Mengintip Sejarah Bumi di Balik Aspal Kota dan Tembok Sekolah
Pengantar Podcast Bareng Malik Arrhahiem dan Rumi Sidhharta
Oleh Priyo Utomo

Jika Anda ingin melihat dua spesies kutu buku yang berevolusi ke arah yang sangat berbeda, cobalah dudukkan Malik Arrahim dan Rumi Sidharta dalam satu meja. Malik memiliki antusiasme yang seolah selalu berlari beberapa langkah lebih cepat daripada penampilannya. Ia tampak seperti orang yang terlalu sibuk memikirkan batuan berumur jutaan tahun untuk sempat memikirkan apakah bajunya serasi. Sebaliknya, Rumi adalah tipe kutu buku yang seolah berhasil menjadikan seluruh minat intelektualnya sebagai bagian dari estetika hidup. Pakaiannya selalu menarik perhatian lebih dulu sebelum isi kepalanya mengambil alih ruangan. Yang satu tampak seperti geolog yang baru keluar dari lapangan. Yang satu lagi seperti anak pantai, seniman, dan nerd sejarah yang secara misterius menyatu dalam satu organisme.
Kesamaan mereka hanya satu: antusiasme.
Dan antusiasme adalah penyakit yang sangat menular.
Malam itu saya mengundang Malik ke Distrik Utara, dengan Rumi ikut menjadi guest host. Awalnya saya mengira tugas saya adalah menjadi moderator. Beberapa menit kemudian saya menyadari bahwa saya lebih mirip pustakawan yang kebetulan sedang berjaga ketika dua pengunjung paling bersemangat di perpustakaan menemukan rak buku favorit mereka. Mereka saling melempar cerita, saling memancing hipotesis, saling menyambung referensi, sementara saya sesekali berusaha menjaga percakapan tetap berada di planet yang sama.
Yang menarik, obrolan malam itu bukan sekadar tentang geologi. Ia berubah menjadi perencanaan petualangan.
Kami mulai membicarakan lokasi-lokasi di sekitar Bandung yang ingin kami kunjungi bersama. Bukan tempat-tempat yang secara konvensional dianggap spektakuler. Justru sering kali sebaliknya. Salah satu lokasi yang paling menarik perhatian kami berada di area sebuah sekolah dasar. Dalam imajinasi publik, situs penting biasanya berupa candi, gua, atau puncak gunung. Namun dalam dunia geologi dan arkeologi, kadang sebuah SD menyimpan cerita yang jauh lebih tua daripada seluruh bangunan yang berdiri di atasnya.
Di lokasi itu ditemukan sebaran batuan yang diyakini pernah dimanfaatkan manusia prasejarah sebagai alat. Hari ini anak-anak bermain dan belajar matematika di sana. Ribuan atau puluhan ribu tahun lalu, manusia lain mungkin memungut batu yang sama untuk mengolah makanan, berburu, atau bertahan hidup. Kita sering membayangkan masa lalu berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal sering kali ia tepat berada di bawah kaki kita.Tertutup aspal. Tertutup beton. Tertutup lapangan upacara.Tertutup tembok sekolah.
Dan itulah yang membuat saya tertarik pada cara Malik memandang dunia.
Sebagian besar dari kita melihat lanskap sebagai latar belakang. Kita melewati jalan yang sama setiap hari tanpa pernah benar-benar bertanya mengapa jalan itu berada di sana. Kita melihat bukit tanpa bertanya bagaimana bukit itu terbentuk. Kita melihat sungai tanpa memikirkan usia sungai tersebut. Malik melihat semua itu sebagai petunjuk.
Ia membaca lanskap seperti detektif membaca TKP.
Sebuah singkapan batu bukan sekadar batu. Sebuah lereng bukan sekadar lereng. Sebuah lapangan kosong bukan sekadar lahan menunggu pembangunan. Semuanya menyimpan informasi.
Dan yang membuatnya menarik adalah kemampuannya mengubah informasi itu menjadi cerita.
Saya kira inilah alasan mengapa kegiatan-kegiatan lapangan yang ia lakukan semakin diminati. Orang-orang rela berkumpul di tempat yang secara visual tak menawarkan apa-apa. Tempat parkir. Fasilitas warga. Pinggir jalan. Sudut kota yang biasanya hanya dilewati. Mereka datang bukan karena lokasinya eksotis. Mereka datang karena ingin belajar melihat.
Setelah Malik berbicara selama lima belas menit, tempat yang tadinya tampak biasa mendadak berubah menjadi halaman buku yang penuh catatan kaki.
Ternyata gunung di kejauhan berkaitan dengan danau purba.
Ternyata lapisan tanah di bawah rumah kita adalah sisa proses geologi yang berlangsung selama puluhan ribu tahun.
Ternyata bentuk lembah yang kita anggap biasa adalah hasil peristiwa yang nyaris mustahil dibayangkan dalam skala umur manusia.
Dan yang paling menarik, ternyata semua itu berhubungan dengan kehidupan kita hari ini.
Mungkin karena itu pula saya melihat kesamaan menarik antara Malik dan Rumi. Secara penampilan keduanya hampir seperti kutub yang berlawanan. Tetapi keduanya sama-sama memahami bahwa pengetahuan tak pernah bergerak sendirian. Ia membutuhkan cerita.
Rumi melakukan itu pada sejarah. Malik melakukannya pada geologi.Dan respons publik terhadap keduanya menurut saya mengungkap sesuatu yang penting.
Selama ini sering ada asumsi bahwa masyarakat tak tertarik pada sejarah, geologi, arkeologi, atau pengetahuan yang dianggap "berat". Saya semakin curiga bahwa asumsi itu salah. Yang sering gagal bukan minat masyarakatnya, melainkan cara penyampaiannya.
Karena faktanya, kegiatan yang dipandu Malik semakin ramai. Konten-konten sejarah yang dibuat Rumi juga mengundang audiens yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan banyak orang. Bahkan di Distrik Utara sendiri, beberapa diskusi yang awalnya kami kira terlalu teknis justru menghasilkan respons yang paling antusias.
Mungkin masyarakat kota sesungguhnya haus akan storytelling.
Terutama storytelling yang membantu mereka memahami ruang hidupnya sendiri.
Karena manusia selalu ingin tahu di mana ia berada.Apa yang terjadi di tempat ini sebelum dirinya lahir. Mengapa kota ini terbentuk seperti sekarang. Mengapa gunung itu ada di sana. Mengapa sungai ini mengalir ke arah tertentu. Mengapa sebuah kampung memiliki nama tertentu.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada kebutuhan yang sangat tua, yakni kebutuhan untuk merasa terhubung dengan tempat tinggal kita sendiri.
Dalam beberapa dekade terakhir, kehidupan perkotaan sering membuat hubungan itu melemah. Kita mengenal pusat perbelanjaan lebih baik daripada bentang alam yang membentuk kota kita. Kita hafal nama brand lebih cepat daripada nama batuan yang menopang rumah kita. Kita tahu lokasi coffee shop baru sebelum tahu sejarah geologis daerah tempat coffee shop itu berdiri.
Tidak ada yang salah dengan itu. Saya sendiri mungkin lebih sering menghafal lokasi warung makan daripada lokasi singkapan batu.
Tetapi malam itu saya kembali diingatkan bahwa kota sesungguhnya memiliki lapisan cerita yang jauh lebih dalam daripada yang biasa kita lihat.
Bandung misalnya. Sebagian besar warga mengenalnya melalui kemacetan, kuliner, sepak bola, dan cuaca yang terus menjadi bahan nostalgia. Namun di bawah semua itu ada sejarah bumi yang jauh lebih panjang. Ada danau purba. Ada gunung api. Ada pergeseran kerak bumi. Ada proses-proses yang berlangsung selama ribuan bahkan jutaan tahun sebelum manusia pertama datang ke wilayah ini.
Dan jika kita cukup sabar untuk memperhatikan, jejak-jejaknya masih ada. Kadang di bukit. Kadang di pinggir jalan. Kadang di balik pagar sekolah dasar. Kadang di batu yang tampak terlalu biasa untuk dipedulikan.
Menjelang akhir obrolan, saya mulai menyadari bahwa siniar malam itu sebenarnya bukan tentang batuan. Bukan juga tentang geologi.Ia tentang cara melihat. Tentang kemampuan untuk menemukan keajaiban pada sesuatu yang selama ini kita abaikan. Tentang kesediaan untuk berdiri di sebuah tempat parkir dan menyadari bahwa kita sedang berdiri di atas sejarah bumi yang jauh lebih tua daripada seluruh peradaban manusia.
Dan mungkin itu juga sebabnya saya senang mengundang orang-orang seperti Malik dan Rumi ke Distrik Utara.Karena mereka mengingatkan bahwa petualangan tak selalu membutuhkan perjalanan jauh. Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang tahu cara menunjuk ke arah yang tepat. Lalu berkata, "lihat baik-baik."
Dan tiba-tiba dunia yang selama ini terasa biasa menjadi jauh lebih menarik




Comments