Ikatan dengan Tanah yang Bergerak
- May 8
- 3 min read
Diskusi Siniar Distrik Utara dengan Prananda Malasan dan Asih

Jawot bertanya pada dua peneliti alias dosen di hadapan kami kurang lebi begini: Museum Mbah Marijan termasuk memikat pengunjung, menghibur, tapi menginformasi juga soal gempa. Lebih efektif, mungkin, daripada museum yang terlu saintifik. Apakah pameran wawasan gempa yang dinamai Ikatan Dengan Tanah Bergerak yang akan diadakan Asih dan Panda memiliki tujuan seperti itu?
Panda mengafirmasi. Spiritnya memang menjembatani wawasan publik dengan wawasan akademik.
Pertanyaan itu terdengar seperti lemparan iseng khas Jawot, tapi mewakili inti obrolan kami dengan Panda dan Asih malam itu. Karena di balik candanya, ada sesuatu yang cukup serius: kenapa sebagian pengetahuan kebencanaan yang paling melekat di kepala publik justru sering datang dari cerita, sosok, dan pengalaman yang terasa dekat—bukan dari diagram akademik atau museum yang terlalu steril?.
Dari situ percakapan mulai bergerak ke rencana pameran, sebuah proyek yang diinisiasi Asih bersama Panda dan akan digelar di Selasar Sunaryo. Tempat yang biasanya identik dengan seni rupa kontemporer itu kali ini akan dipakai untuk membicarakan gempa: sebabnya, risikonya, hingga bagaimana manusia hidup di atas tanah yang terus bergerak. Dan harapannya banyak aspek partisipatorisnya.
Dalam banyak hal, obrolan ini terasa seperti sequel dari siniar kami sebelumnya bersama Rahma dan Endra Gunawan. Kalau Rahma dan Endra banyak membawa kami masuk ke logika saintifik soal sesar dan tekanan bumi, maka Panda dan Asih membawa pertanyaan yang lebih dekat ke kehidupan sehari-hari: kenapa masyarakat Indonesia masih terasa begitu jauh dari kesadaran gempa, padahal hidup di salah satu wilayah paling aktif secara tektonik di dunia?
Asih menjelaskan bahwa kata “ikatan” dalam judul pameran itu dipahami secara luas. Bukan sekadar pengetahuan teknis soal mitigasi, tapi keterhubungan manusia dengan tanah tempat ia tinggal. Menurutnya, problem terbesar bukan kurangnya data, melainkan lemahnya hubungan emosional dan keseharian warga dengan kesadaran kebencanaan itu sendiri.
Kita tahu daerah rawan macet. Kita tahu coffee shop baru. Tapi banyak yang tak tahu shelter terdekat saat gempa besar terjadi, atau jalur mana yang paling aman untuk evakuasi.
Padahal, kata Asih, informasi soal gempa bukan untuk menakut-nakuti. Misalnya soal tinggal di kawasan Sesar Lembang. Tujuannya bukan membuat warga panik, tapi memberi kemampuan mengambil keputusan yang lebih baik. Empowerment, bukan paranoia.
Dan semakin lama kami ngobrol, semakin terasa bahwa Indonesia memang punya hubungan yang agak aneh dengan gempa. Kita sangat akrab dengan tragedinya, tapi jauh dari ilmunya. Ruang berita dipenuhi jumlah korban, bangunan runtuh, footage kepanikan, dan presenter TV memakai rompi BNPB. Tetapi penjelasan saintifik soal mengapa gempa terjadi dan apa relevansinya bagi kehidupan sehari-hari warga masih minim sekali dalam bahasa yang ramah publik.
Asih bahkan bilang bahwa di setiap daerah di Indonesia sebenarnya ada peneliti yang dedikatif soal mitigasi dan kesadaran gempa, tapi mereka nyaris tak punya panggung. Ia bercanda bahwa sekarang peneliti juga punya beban menjadi influencer.
Dan rasanya itu bukan sepenuhnya bercanda.
Karena pengetahuan yang tak bisa berkomunikasi akhirnya kalah oleh algoritma.
Di titik ini latar belakang Panda menjadi sangat relevan. Nama lengkapnya Prananda Malasan, dosen desain ITB yang selama ini banyak concern pada pengarsipan benda-benda keseharian, craft, dan folk art. Ia bahkan mendirikan Museum Benda Keseharian di ITB. Ketertarikannya bukan pada benda sebagai nostalgia semata, tapi pada cara manusia menciptakan solusi dari keterbatasan lingkungan, sumber daya, dan budaya tempat mereka hidup.
Karena itu ia merasa pendekatan mitigasi gempa juga tak bisa sepenuhnya top-down. Yang sering hilang justru penggabungan antara pengetahuan institusional dengan pengalaman keseharian warga. Padahal masyarakat selalu punya intuisi ruang, memori kolektif, dan cara bertahan hidup yang tak kalah penting.
Mungkin itu sebabnya pendekatan pameran ini terasa menarik. Mereka tak ingin membuat pameran yang terasa seperti kuliah geologi yang terlalu formal. Yang ingin dibangun justru pengalaman yang membuat orang pulang dengan rasa penasaran baru terhadap tempat tinggalnya sendiri.
Asih bilang target sederhananya: setelah keluar dari pameran, orang jadi berpikir, “Kalau gempa terjadi di daerah saya, saya harus lari ke mana?”
Pertanyaan sederhana, tapi mungkin terlalu jarang kita tanyakan.
Yang juga menarik, Asih datang dari dunia teknik sipil dan sedang mengembangkan aplikasi AI untuk meminimalisir dampak fatal bangunan saat gempa. Ia berkali-kali menekankan bahwa yang sering membunuh manusia bukan gempanya sendiri, melainkan bangunan yang runtuh.
Kalimat itu terasa penting karena ia menggeser fokus dari bencana sebagai “takdir alam” menjadi sesuatu yang juga berkaitan dengan keputusan manusia: bagaimana membangun, merancang kota, dan menyebarkan pengetahuan.
Ia lalu membandingkan dengan Jepang, tempat ia pernah belajar. Di sana, ketika gempa terjadi di satu wilayah, seluruh negara ikut belajar. Yang dibahas bukan hanya korban, tapi juga sebab saintifiknya dan bagaimana mitigasinya jika hal serupa terjadi di daerah lain.
Gempa menjadi pengetahuan kolektif.
Sedangkan di Indonesia, gempa sering berhenti sebagai tragedi lokal. Daerah lain menonton sebentar, lalu lupa.
Dan mungkin di situlah relevansi terbesar obrolan ini. Bahwa mitigasi bukan cuma soal teknologi, sirine, atau aplikasi. Ia juga soal budaya. Soal apakah masyarakat merasa punya hubungan dengan tanah tempat mereka hidup.
Atau jangan-jangan kita memang sudah terlalu lama hidup di atas tanah yang bergerak tanpa benar-benar mencoba memahaminya.



Comments