top of page
logo-putih.png

Ilmuwan Kimia diatas Motor 500 cc

Sep 29
5 min read

Obrolan Distrik Utara dengan Dr. Granprix T. M. Kadja

Esai pengantar podcast Dsitrik Utara oleh Priyo Utomo Laksono.



Salah satu ilmuwan kelas dunia (World Top 2% Scientist) adalah seorang ilmuwan kimia yang berasal dari Kupang, NTT, bernama depan GrandPrix. Nama yang terlampau otomotif jika stereotip kita soal ilmuwan kimia identik dengan jas lab putih, tabung reaksi, dan perilaku quirky. Tapi saat Dr. GrandPrix “GP” Thomryes Marth Kadja datang ke studio Distrik Utara, stereotip itu langsung larut di udara pagi: ia menunggangi motor besar ber-cc tinggi yang menggeram rendah, berwarna hitam, dan berpakaian touring serba hitam. Ia sedang dalam perjalanan weekend touring ke Jogja, pastinya sejauh mungkin dari lab Kimia, dan mampir ke studio kami untuk berdiskusi.


Sejak duduk minum kopi dan makan roti sejenak bersama saya dan Indra Hidayat sebelum diskusi siniar dimulai, GP sudah menyajikan dirinya sebagai rangkaian paradoks yang mengagumkan: putra daerah nun jauh di Timur yang berprestasi sampai ke jantung akademis Bandung, seorang ahli kimia yang peduli pada kolaborasi dengan bidang-bidang lain, seorang akademisi yang sangat menekankan pentingnya persentuhan dengan ranah praktis, seorang muda yang karier akademisnya bergerak jauh lebih cepat dari usianya sendiri, seorang pencapai yang unggul tapi entah bagaimana terasa tetap bersahaja.

Maka podcast kami dengan GP tentunya menjadi seru. Terutama saat bicara mengenai harapan pencapaian putra daerah yang jauh dari pusat, soal komunikasi sains, soal diseminasi pengetahuan yang efektif, dan soal touring motor dan pentingnya daya jelajah, atau daya bermain, bagi ilmuwan.


GP lahir di Kupang pada 1993, kemudian menempuh pendidikan tinggi di Jakarta dan Bandung. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di ITB pada usia 24 tahun dan kemudian berkembang sebagai peneliti material dengan perhatian pada nanopori, zeolit, MXene dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan material serta energi. Namanya beberapa kali masuk daftar Top 2% Scientist dunia berdasarkan indikator dampak publikasi dan sitasi. Pada 2024 ia menerima Penghargaan Achmad Bakrie kategori Ilmuwan Muda. Sekarang ia mengajar di ITB dan terlibat dalam pengembangan pusat-pusat penelitian dan pusat unggulan IPTEK.


Tetapi yang menarik bukan karier yang mengebut tersebut. Yang menarik adalah sepak terjangnya bikin kita ingin bertanya apa artinya bagi Indonesia ketika seorang anak dari daerah dapat mencapai pusat pengetahuan nasional, dan bagaimana pengetahuan yang ia peroleh kemudian dapat kembali bergerak ke daerah?

Paling mudah memang membayangkan pembangunan sebagai sesuatu yang mengalir satu arah. Pusat memiliki pengetahuan, teknologi dan modal, kemudian daerah menerima dan menerapkannya. Dalam pola ini, anak daerah yang berhasil menjadi ilmuwan dianggap berhasil ketika ia mampu meninggalkan daerahnya, masuk universitas besar, memperoleh gelar tinggi dan berkarier di pusat-pusat akademik. Cerita selesai.


Tapi bisa jadi ceritanya tak begitu. Daerah bukan hanya tempat asal para talenta yang kemudian dikirim ke Jakarta atau Bandung. Daerah juga merupakan sumber pertanyaan penelitian.


Nusa Tenggara Timur, tempat GP berasal, memiliki persoalan air, energi, pertanian lahan kering, ketahanan pangan, wilayah kepulauan dan pengelolaan pesisir yang berbeda dengan Jawa. Di wilayah lain Indonesia, persoalannya berbeda lagi: mineral dan hilirisasi di Sulawesi dan Maluku Utara, gambut dan kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra, biodiversitas di Papua, persoalan pesisir di kepulauan Maluku, sampai tekanan urbanisasi di kota-kota besar Jawa. Semua itu bukan cuma persoalan administratif yang membutuhkan anggaran pembangunan tapi adalah bahan penelitian.

Karena itu pemerataan penelitian bukan soal bagaimana setiap kabupaten harus memiliki laboratorium sekelas ITB, tapi soal membangun hubungan dua arah antara pusat pengetahuan dan daerah. Peneliti di Bandung atau Jakarta perlu datang dengan keahlian dan fasilitasnya, tetapi juga perlu datang untuk mendengarkan persoalan yang hanya dapat dipahami dengan baik di lapangan. Sebaliknya, perguruan tinggi di daerah harus punya kesempatan untuk membawa pertanyaan dan pengetahuannya sendiri ke dalam jaringan penelitian nasional.


Angka-angka kita menunjukkan mengapa ini penting. Belanja penelitian dan pengembangan Indonesia selama beberapa tahun terakhir masih berada di kisaran seperempat persen dari PDB, jauh dari negara-negara yang telah membangun kapasitas inovasi lebih besar. Jumlah peneliti per satu juta penduduk juga masih relatif rendah dibanding beberapa negara tetangga di Asia Tenggara. Ini bukan hanya persoalan berapa banyak uang yang kita keluarkan untuk penelitian. Ini adalah persoalan berapa banyak manusia yang kita beri kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, melakukan eksperimen, gagal, mencoba lagi dan akhirnya menemukan sesuatu. Kebatulan GP juga tergabung dalam Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) maka kepeduliannya soal ini banyak ia ungkapkan dalam forum-forum para ilmuwan.


Penelitian memang membutuhkan infrastruktur, tetapi tidak selalu berupa bangunan. Laboratorium adalah infrastruktur. Data adalah infrastruktur. Beasiswa adalah infrastruktur. Waktu seorang dosen untuk membaca dan melakukan eksperimen adalah infrastruktur. Jaringan antara universitas, industri, pemerintah dan masyarakat juga infrastruktur. Bahkan keberanian untuk membiayai penelitian yang belum jelas hasil komersialnya merupakan bagian dari infrastruktur pengetahuan.


Ini penting karena hasil penelitian tidak selalu datang dalam bentuk yang segera bisa dijual. Bidang yang ditekuni GP, misalnya, berada di wilayah material dan kimia yang sangat dasar. Nanomaterial, katalis, material berpori atau material dua dimensi mungkin bagi masyarakat awam terdengar jauh dari persoalan sehari-hari. Tetapi teknologi energi, pemrosesan material dan berbagai teknologi industri masa depan juga berangkat dari penelitian semacam itu. Sebagian penelitian bertugas memperluas batas dari apa yang mungkin dilakukan.


Dan hubungan dengan daerah bisa juga dimulai dari sana. Persoalan energi di pulau-pulau kecil dapat menjadi pertanyaan bagi ilmuwan material. Persoalan air dapat mempertemukan ahli kimia dengan ahli lingkungan dan pemerintah daerah. Kekayaan mineral dapat menjadi alasan untuk mengembangkan penelitian pengolahan material dan teknologi yang memberikan nilai tambah lebih besar di dalam negeri, bukan sekadar mengekspor bahan mentah. Persoalan pertanian dapat melahirkan kolaborasi antara ilmuwan, petani dan industri. Dengan demikian daerah bukan lagi sekadar objek penerapan teknologi yang dibuat di tempat lain, tetapi ikut menentukan pertanyaan yang harus dijawab oleh ilmu pengetahuan.


Dalam konteks itu, kisah GP menjadi lebih inspiratif daripada sekadar kisah seorang anak Kupang yang berprestasi di ITB. Ia menunjukkan satu sisi penting dari mobilitas talenta: kadang manusia memang harus pergi jauh untuk mendapatkan pengetahuan, fasilitas dan jaringan yang belum tersedia di tempat asalnya. Tetapi perjalanan itu tak perlu jadi jalan satu arah. Pengetahuan yang diperoleh di pusat perlu kembali bergerak melalui kolaborasi, mahasiswa, penelitian, teknologi dan jaringan.


Percakapan kami mengenai touring, dalam konteks ini, jadi terasa relevan. Kami dan GP bicara tentang daya jelajah ilmuwan. Seorang ilmuwan memang perlu memiliki kemampuan untuk bergerak keluar dari laboratoriumnya, bertemu orang dari disiplin lain, melihat persoalan dalam konteks nyata dan sesekali bermain tanpa tujuan akademis yang terlalu jelas. Pengetahuan juga membutuhkan perjalanan.


Kita tentu tak membutuhkan seorang GP di setiap kabupaten. Meski kalau bisa demikian ya lebih baik. Tetapi kita membutuhkan sistem yang memungkinkan lebih banyak anak dari Kupang, Ambon, Jayapura, Pontianak, Banda Aceh, Garut dan berbagai tempat lain menjadi ilmuwan tanpa harus menganggap daerah asalnya sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan selamanya. Mereka boleh pergi sejauh mungkin. Malah mereka harus pergi jauh, melihat dunia, belajar dari pusat-pusat ilmu pengetahuan terbaik dan membawa pulang standar yang lebih tinggi.


Tetapi setelah itu pengetahuan harus bergerak kembali.


GP datang ke studio pagi itu dengan motor hitam besarnya, setelah berangkat dari jauh dan sebelum melanjutkan perjalanan ke Jogja. Ia adalah ilmuwan yang pekerjaannya sehari-hari berurusan dengan sesuatu yang sangat kecil, molekul dan material nano, tetapi tetap memiliki dorongan untuk melihat dunia yang luas. Ada sesuatu yang sangat keren dalam citra itu. Penelitian membutuhkan kemampuan melihat sesuatu sedekat mungkin, sekaligus keberanian untuk pergi cukup jauh agar kita tahu untuk apa sebenarnya kita melihatnya.

Dan diluar urusan jelajah, GP juga seorang musisi, tapi itu untuk topik bahasan lain kali saja tentunya.

 
 
 

Comments


bottom of page