Berkuliah Bisnis di Pasar Caringin
Oleh Priyo Utomo Laksono.

Ada berbagai cara untuk belajar bisnis. Bisa duduk di ruang kuliah, membaca buku teks, membedah studi kasus perusahaan, atau belajar dari laporan keuangan. Ada juga cara yang lebih tua dan barangkali lebih keras: berdiri di pasar, mengamati barang datang dan pergi, mendengar orang menawar, melihat pedagang menghitung risiko, lalu mencoba memahami bagaimana mereka bisa bertahan puluhan tahun, bahkan dua atau tiga generasi. Cara kedua itulah yang sedang dicoba Agus Ekomadyo bersama sejumlah mahasiswa ketika beberapa kali mengunjungi Pasar Induk Caringin, Bandung.
Bersama media siniar Distrik Utara, kunjungan tersebut bukan sekadar observasi pasar. Mereka ingin mendokumentasikan pengalaman dan etos berdagang para pedagang Caringin, lalu mempertemukannya dengan perspektif akademis tentang bisnis dan perkotaan. Untuk mengenali pasar lebih dekat, rombongan didampingi Asep Wahyu, Wakil Ketua Koperasi Pedagang Caringin. Asep sendiri adalah generasi kedua dari keluarga pelopor pedagang di Caringin. Ia pernah menempuh pendidikan teknik pertambangan, bidang yang cukup jauh dari perdagangan buah yang menjadi kehidupan keluarganya. Ia kini tak lagi meneruskan lapak di pasar, tetapi tetap mengikuti dan memperjuangkan kehidupan ekonomi Caringin, tempat keluarganya pernah menggantungkan hidup.
Di tengah hiruk-pikuk logistik pasar, Agus, para mahasiswa dan tim Distrik Utara bergerak dari satu lapak ke lapak lain. Sebagian mengenakan boots karet seperti para pedagang yang setiap hari berhadapan dengan lantai basah dan barang yang datang silih berganti. Beberapa kunjungan dilakukan di tengah hari, ketika Pasar Induk Caringin justru sedang sibuk-sibuknya. Aroma buah dan sayuran segar bercampur dengan bawang, kardus basah dan komoditas yang mulai rusak. Truk, buruh angkut, pedagang dan pembeli terus bergerak dalam ritme yang sulit ditemukan di ruang perdagangan modern. Belajar bisnis di tempat seperti ini berarti belajar sambil sesekali menghindari roda gerobak dan genangan air.
Di salah satu kunjungan, Asep kemudian memperkenalkan mereka kepada tiga pedagang buah yang menjadi bagian penting dari sejarah Caringin: H. Mian Gunawan, H. Indra Wijaya dan H. Tatang. Haji Mian adalah salah satu pedagang paling senior dan termasuk pelopor generasi pertama juragan buah di Caringin. Haji Indra juga berasal dari generasi pertama, sementara Haji Tatang merupakan generasi kedua. Tiga orang ini mewakili pengalaman yang berbeda, tetapi tumbuh dari lingkungan perdagangan yang sama.
Mereka kemudian direkam dalam sebuah siniar bersama Distrik Utara. Rekaman dilakukan langsung di lapak, di antara kotak-kotak buah dan aktivitas jual beli yang tak berhenti hanya karena ada kamera dan mikrofon. Percakapannya tak diarahkan menjadi kisah sukses. Para pedagang diminta bercerita tentang perjalanan mereka, bagaimana belajar berdagang dan apa yang mereka anggap paling penting setelah puluhan tahun menjalani pekerjaan tersebut.
Jawaban yang muncul justru sederhana. Haji Tatang mengatakan, “Dagang itu modal awalnya bukan uang, tapi ilmu.” Haji Indra menekankan bahwa dalam berdagang, yang penting adalah kejujuran. Kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa jika dilepaskan dari konteksnya. Namun ketika diucapkan oleh orang yang telah menghabiskan puluhan tahun di pasar, keduanya menyentuh persoalan yang cukup mendasar dalam bisnis: pengetahuan dan kepercayaan.
Para pedagang juga bercerita tentang bagaimana kepercayaan tak selalu dibangun dari angka dan dokumen. Ada intuisi, ada insting, ada kemampuan membaca orang yang terbentuk karena terlalu lama bekerja dan berhadapan dengan berbagai karakter. Seorang pedagang berpengalaman bisa saja mengambil keputusan berdasarkan kesan yang sulit dijelaskan secara formal. Tetapi kesan itu tak muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh pengalaman, termasuk pengalaman salah, rugi, tertipu dan kemudian belajar menjadi lebih peka.
Di ruang kuliah bisnis, proses semacam itu dapat diterjemahkan ke dalam istilah risk management, customer relationship, supply chain atau business resilience. Di pasar, pedagang cukup menyebutnya pengalaman. Perbedaannya barangkali hanya pada bahasa. Persoalan yang dihadapi sebenarnya sama: bagaimana membuat keputusan ketika informasi tak pernah lengkap, bagaimana menjaga hubungan ketika kepentingan ekonomi terus berubah, dan bagaimana bertahan ketika satu keputusan yang keliru bisa langsung terasa pada modal dan penghasilan hari itu.
Dari sinilah pembicaraan mengenai Caringin kemudian berkembang menjadi lebih luas. Bagi Agus Ekomadyo, pasar tak cukup dibaca sebagai bangunan, tempat transaksi, atau bagian dari sistem distribusi barang. Dengan menggunakan perspektif Henri Lefebvre tentang production of space, Caringin dapat dipahami sebagai ruang yang terus diproduksi oleh praktik sosial orang-orang yang hidup di dalamnya. Ruang pasar dibentuk oleh pekerjaan, hubungan dagang, kebiasaan, konflik, ingatan, dan pengetahuan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dengan cara pandang itu, luas kawasan, jumlah kios dan volume perdagangan tetap penting, tetapi tak cukup menjelaskan Caringin. Ada lapisan kehidupan yang hanya terlihat ketika seseorang berada di dalamnya. Hubungan antara pedagang dan pemasok, cara seseorang membaca kualitas buah, keputusan untuk memberikan utang, cara mengenali pelanggan, sampai ingatan mengenai bagaimana keluarga mereka membangun kehidupan di pasar, semuanya ikut membentuk ruang tersebut.
Bagi pedagang Caringin, pasar adalah ruang ekonomi sekaligus ruang hidup. Bagi generasi pertama seperti Haji Mian dan Haji Indra, Caringin menyimpan bagian penting dari masa lalu mereka. Bagi generasi kedua seperti Haji Tatang dan Asep, pasar juga berkaitan dengan sejarah keluarga. Sementara bagi generasi berikutnya, pertanyaannya bergeser: apakah perdagangan di pasar induk masih menjadi pilihan hidup yang menarik?
Pertanyaan tentang regenerasi menjadi penting karena yang mungkin hilang ketika generasi muda meninggalkan pasar bukan hanya tenaga kerja. Ada pengetahuan yang ikut terputus. Cara membaca kualitas barang, mengenali pemasok, membangun hubungan dengan pelanggan, memperkirakan risiko dan mengambil keputusan dalam keadaan yang serba tak pasti tidak semuanya dapat dipindahkan melalui buku petunjuk. Pengetahuan semacam ini sering kali bersifat diam-diam, melekat pada kebiasaan tubuh dan ingatan, dan baru terasa nilainya ketika seseorang harus membuat keputusan sendiri.
Asep sendiri memberikan contoh menarik mengenai hubungan antara pendidikan formal dan pengalaman pasar. Ia adalah sarjana teknik pertambangan yang menempuh jalur pendidikan jauh dari perdagangan. Namun kehidupan keluarganya membuatnya tetap terhubung dengan Caringin. Ia tak meneruskan lapak, tetapi masih melihat pasar sebagai ruang ekonomi yang penting sekaligus bagian dari sejarah keluarganya. Di titik ini, persoalan regenerasi tak sesederhana meminta anak pedagang meneruskan usaha orang tua. Ada pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana pengetahuan pasar dapat tetap hidup ketika generasi mudanya memiliki pilihan pendidikan dan pekerjaan yang semakin beragam.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dibawa kembali ke studio Distrik Utara. Kali ini, pengalaman para pedagang dipertemukan dengan perspektif Galuh Karsana dan R. Aswin Rahadi dari School of Business and Management ITB. Percakapan antara Asep, Galuh dan Aswin menjadi semacam ruang kedua untuk membedah Caringin: setelah melihat apa yang berlangsung di lapangan, apa arti semua itu jika dibaca melalui pengalaman pengelolaan pasar, ilmu bisnis, dan persoalan perkembangan kota?
Dari percakapan itu terlihat bahwa pasar dan kampus sebenarnya tak perlu ditempatkan sebagai dua kutub yang saling berlawanan. Aswin dapat membaca pengalaman para pedagang melalui perangkat akademis yang berkaitan dengan kewirausahaan, risiko bisnis dan keuangan. Namun pengalaman para pedagang sekaligus memperlihatkan bahwa banyak konsep yang dipelajari di ruang kuliah sebenarnya lahir dari persoalan yang telah lama mereka hadapi dalam bentuk yang sangat konkret.
Kepercayaan, misalnya, bukan sekadar konsep dalam literatur bisnis. Di Caringin, kepercayaan menentukan kepada siapa barang diberikan, siapa yang boleh berutang, siapa yang layak menjadi mitra dan siapa yang sebaiknya dihindari. Risiko juga bukan diagram dalam presentasi. Pedagang berhadapan langsung dengan komoditas yang mudah rusak, harga yang berubah, pasokan yang tak selalu stabil dan modal yang harus terus berputar. Mereka tak memiliki kemewahan untuk menunggu data sempurna sebelum mengambil keputusan. Keputusan harus dibuat dengan informasi yang tersedia, sementara pengalaman menjadi salah satu alat untuk mengisi kekurangannya.
Galuh membawa pembicaraan ke persoalan pasar sebagai bagian dari kehidupan kota. Pasar induk bukan sekadar lokasi bertemunya penjual dan pembeli, melainkan salah satu simpul yang membuat kota dapat memperoleh dan mendistribusikan kebutuhan sehari-hari. Di dalamnya bertemu pedagang, pemasok, buruh angkut, pengemudi, pemilik warung, rumah makan dan konsumen. Ketika komoditas bergerak keluar dari Caringin menuju berbagai bagian kota, yang bergerak sesungguhnya bukan hanya barang, tetapi juga jaringan ekonomi dan sosial yang menopang kehidupan perkotaan.
Dalam pengertian ini, membicarakan Caringin berarti juga membicarakan bagaimana sebuah kota bekerja. Lefebvre membantu memperluas pandangan tersebut. Kota tak hanya dibentuk melalui rencana tata ruang, gedung, jalan dan kebijakan pemerintah. Ia juga diproduksi melalui praktik sehari-hari orang yang bekerja, berdagang, berpindah, bernegosiasi dan membangun hubungan di dalam ruang kota. Caringin menjadi contoh yang cukup jelas tentang bagaimana ruang ekonomi sekaligus menjadi ruang sosial dan ruang hidup.
Pembacaan semacam itu juga membuat persoalan regenerasi menjadi lebih serius. Jika sebuah pasar kehilangan pedagang yang memahami cara kerjanya, yang hilang bukan sekadar pelaku usaha. Kota juga kehilangan sebagian pengetahuan mengenai bagaimana rantai pasok pangan bekerja, bagaimana hubungan ekonomi informal dipelihara, dan bagaimana sebuah ruang perdagangan bertahan menghadapi perubahan zaman. Karena itu, persoalan regenerasi Caringin tak hanya merupakan urusan koperasi atau pedagang, tetapi juga persoalan keberlanjutan sebuah ekosistem kota.
Namun hubungan antara pengalaman dan ilmu akademis juga tak boleh berhenti pada kekaguman terhadap pengetahuan pedagang. Perspektif akademis tetap diperlukan ketika pasar berhadapan dengan persoalan baru yang mungkin tak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Digitalisasi transaksi, perubahan pola konsumsi, pembukuan, efisiensi distribusi, pengelolaan risiko, perubahan tata kota dan regenerasi membutuhkan perangkat pengetahuan yang dapat membantu pengalaman pasar membaca perubahan tersebut dengan lebih sistematis.
Obrolan Asep, Galuh dan Aswin dalam siniar Distrik Utara menjadi sangat penting. Mereka tak sedang menentukan mana yang lebih tinggi antara universitas dan pasar. Yang dicari justru kemungkinan untuk mempertemukan dua bentuk pengetahuan yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri. Pedagang memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman dan praktik. Kampus memiliki perangkat untuk mengabstraksikan, menguji dan mengembangkan pengetahuan tersebut. Keduanya dapat saling membaca.
Agus Ekomadyo membawa pencarian itu lebih jauh dengan melihat Caringin sebagai satu kesatuan antara bisnis, ruang sosial dan kota. Jika pasar hanya dibaca sebagai tempat transaksi, yang terlihat adalah angka perdagangan. Jika hanya dibaca sebagai bangunan, yang terlihat adalah persoalan fisiknya. Tetapi ketika pasar dibedah melalui pengalaman pedagang, pengetahuan bisnis, sejarah keluarga, persoalan regenerasi dan proses pertumbuhan kota, Caringin memperlihatkan dirinya sebagai sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah ruang yang menyimpan pengetahuan dan terus memproduksi pengetahuan baru.
Maka, belajar bisnis di Caringin bukan berarti menggantikan universitas dengan pasar. Justru sebaliknya, ia memperluas pengertian tentang apa yang dapat disebut sebagai tempat belajar. Seorang mahasiswa bisnis mungkin mempelajari manajemen risiko dari buku, lalu menemukan bentuk nyatanya ketika seorang pedagang buah harus memutuskan berapa banyak barang yang berani ia datangkan sebelum kualitasnya turun. Ia dapat membaca teori hubungan pelanggan, lalu melihat bagaimana kepercayaan dibangun selama bertahun-tahun. Ia dapat mempelajari kewirausahaan, lalu menemukan bahwa keberanian mengambil keputusan sering kali tumbuh dari pengalaman gagal yang tak tercatat dalam satu pun studi kasus.
Caringin, dengan demikian, dapat menjadi semacam universitas yang tak memiliki ruang kuliah, silabus atau toga. Pengetahuannya tersimpan dalam cara pedagang bekerja, dalam hubungan antarmanusia, dalam ingatan generasi pertama, dalam keputusan generasi kedua, dan dalam pertanyaan tentang apakah generasi berikutnya masih mau meneruskannya. Ketika pengalaman tersebut kemudian dipertemukan dengan perspektif bisnis, pengelolaan pasar dan teori kota, pasar tak lagi sekadar menjadi objek yang diamati oleh kampus. Ia berubah menjadi medan belajar yang mampu menantang, melengkapi dan bahkan mengoreksi cara kita memahami bisnis dan kota.
Di sanalah nilai Caringin mungkin justru terletak. Bukan semata karena ia memperdagangkan buah dan sayuran dalam skala besar, melainkan karena selama puluhan tahun ia telah menjadi tempat orang belajar mengambil keputusan, membangun kepercayaan, menghadapi risiko, menghidupi keluarga dan ikut membentuk sebuah kota. Membaca Caringin secara holistik berarti mengakui bahwa pengetahuan tak selalu datang dari gedung yang secara resmi disebut universitas. Kadang ia tumbuh dari lapak, dari pengalaman yang diwariskan, dari kesalahan yang dibayar mahal, dan dari orang-orang yang setiap hari bekerja tanpa pernah merasa sedang memberikan kuliah.




Comments