top of page
logo-putih.png

Menjaga Bangsa Agar Tetap Out of the Box

  • Feb 13
  • 5 min read

Esai Pengantar Podcast dengan bu Dessy Ruhati, Sekertaris Kementerian Ekonomi Kreatif

Oleh Priyo Utomo Laksono



Ada masa—dan ini baru terjadi beberapa minggu lalu—di mana saya mulai curiga bahwa masa depan republik ini ditentukan oleh kerah baju.

Bukan ide.Bukan gagasan.Bukan keberanian untuk mencoba hal baru.

Tapi kerah.

Dalam rangkaian kunjungan ke beberapa kementerian, saya—dengan niat baik dan kaos lengan panjang yang rapi—mendapati diri saya dikritik. Bukan karena argumen saya lemah, bukan karena proposal saya berantakan, melainkan karena: baju saya tidak berkerah. Sepatu saya kanvas. Bukan kulit. Bukan pantofel. Bukan simbol kewibawaan yang diakui secara tak tertulis tapi sangat terasa.

Saya mengangguk. Tersenyum. Menyimpan catatan kecil dalam kepala: ternyata, di beberapa ruang negara, estetika masih sering didahulukan dari imajinasi.

Lalu saya datang ke kantor Kementerian Ekonomi Kreatif.

Dan hal pertama yang “menyambut” saya bukan resepsionis, bukan papan visi-misi, bukan slogan motivasional yang dicetak dengan font serius. Yang menyambut saya adalah boneka berwarna pink, setinggi empat atau lima meter, berdiri dengan percaya diri (dan agak lucu) di ruang kantor negara.

Boneka itu absurd.Boneka itu mencolok.Boneka itu—jujur saja—sedikit tidak sopan terhadap keseragaman.

“Ini karya anak muda Bandung,” kata Bu Dessy Ruhati sambil tersenyum, seolah menjelaskan hal paling wajar di dunia. “Kami taruh di sini sebagai representasi daya kreatif generasi sekarang.”

Dan ketika saya berjalan menuju kantor bu Dessy, saya melalui sejumlah tim yang lebih menyerupai mahasiswa jurusan kesenian atau EO ketimbang aparatur negara.

Dan di titik itu saya paham: saya sudah masuk ke ruang yang out of the box—bukan sekadar jargon, tapi benar-benar dijalani.



Perempuan, Energi, dan Banyak Kehidupan Sekaligus

Bu Dessy Ruhati—atau Ummi, begitu ia akrab dipanggil—adalah tipe manusia yang jika energi bisa dipanen, barangkali bisa menerangi satu kecamatan.

Ia adalah Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif.Ia dosen pariwisata.Ia lama bekerja di dunia kepariwisataan.Ia mantan aktivis kampus.Ia istri seorang prajurit tinggi TNI.Ia—dan ini penting—sangat supel, riang, dan nyaris mustahil kehabisan senyum.

Dalam politik representasi, sosok seperti Ummi sering kali sulit dicerna oleh kategori tunggal. Ia tidak pas jika hanya disebut “birokrat”. Tidak cukup jika hanya disebut “akademisi”. Tidak lengkap jika hanya dipahami sebagai “istri jenderal”. Ia adalah perjumpaan banyak dunia yang biasanya berjalan paralel, tapi jarang benar-benar berdialog.

Dan mungkin di situlah letak relevansinya bagi ekonomi kreatif.



Podcast yang Tidak Patuh pada Tata Cara Umum

Podcast Distrik Utara kali ini tidak lahir dari studio ber-AC, dinding kedap suara, dan kopi sachet. Ia lahir di sela-sela kegiatan berkayak touring.

Ya, berkayak.Dengan dayung.Di alam terbuka.

Dan sebagai bonus eksistensial: hari itu hujan hampir sepanjang hari.

Secara protokol, ini ide buruk.Secara logistik, ini merepotkan.Secara kesehatan, ini bisa diperdebatkan.

Tapi Ummi—tanpa banyak ragu—ikut berkayak di Danau Saguling. Meski hanya sebentar. Meski hujan. Meski ini bukan bagian dari job description seorang pejabat eselon tinggi.

Bukan demi konten.Bukan demi pencitraan.

Melainkan karena satu hal sederhana: mencoba hal baru.

Dan lagi-lagi, kita kembali ke satu frasa kunci: out of the box.


Dari Perjalanan Personal ke Kepentingan Publik

Dalam podcast ini, kami tetap berbicara angka. Tetap berbicara soal rencana kerja. Tetap berbicara soal kebijakan.

Tapi tone-nya agak berbeda.

Ummi, di masa mudanya adalah seorang yang seolah menangkap daya dari matahari yang tak pernah habis. Ia dulu mahasiswi aktivis kampus yang menemukan jalan panjangnya ke ke karir profesional. Dan saat ia menjadi istri seorang prajurit, ia belajar menyeimbangkan etos kerjanya dengan tanggung jawabnya sebagai istri tentara dengan relatif apik.

Mungkin dengan latar belakang yang agak Maverick demikian, ia cocok berkiprah di masa ketika pemerintah berniat bahwa ekonomi kreatif tidak lagi diposisikan sebagai sektor tambahan. Ia tidak diperlakukan sebagai “pelengkap” bagi manufaktur, pertanian, atau infrastruktur.

Ia dipahami sebagai cara berpikir.

Sebagai oli—meminjam analogi yang muncul dalam diskusi—yang membuat mesin besar bernama Indonesia tidak berdecit saat bergerak.



Ekonomi Kreatif: Basis Baru atau Cara Baru?

Pertanyaan yang muncul kemudian—dan ini pertanyaan jujur—adalah:apakah ekonomi kreatif ini sebuah basis ekonomi baru, atau sekadar penghela bagi sektor-sektor lama?

Jawaban Ummi tidak tergesa-gesa. Ia tidak jatuh pada romantisme. Tidak pula terjebak pada klaim bombastis.

Ekonomi kreatif, dalam pandangannya, bekerja di antara.Ia tidak selalu berdiri sendiri, tapi hampir selalu memperkuat.Ia memberi nilai tambah.Ia memvalidasi estetika.Ia menghubungkan fungsi dengan makna.

Dalam konteks Indonesia—negara dengan keragaman ekstrem, dari Papua hingga Aceh—pendekatan ini menjadi krusial. Karena tidak semua daerah bisa membangun pabrik besar. Tidak semua wilayah punya infrastruktur berat. Tapi hampir semua daerah punya cerita, keterampilan, rasa, dan imajinasi.

Dan itu adalah modal kreatif.



Belajar dari Meiji, Menyapa Nusantara

Salah satu momen menarik dalam podcast ini adalah ketika diskusi melompat ke Jepang, masa Restorasi Meiji. Tentang bagaimana negara kala itu secara sadar membangun galeri dan museum untuk memamerkan keterampilan warganya—tembikar, kriya, seni—bukan sekadar untuk arsip, tapi untuk validasi.

Pertanyaannya sederhana tapi menggigit:apakah pola seperti ini bisa diterapkan di Indonesia?

Bukan sebagai replika.Bukan sebagai imitasi.

Melainkan sebagai inspirasi.

Ummi melihat ini sebagai kemungkinan nyata. Bukan sekadar ide romantik. Validasi estetika—terutama bagi kriya, kuliner, dan produk budaya—bukan soal selera elite, tapi soal keberanian negara untuk mengatakan: ini berharga.

Dan ketika negara mengatakan itu, pelaku kreatif mendapatkan sesuatu yang lebih penting dari bantuan modal: pengakuan.



Sejauh Mana Negara Menjangkau?

Pertanyaan lain yang tak kalah penting: sejauh mana jangkauan program ekonomi kreatif ini?

Apakah ia berhenti di kota besar?Apakah ia eksklusif bagi mereka yang sudah melek birokrasi?

Atau—dan ini penting—apakah ia bisa menyentuh kabupaten. Di Papua, misalnya.

Diskusi dengan Ummi tidak menjanjikan keajaiban instan. Tapi ia menegaskan satu prinsip: desentralisasi bukan slogan, tapi harapan yang di jalankan bertahap api nyata. Program-program EKRAF dirancang untuk bisa menurun, menyesuaikan konteks lokal, dan bekerja sama dengan pemerintah daerah.

Tidak sempurna.Belum selesai.Tapi bergerak.

Dan mungkin di negara sebesar Indonesia, gerak yang konsisten jauh lebih penting daripada janji yang megah.



Adventure Tourism dan Imajinasi yang Bergerak

Sebagai penutup, muncul pertanyaan yang sangat personal bagi saya:apakah wisata petualangan termasuk ekonomi kreatif?

Jawabannya: ya—selama ia tidak berhenti pada adrenalin.

Wisata petualangan, ketika digarap dengan narasi, dengan keselamatan, dengan penghormatan pada alam dan budaya, adalah bentuk kreativitas yang hidup. Ia mengajak orang keluar dari zona nyaman, tapi juga masuk ke kesadaran baru.

Dan di situlah benang merahnya: ekonomi kreatif bukan soal produk semata, tapi pengalaman.



Menjaga Indonesia Tetap Tidak Taat pada Kotaknya

Podcast ini—dengan segala keunikannya—adalah pengingat kecil tapi penting. Bahwa bangsa ini tidak kekurangan ide. Yang sering kita kekurangan adalah keberanian untuk tidak selalu patuh pada kotak.

Boneka pink di kantor negara.Podcast di sela hujan dan kayak.Pejabat yang mau mencoba hal baru tanpa takut terlihat tidak biasa.

Semua itu bukan gimmick.Itu sikap.

Dan mungkin, di tengah dunia yang makin seragam, menjaga Indonesia tetap out of the box adalah kerja kebudayaan paling mendesak hari ini.

Bukan dengan melawan aturan demi sensasi.Tapi dengan mengingat bahwa aturan seharusnya melayani imajinasi—bukan memenjarakannya.

Dan jika suatu hari republik ini goyah, saya curiga penyebabnya bukan karena kurangnya kerah baju.Melainkan karena kita lupa bahwa kreativitas adalah napas panjang bangsa ini.

 
 
 

Recent Posts

See All
Tentang Bola, Bangsa dan Musuh Bersama

Esai Seputar Piala Dunia FIFA 2026 Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Argentina di final. Bagi penggemar sepak bola, cerita malam itu mungkin selesai pada statistik pen

 
 
 

Comments


bottom of page