top of page
logo-putih.png

Obrolan Seni di Bawah Topi Ember

  • Feb 25
  • 4 min read

Oleh Priyo Utomo Laksono untuk Distrik Utara.



Bagaimana jika seseorang batal bunuh diri karena sebuah patung? Atau lukisan? Atau bahkan lebih sederhana: saat ia berdiri di bawah pohon, tali sudah terikat, lalu sesuatu dalam dirinya terganggu oleh cara cahaya jatuh di daun, oleh keseimbangan cabang, oleh keapian taman yang diam-diam telah dipikirkan oleh seseorang yang tak pernah ia kenal?

Apakah keindahan dapat menyelamatkan nyawa? Apa fungsi keindahan dan kesenian dalam hidup manusia?

Pertanyaan itu muncul kembali dari sebuah sudut memori yang telah lama tersimpan. Ia selalu terasa sedikit mengganggu, nyaris ofensif. Apakah mungkin sebuah bentuk—seonggok batu yang dipahat, sebidang kanvas dengan pigmen, atau taman yang dirancang dengan kesadaran akan efek rasa—memiliki daya untuk menginterupsi keputusan paling final seorang manusia?

Kalau tak salah, percakapan itu pernah terjadi di kelas Prof. Abdul Hadi WM. Filsafat estetika, waktu itu, terasa lebih seperti percakapan tentang sistem saraf daripada teori. Tentang bagaimana persepsi bekerja sebelum pikiran sempat memberi nama. Saya belum benar-benar memahaminya saat itu. Kini, bertahun-tahun kemudian, duduk di hadapan Asmudjo Jono Irianto dengan topi bucket hat—topi ember—yang ia kenakan seperti tanda baca kasual, pertanyaan itu kembali berdenging.

Kami berbicara tentang seni rupa dan perannya dalam pembangunan daerah. Namun seperti banyak percakapan yang hidup, ia segera meluap keluar dari batas niat awalnya. Ada keliaran dalam cara Asmudjo berpikir—bukan liar dalam arti kacau, tetapi liar seperti akar pohon yang mencari jalannya sendiri di bawah tanah.



Asmudjo memetakan tingkatan pengertian seni rupa dalam kehidupan modern. Ada seni fungsional—yang hadir dalam desain, arsitektur, kriya, tata ruang, benda pakai. Seni yang kita sentuh tanpa harus menyadarinya sebagai seni. Seni yang membentuk kualitas hidup sehari-hari tanpa meminta pengakuan.

Lalu ada seni otonom—seni yang berdiri untuk dirinya sendiri. Ia hidup di galeri, museum, koleksi privat. Ia hadir sebagai pengalaman yang tak memiliki kewajiban untuk berguna.

Seni otonom sering dibela dengan satu kalimat klasik: art for art’s sake. Seni untuk dirinya sendiri. Sebuah gagasan yang menguat sejak Renaissance, lalu menemukan bentuk yang lebih tegas setelah Revolusi Industri memisahkan fungsi dari ekspresi. Ketika mesin mengambil alih produksi kegunaan, seni menemukan wilayah baru: wilayah pengalaman yang tak perlu menjawab kebutuhan praktis.

Namun di tengah penjelasan itu, saya merasa perlu mengernyitkan dahi.

Seperlu apa sebuah peradaban atas keberadaan seni otonom?

Ya, ini pertanyaan tua. Kita pernah melihatnya dalam Polemik Kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane. Kita melihatnya lagi dalam ketegangan antara seni sebagai alat perjuangan dan seni sebagai wilayah otonomi batin. Di berbagai tempat, dengan berbagai nama, perdebatan ini terus berulang.

Namun pertanyaan itu terasa berbeda ketika dibawa ke tanah yang konkret. Ke wilayah di mana kelas pekerja dominan. Ke kota-kota di mana hidup diukur oleh jam kerja dan harga kebutuhan pokok.

Seberapa egois keberadaan seni yang berkata: aku ada untuk diriku sendiri?



Saya mencoba mengingat sensasi kecil di sekitar saya saat obrolan berlangsung. Tekstur permukaan meja di bawah jari saya. Bau kopi yang mulai kehilangan panasnya. Pikiran saya, dengan pola inattentive ADHD yang sering bergerak seperti cahaya memantul di air, menangkap percakapan dalam fragmen.

Satu kalimat Asmudjo tentang otonomi seni.

Lalu perhatian saya beralih ke bayangan topi ember itu.

Lalu ke memori ukiran kayu di rumah nenek saya, halus oleh sentuhan waktu.

Lalu kembali ke kata “patron.”

Lalu ke wajah-wajah buruh yang saya lihat di jalan, pulang dengan tubuh yang membawa kelelahan yang nyata.

Seni otonom hidup dalam ekosistem tertentu. Ia memiliki patron, kolektor, kurator. Ia beredar di antara mereka yang memiliki waktu dan sumber daya untuk memberi perhatian pada sesuatu yang tak menghasilkan kegunaan langsung.

Di titik ini, pertanyaan menjadi etis.

Apakah seni otonom adalah kemewahan?

Atau justru ia adalah ruang terakhir di mana manusia dapat mengalami sesuatu tanpa harus menjadi produktif?



Seni fungsional menawarkan sesuatu yang segera terasa. Trotoar yang dirancang dengan baik membuat berjalan menjadi pengalaman yang manusiawi. Bangunan yang proporsional membuat tubuh merasa diterima oleh ruang. Kursi yang dibuat dengan kepekaan membuat duduk menjadi peristiwa yang tenang.

Pemikiran Soetsu Yanagi tentang mingei berangkat dari wilayah ini. Keindahan yang lahir dari benda pakai. Dari kerja tangan yang jujur. Dari fungsi yang dijalankan dengan perhatian. Keindahan yang tak memisahkan diri dari hidup.

Di sini, seni tak berdiri di atas kehidupan. Ia menyatu dengan kehidupan.

Bandingkan dengan seni otonom yang sering kali justru mencari jarak. Ia tak ingin berguna. Ia ingin hadir sebagai pengalaman murni. Sebagai bentuk yang cukup dengan keberadaannya sendiri.

Apakah ini bentuk kebebasan tertinggi?

Atau justru bentuk keterpisahan paling radikal?

Asmudjo tak mencoba menyederhanakan pertanyaan ini. Ia menunjukkan bahwa dikotomi ini lahir dari sejarah. Dari perubahan cara manusia memproduksi dan menghidupi dunia. Dunia modern menciptakan ruang khusus bagi seni—ruang yang sebelumnya tak pernah benar-benar terpisah.

Namun kegelisahan tetap perlu dipertahankan.

Dalam masa krisis, seni otonom dapat terlihat seperti pesta kecil di ruang tertutup. Dalam masyarakat kelas pekerja, ia dapat terasa seperti bahasa yang tak semua orang punya waktu untuk pelajari.

Namun jika kita hanya menyisakan seni yang berguna, kita juga berisiko kehilangan sesuatu yang lebih sunyi.

Kemampuan untuk mengalami tanpa tujuan.



Saya kembali pada gambaran orang di bawah pohon itu.

Jika ia hidup di kota yang dirancang dengan baik, taman itu sendiri sudah merupakan hasil seni fungsional. Ia memberi ruang bagi tubuh untuk bernapas. Ia memberi keteraturan bagi persepsi.

Namun jika di tengah taman itu ada sebuah bentuk—patung, misalnya—yang tak menjelaskan dirinya, yang tak menawarkan fungsi selain kehadiran, barangkali di situlah sesuatu yang lain terjadi.

Sebuah gangguan kecil dalam aliran pikiran.

Sebuah jeda.

Bukan karena bentuk itu berguna. Tetapi karena ia hadir dengan cara yang tak bisa sepenuhnya dijelaskan.

Apakah ini cukup untuk menyelamatkan seseorang?

Saya tak tahu.

Namun mungkin peradaban diukur bukan hanya dari kemampuannya menjaga tubuh tetap hidup, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan kondisi di mana seseorang dapat merasakan sesuatu yang membuat hidup terasa layak dijalani.

Seni fungsional menjaga kualitas hidup bersama.

Seni otonom menjaga kemungkinan pengalaman yang tak sepenuhnya dapat dimiliki oleh logika guna.

Keduanya memiliki risiko. Keduanya memiliki potensi.



Obrolan di bawah topi ember itu tak menghasilkan kesimpulan. Tak ada jawaban final. Yang ada justru kesadaran bahwa seni rupa adalah medan negosiasi yang terus bergerak—antara kebutuhan dan kebebasan, antara fungsi dan otonomi, antara hidup sebagai sesuatu yang harus dijalankan dan hidup sebagai sesuatu yang masih bisa dirasakan.

Mungkin peradaban memerlukan seni fungsional agar manusia dapat hidup dengan layak.

Dan mungkin, dalam kadar yang lebih sunyi dan sulit dibenarkan, peradaban juga memerlukan seni otonom—agar manusia sesekali ingat bahwa mereka bukan hanya makhluk yang bertahan hidup, tetapi makhluk yang mampu berhenti, melihat, dan—meskipun hanya sebentar—menunda akhir.

 

 
 
 

Recent Posts

See All
Tentang Bola, Bangsa dan Musuh Bersama

Esai Seputar Piala Dunia FIFA 2026 Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina di final. Bagi penggemar sepak bola, cerita malam itu mungkin selesai pada statistik pen

 
 
 

Comments


bottom of page