atas fondasi ini.
Sebuah daerah tidak cukup hanya ada. Ia harus terlihat. Dan terlihat dengan cara yang sesuai dengan ekspektasi mereka yang melihatnya dari jauh.
Ini bukan konspirasi. Ini adalah konsekuensi logis dari sistem yang bekerja berdasarkan perhatian.
Daerah yang terlihat menarik akan dikunjungi. Daerah yang dikunjungi akan menerima investasi. Daerah yang menerima investasi akan berubah.
Dan perubahan itu, hampir selalu, bergerak ke arah citra yang membuatnya terlihat menarik sejak awal.
Ini adalah lingkaran yang menutup dirinya sendiri.
Dan Indonesia, dengan keragaman ekstremnya, adalah tempat di mana lingkaran ini bekerja dengan intensitas yang luar biasa.
Yang membuat percakapan kami terasa penting bukan karena ia menghasilkan solusi.
Ia tidak.
Kami tidak tiba-tiba menemukan cara untuk membebaskan fotografi dari sejarahnya. Kami tidak menemukan formula untuk membuat pariwisata sepenuhnya adil.
Sebaliknya, yang terjadi justru sesuatu yang lebih sederhana: kami berhenti berpura-pura bahwa kami berada di luar sistem ini.
Kami mengakuinya.
Kami mengaku bahwa fotografi pariwisata, seindah apa pun hasilnya, tidak pernah sepenuhnya bebas dari relasi kuasa.
Bahwa ia adalah bagian dari sejarah panjang yang dimulai jauh sebelum kami lahir.
Bahwa Indonesia, sebagai negara, mungkin belum sepenuhnya sembuh dari struktur visual yang pertama kali digunakan untuk mengendalikannya.
Dan bahwa kami, duduk di ruangan yang jauh dari studio profesional itu, dengan segala ketidaksempurnaan kami, tetap memilih untuk berbicara tentangnya.
Bukan karena kami memiliki jawaban.
Tapi karena, dalam dunia yang semakin dipenuhi gambar, kemampuan untuk mempertanyakan gambar mungkin adalah satu-satunya bentuk kebebasan yang tersisa.



Comments