top of page
logo-putih.png

Nama-Nama Yang Mengikat Manusia Pada Bumi

May 1
3 min read

Esai Siniar bersama T.Bachtiar

Oleh Penulis Distrik Utara

Priyo U. Laksono.


Ekspektasi awal kami sebenarnya cukup jelas: membahas relevansi geografi untuk pembangunan daerah dan mitigasi bencana. Tema yang, kalau ditangani dengan pendekatan yang salah, bisa berubah menjadi kuliah yang terlalu serius. Tapi percakapan justru bergerak ke arah yang lebih sederhana—dan pada saat yang sama, lebih mendasar.

Kami mulai dari nama.

Toponimi. Dan membahas toponimi dengan T.Bachtiar memiliki kemewahannya tersendiri.

Kang Titi Bachtiar adalah jenis akademisi yang membuat kita lupa bahwa ia sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu. Lahir di Pameungpeuk, Garut, 23 Juli 1958, ia adalah dosen, peneliti, penulis, yang terlepas dari generasinya, kini peminat kuliahnya semakin banyak dan dari anak SD sampai manula.

Saya sudah mengenal Kang Titi sekitar sepuluh tahun. Jawot pun punya riwayat berkegiatan bersama beliau. Jadi ketika kami bertemu untuk merekam podcast ini, suasananya tak pernah terasa seperti wawancara. Kami bercanda, saling menyela, kadang melenceng, lalu kembali lagi ke topik.

Kang Titi menjelaskan bagaimana nama-nama tempat di Jawa Barat bukan sekadar warisan budaya atau kebetulan linguistik. Nama-nama itu adalah catatan. Ia menyimpan informasi tentang air, tanah, kontur, dan dalam beberapa kasus, bahkan tentang risiko. Kata-kata seperti “ranca”, “leuwi”, “cik”, atau “situ” bukan sekadar bunyi yang diwariskan, tetapi cara masyarakat membaca ruang dan meninggalkan penanda.

Di titik ini, saya sempat merasa saya tahu arah pembicaraan ini akan ke mana. Biasanya kita akan berhenti pada dua hal: pelestarian budaya atau manfaat praktis seperti mitigasi bencana. Kang Titi memang menyentuh keduanya, tapi ia tak berhenti di sana. Ia justru membawa kami ke lapisan yang lebih dalam.

Bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya informasi, tapi keterikatan.

Keterikatan manusia dengan ruang yang ia huni.

Untuk menjelaskan ini, ia memberi contoh yang sulit diabaikan. Di kawasan sekitar Sesar Lembang, ada nama-nama seperti Kampung Gadogmuril. Salah satu interpretasinya mengaitkan kata nama kampung tersebut dengan kata yang berarti gerakan berputar atau kondisi tanah yang berasosiasi dengan gempa.  Apakah ini pembacaan yang pasti benar? Tidak juga. Tapi hipotesa ini didukung kejelian dan ketelitian serta referensi kang Titi yang tajam.

 

Dan di situlah menariknya.

Kang Titi sendiri tak pernah menyajikan hipotesa ini sebagai kebenaran mutlak. Ia justru membuka ruang skeptis. Ia bisa dengan mudah mengkritik pembacaan toponimi yang dangkal, yang terlalu cepat menarik kesimpulan hanya dari kemiripan bunyi atau asosiasi yang dipaksakan.

 

 Dan karena itu, hipotesa yang ia bangun pun selalu menyisakan ruang keraguan.

Tapi justru di situlah letak daya tariknya.

Geografi, di tangan Kang Titi, terasa seperti kerja detektif.

Ia mengumpulkan petunjuk—nama, cerita, pola lanskap, ingatan lokal—lalu menyusunnya menjadi kemungkinan. Bukan kepastian. Bukan dogma. Tapi kemungkinan yang masuk akal.

Dan bagi saya, itu jauh lebih jujur.

Karena ruang memang tak selalu memberi jawaban yang rapi.

Ia memberi jejak.

—

Di titik ini, obrolan kami bergeser tanpa terasa. Kami tak lagi berbicara tentang geografi sebagai disiplin, melainkan sebagai cara manusia menjaga hubungan dengan bumi. Nama menjadi lebih dari sekadar identitas. Ia menjadi pengikat.

Ketika nama-nama itu hilang, atau diganti tanpa pemahaman, yang hilang bukan hanya makna linguistik atau informasi teknis. Yang hilang adalah kesadaran.

Kesadaran bahwa kita hidup di sesuatu yang punya sejarah.

Bahwa tanah yang kita pijak bukan ruang kosong.

—

—

Dalam suasana yang santai dan penuh kelakar, Kang Titi terus membawa kami kembali ke satu gagasan yang sama. Bahwa sebelum kita bicara tentang pembangunan, kita perlu memahami tempat. Dan pemahaman itu tidak selalu dimulai dari data besar atau teknologi canggih. Kadang ia dimulai dari hal yang sangat sederhana.

Seperti nama yang kita ucapkan setiap hari.

Saya sendiri, kalau jujur, sering merasa terlalu cepat merasa paham. Terlalu cepat menganggap sesuatu sebagai “sudah jelas”. Dan di meja itu, seperti beberapa kali sebelumnya dalam hidup saya, Kang Titi kembali mengingatkan bahwa pemahaman butuh kesabaran—dan sedikit kerendahan hati.

Atau dalam kasus saya, mungkin cukup banyak.

—

Ketika kami kembali ke topik pembangunan dan mitigasi, jawabannya terasa berbeda dari yang kami bayangkan di awal. Bukan berupa model kebijakan atau langkah-langkah konkret yang bisa langsung dijalankan. Melainkan cara berpikir.

Bahwa membaca ruang adalah prasyarat.

Bahwa memahami konteks adalah dasar.

Dan bahwa banyak kesalahan kita hari ini bukan karena kita tidak punya data, tapi karena kita tidak mendengarkan apa yang sebenarnya sudah lama ada.

—

Setelah percakapan itu, tidak ada perubahan dramatis. Bandung tetap Bandung. Jalan tetap sama. Nama tempat tetap seperti sebelumnya.

Tapi ada satu hal kecil yang berubah.

Ada jeda.

Setiap kali mendengar nama tempat, ada dorongan untuk berhenti sebentar dan bertanya: ini menyimpan apa?

Dan mungkin itu kontribusi paling jujur dari Kang Titi.

Ia tidak memberi kesimpulan final. Ia tidak menawarkan kepastian.

Ia hanya membuat kita sadar bahwa sebelum kita membangun, sebelum kita mengatur, bahkan sebelum kita mengklaim memahami—

kita sebaiknya belajar mendengarkan.

Dan sering kali, yang perlu kita dengarkan itu sudah lama ada.

Dalam nama.

 
 
 

Recent Posts

See All
Indonesia & Rekayasa Genetika

Esai Recap Podcast bersama Pramesti “Ichi” Istiandari oleh: Priyo U. Laksono Pada Podcast Distrik Utara kali ini kami kedatangan seorang akademisi dan peneliti muda yang bergerak di garda depan biotek

 
 
 

Comments


bottom of page