top of page
logo-putih.png

Tentang Tradisi Tenun Sikka

Oct 6
7 min read

Esai recap podcast bersama Ina Veronika Ginting



Ada bunyi ketukan yang, kalau didengar cukup lama, barangkali bisa menjadi semacam bahasa. Ketukannya teratur tetapi tak mekanis; ada jeda, tarikan, perubahan ritme, dan tentu saja keterampilan tangan yang menghasilkan semuanya. Saya teringat bunyi itu ketika berbincang dengan Ina Veronika Ginting tentang tradisi tenun di Kabupaten Sikka, Flores. Dalam Odyssey, Penelope menenun sambil menunggu Odysseus pulang dari perang. Ia menenun pada siang hari dan mengurai pekerjaannya pada malam hari untuk menunda para pelamar yang mendesaknya memilih suami. Tenun dalam kisah itu bukan sekadar pekerjaan domestik, tetapi cara seorang perempuan mengatur waktu dan mempertahankan kehendaknya sendiri.


Dalam percakapan Distrik Utara dengan Ina, yang telah meneliti tradisi tenun masyarakat Sikka, muncul cerita yang berbeda tetapi menarik. Ia bercerita bahwa pada suatu masa yang tak terlalu silam, ritme dan keterampilan seorang perempuan ketika menenun dapat menjadi salah satu ukuran kecakapan dan kesiapan seorang perempuan untuk menjadi istri. Jadi yang dinilai bukan hanya kain yang selesai dibuat, tetapi juga kemampuan dan ketekunan orang yang bekerja di baliknya. Bunyi ketukan ternyata bisa membawa cerita tentang perempuan, keterampilan, keluarga dan perkawinan.


Bagi saya dan Jawot sebagai host, percakapan itu kemudian berkembang jauh melampaui soal tekstil. Jawot datang dengan latar pariwisata dan fotografi, sementara saya pernah mendarat di Desa Sikka dalam ekspedisi kayak laut mengelilingi Flores dan sempat melihat masyarakat serta aktivitas menenun di sana. Tetapi melihat dari dekat tentu tak sama dengan memahami. Ina, dengan penelitian dan pengalaman akademiknya, membantu membuka lapisan-lapisan yang sebelumnya tak kami lihat. Tulisan ini adalah usaha saya mengondensasikan percakapan tersebut menjadi beberapa hal yang menurut saya layak dibawa pulang. Bukan ensiklopedia tentang tenun Sikka, apalagi pengganti penelitian Ina, melainkan recap dari sebuah percakapan yang membuat sehelai kain terlihat jauh lebih kompleks.


1. Tenun adalah pengetahuan yang diwariskan.

Secara tradisional, proses tenun Sikka mencakup rangkaian panjang: memperoleh serat kapas, membuat benang, mengikat pola, mewarnai, menyusun lungsin hingga menenun. Ikat Tenun Sikka telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019. Yang penting dari status tersebut bukan sekadar bahwa kainnya dianggap berharga, tetapi bahwa ada pengetahuan yang menyertainya dan diwariskan antargenerasi.

Anak perempuan belajar dengan melihat perempuan yang lebih tua bekerja, membantu, mencoba, salah, lalu perlahan menguasai gerakan dan pengetahuan yang diperlukan. Ini sebenarnya sebuah sistem pendidikan yang berlangsung tanpa ruang kelas. Ketika seorang perempuan duduk di depan alat tenun, yang berlangsung bukan cuma produksi kain, tetapi transmisi pengetahuan yang mungkin sudah melewati beberapa generasi.

Di sinilah konsep warisan budaya benda dan tak benda bertemu. Kain adalah benda, tetapi pengetahuan tentang bagaimana membuatnya, mengapa motif tertentu dibuat, kapan digunakan dan apa maknanya adalah warisan tak benda. Kita bisa menyimpan kain di museum, tetapi tak bisa memasukkan seluruh pengetahuan pembuatnya ke dalam lemari kaca.


2. Pengetahuan itu hidup melalui manusia dan hubungan sosial.

Pewarisan keterampilan menenun di Sikka sangat dekat dengan keluarga dan jaringan perempuan. Hubungan guru dan muridnya pun tak selalu berbentuk pendidikan formal. Seorang anak belajar dari ibunya, neneknya, saudara perempuan, atau perempuan lain dalam lingkungan sosialnya. Motif dan teknik dapat menjadi semacam arsip keluarga yang tak ditulis dengan huruf, tetapi disimpan dalam ingatan, tangan dan kebiasaan.

Karena itu saya kira lebih berbicara tentang kuatnya peran perempuan dalam pewarisan pengetahuan tenun yang bagi masyarakat Sikka keterampilan ini diturunkan secara “matriarkal”.Yang jelas, dalam tradisi tenun, perempuan bukan sekadar pembuat benda budaya. Mereka adalah salah satu jalur utama yang membuat pengetahuan itu tetap hidup.


3. Kain membawa nilai sosial.

Ingat anekdot di depan soal Odyssey? Kaitannya dengan obrolan kami:  kemampuan menenun dahulu berkaitan dengan kecakapan seorang perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Kain mempunyai fungsi dalam berbagai tahap kehidupan, termasuk perkawinan, dan mempunyai nilai sosial, budaya serta ekonomi.

Ketelitian, kesabaran, kemampuan mengikuti pola dan ketekunan tak hanya menghasilkan kain yang bagus, tetapi juga memperlihatkan kualitas orang yang membuatnya. Penelope dan perempuan Sikka tentu hidup dalam dua kebudayaan yang sangat berbeda, tetapi keduanya mengingatkan kita pada satu hal: pekerjaan yang dari luar terlihat domestik dapat memiliki konsekuensi sosial dan bahkan menjadi cara seseorang mempertahankan posisi serta kehendaknya.


4. Kebudayaan tak pernah benar-benar berhenti pada satu bentuk.

Percakapan kami kemudian membawa sejarah Sikka jauh ke belakang, sampai ke jaringan maritim Portugis. Vasco da Gama tentu tak pernah datang ke Sikka. Pelayarannya pada 1497–1499 lebih tepat dipahami sebagai salah satu mata rantai yang kemudian membuka jalur laut Eropa menuju India. Portugis menaklukkan Malaka pada 1511, lalu jaringan perdagangan dan pelayarannya bergerak lebih jauh ke kepulauan timur. Pedagang Portugis sudah mengunjungi Solor beberapa tahun kemudian, dan dari jaringan maritim inilah perdagangan, kekuasaan serta misi keagamaan kemudian bersentuhan dengan Flores.

Pada 1562, tiga Dominikan dari Malaka membuka misi di Solor. Dari sini berkembang jaringan Kekristenan yang kemudian menjangkau berbagai komunitas di Flores, termasuk Sikka. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada 1598 paroki Santa Lucia di Sikka telah memiliki lebih dari seribu orang dalam komunitas Kristen.


Sejarah ini menarik bukan terutama karena kita perlu mengingat tanggal-tanggal tersebut. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana sebuah kebudayaan berubah ketika berjumpa dengan dunia luar. Kapal membawa barang, tetapi juga membawa bahasa, agama, kekuasaan, teknologi, gagasan dan manusia. Semua itu kemudian bertemu dengan masyarakat yang sudah memiliki sejarahnya sendiri.


5. Katolik di Sikka adalah contoh bagaimana budaya baru dapat diadopsi tanpa menghapus seluruh budaya lama.

Menurut saya, justru bagian ini lebih menarik daripada pertanyaan tentang siapa yang “pertama” membawa Katolik ke Sikka. Sebelum Katolik hadir, masyarakat Sikka sudah memiliki kosmologi, hubungan dengan leluhur, aturan adat, struktur sosial dan ruang ritualnya sendiri. Ketika agama baru masuk, ia tak datang ke ruang kosong.

Prosesnya lebih mirip penerjemahan budaya. Gagasan baru harus masuk ke dalam bahasa, simbol dan cara memahami dunia yang sudah ada. Kajian mengenai istilah ketuhanan dalam bahasa Sikka, misalnya, menunjukkan bagaimana istilah amapu kemudian digunakan dalam konteks Kristen, tetapi memiliki hubungan dengan cara masyarakat Sikka sebelumnya memahami dunia spiritual.


Kebudayaan tak bekerja seperti papan tulis yang dihapus lalu ditulisi kembali. Ia lebih menyerupai tenun: benang baru masuk ke dalam pola yang sudah ada, kemudian menghasilkan susunan yang mungkin berbeda dari sebelumnya tetapi tetap membawa jejak benang lama. Katolik di Sikka kemudian menjadi Katolik yang berjumpa dengan sejarah Sikka. Ia mempunyai corak Nusantara karena mengalami proses adopsi, negosiasi dan pengayaan di dalam kebudayaan lokal.


Tentu proses tersebut tak selalu berlangsung damai atau setara. Ada kekuasaan dan konflik di dalam sejarahnya. Tetapi perubahan budaya sendiri tak bisa dijelaskan hanya sebagai penghapusan. Sering kali yang terjadi justru lebih rumit: sebagian ditinggalkan, sebagian dipertahankan, sebagian diberi makna baru.


6. Karena itu, mempertahankan benda budaya berarti mempertahankan cara berpikir di belakangnya.

Ini mungkin salah satu hal yang paling saya bawa pulang dari percakapan tersebut. Kita sering berbicara tentang pelestarian kain, rumah adat, alat musik atau benda ritual seolah tugasnya adalah menjaga bentuk fisiknya agar tetap ada. Padahal benda budaya hanyalah permukaan dari sesuatu yang lebih dalam.


Di balik sehelai kain terdapat pengetahuan tentang tumbuhan, warna, lingkungan, tubuh, waktu, keluarga, simbol dan hubungan sosial. Dalam istilah filsafat budaya, manusia tidak hanya hidup di dalam dunia benda; manusia membangun dunia melalui benda-benda yang ia beri makna. Sebuah kain menjadi kebudayaan bukan semata karena bahan dan bentuknya, tetapi karena manusia mengetahui bagaimana membuatnya, menggunakannya dan memahami apa artinya.


Maka ketika praktik menenun berhenti, yang hilang bukan cuma kemampuan menghasilkan kain. Kita juga kehilangan sebagian cara berpikir yang selama berabad-abad dibentuk melalui kegiatan itu. Warisan benda adalah pintu menuju warisan tak benda.


7. Pengetahuan ekologis lama juga hidup di dalam praktik tersebut.

Tenun tradisional Sikka mengenal kapas dan berbagai bahan tumbuhan untuk pewarnaan. Artinya, seorang penenun membutuhkan pengetahuan tentang lingkungan: tanaman apa yang dapat digunakan, bagaimana mengolahnya, bagaimana mendapatkan warna dan bagaimana mengulangi prosesnya.


Singkatnya, budaya tekstil lahir pula dalam konteks ekologi yang utuh.


Kita sekarang mungkin menyebut sebagian pengetahuan itu “sustainable”, tapi untuk bisa mempertahankan pengetahuan tersebut tentu kita kadang bertemu paradoks. Pewarna alami membutuhkan waktu dan tenaga, sementara bahan sintetis bisa lebih praktis dan ekonomis. Jadi tantangannya bukan sekadar mengembalikan semua orang kepada cara lama, tetapi mencari cara agar pengetahuan ekologis tersebut tetap relevan dalam kehidupan ekonomi hari ini.


8. Pelestarian adalah persoalan regenerasi.

Foto bisa mendokumentasikan motif. Museum bisa menyimpan kain. Buku bisa menjelaskan sejarahnya. Tetapi semua itu tak bisa menggantikan seorang anak muda yang duduk di sebelah penenun yang lebih tua dan belajar mengikat benang.


Kata “melestarikan” kadang membuat kita membayangkan kebudayaan sebagai benda yang harus dijaga agar tak berubah. Padahal kebudayaan hanya hidup kalau ada manusia yang terus mempraktikkannya. Regenerasi bukan berarti mengembalikan masyarakat ke masa lalu, tetapi memastikan pengetahuan masa lalu masih mempunyai tempat dalam kehidupan masa depan.


Kalau generasi berikutnya hanya mengenal tenun Sikka sebagai kain cantik yang dijual kepada wisatawan, bentuknya mungkin bertahan. Tetapi sistem pengetahuan yang membuat kain itu bermakna bisa saja sudah hilang.


9. Pariwisata seharusnya membantu orang melihat manusia di balik benda.

Ini menjadi relevan karena percakapan kami berlangsung di antara orang-orang yang juga berkecimpung dalam dunia pariwisata. Tenun sangat mudah dijadikan atraksi: wisatawan datang, melihat perempuan menenun, mengambil foto, membeli kain, lalu pergi.

Tapi pengalaman wisata bisa jauh lebih holistik kalau pengunjung diajak memahami orang, lingkungan dan sejarah di balik kain tersebut. Penelitian Ina, yang kurang lebih berada dalam paradigma co-creation tourism storytelling pada komunitas tenun menunjukkan pentingnya cerita yang dibangun bersama oleh penenun, masyarakat, pelaku pariwisata dan wisatawan.

Dengan begitu, wisatawan tak hanya membawa pulang kain. Mereka membawa sedikit pemahaman tentang manusia yang membuatnya, masyarakat yang tak sama dengan asal para wisatawan.


10. Kebudayaan tak perlu dibatasi oleh asal geografis.

Ina sendiri berasal dari tanah Karo, Sumatera Utara, dan tentu mempunyai tradisi tekstilnya sendiri, tetapi ia memilih meneliti masyarakat tenun di Sikka. Saya bukan orang Sikka; hubungan saya dengan tempat itu bermula dari laut, sebuah kayak dan perjalanan mengelilingi Flores. Jawot datang dengan pengalaman di dunia pariwisata dan fotografi. Menurut saya, justru di situ ada sesuatu yang penting tentang Indonesia. Kita tak harus berasal dari sebuah kebudayaan untuk ikut merawat pengetahuannya

Pada akhirnya saya kembali kepada bunyi ketukan yang menjadi awal percakapan kami. Setelah mendengar cerita Ina, ketukan alat tenun tak lagi terdengar seperti bunyi mekanis dari sebuah pekerjaan tangan. Di dalamnya ada sejarah perempuan dan perkawinan, pengetahuan tentang kapas dan tumbuhan, hubungan kekerabatan, kerajaan dan dunia pra-Katolik, perjumpaan dengan pelayaran Portugis, agama yang kemudian beradaptasi dengan kebudayaan setempat, serta persoalan yang sangat masa kini tentang bagaimana semua pengetahuan itu diwariskan.

 

 
 
 

Comments


bottom of page