Belajar dari Manchester Van Java: Bagaimana Majalaya Bergerak
- Jun 6
- 5 min read
Esai Podcast bersama Zulfa Nasrullah

Sepiring roti dan secangkir kopi sudah lebih dulu hadir di meja ketika rekaman podcast Distrik Utara belum juga dimulai. Di salah satu kursi studio, Zulfa Nasrullah menunggu sambil berbincang ringan. Seperti banyak percakapan sebelum mikrofon dinyalakan, obrolan mengalir ke mana-mana: sekolah, sejarah daerah, teater, anak muda, hingga rencana mengaktivasi sebuah taman makam pahlawan baru di Majalaya.
Bukan membangun. Mengaktivasi. Pilihan kata itu menarik perhatian.
Lebih menarik lagi ketika Zulfa menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang akan digunakan adalah teater. Bagi sebagian orang, taman makam pahlawan mungkin cukup dibangun, dipagari, diberi prasasti, lalu selesai. Namun bagi seseorang yang pernah lama berkecimpung dalam dunia teater, ruang publik rupanya tak cukup hanya berdiri secara fisik; ia harus hidup dalam imajinasi masyarakat yang menggunakannya.
Pandangan tersebut ternyata menjadi pintu masuk yang baik untuk memahami Majalaya.id, media independen yang ia dirikan bersama sejumlah rekannya pada masa pandemi Covid-19. Sebab semakin jauh percakapan berlangsung, semakin jelas bahwa yang sedang dibangun oleh Majalaya.id bukan sekadar media lokal. Yang sedang mereka upayakan adalah sesuatu yang lebih mendasar: membangun hubungan antara masyarakat dengan tempat tinggalnya sendiri.
Hal itu terdengar sederhana. Padahal dalam konteks pembangunan daerah, hubungan emosional antara warga dan wilayahnya sering kali menjadi sumber daya yang jauh lebih langka dibandingkan beton, aspal, atau anggaran.
Di Indonesia, pembangunan daerah masih sering dipahami melalui angka-angka yang kasat mata. Panjang jalan yang dibangun. Besaran investasi yang masuk. Jumlah industri yang berdiri. Tingkat pertumbuhan ekonomi. Semua indikator tersebut tentu penting. Namun ada dimensi lain yang lebih sulit diukur: rasa memiliki terhadap sebuah tempat.
Seberapa banyak warga mengenal sejarah kotanya sendiri? Seberapa banyak anak muda merasa masa depan mereka masih terhubung dengan kampung halamannya? Seberapa banyak masyarakat percaya bahwa daerah tempat mereka tinggal layak diperjuangkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jarang muncul dalam laporan pembangunan. Padahal jawabannya sering menentukan apakah sebuah daerah akan berkembang sebagai komunitas yang hidup atau sekadar menjadi tempat orang datang untuk bekerja lalu pergi.
Majalaya menawarkan contoh yang menarik.
Terletak di Kabupaten Bandung, Majalaya pernah menjadi salah satu pusat industri tekstil terpenting di Indonesia. Pada paruh pertama abad ke-20, kawasan ini berkembang menjadi sentra produksi tekstil, sebuah cottonpolis, mungkin semacam "Manchester van Java". Pabrik-pabrik berdiri, perdagangan tumbuh, dan identitas kota dibentuk oleh industri yang menjadikannya terkenal jauh melampaui batas wilayah Bandung.
Namun seperti banyak kota industri lain di dunia, perubahan ekonomi turut mengubah wajah Majalaya. Sebagian industri meredup. Mobilitas meningkat. Bandung tumbuh sebagai pusat ekonomi dan pendidikan yang lebih besar. Banyak warga Majalaya kini bekerja di Bandung atau wilayah metropolitan sekitarnya, sementara kampung halaman mereka bertransformasi menjadi bagian dari lanskap urban yang lebih luas.
Fenomena tersebut sebenarnya bukan kasus yang unik. Menurut data Badan Pusat Statistik, lebih dari 57 persen penduduk Indonesia kini tinggal di wilayah perkotaan, angka yang diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Urbanisasi menciptakan peluang ekonomi yang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan identitas. Ketika pusat gravitasi ekonomi berpindah ke kota-kota besar, bagaimana daerah-daerah di sekitarnya mempertahankan karakter dan kebanggaannya sendiri?
Di titik itulah Majalaya.id menjadi menarik untuk diamati.
Media ini lahir pada 2020, ketika pandemi memaksa banyak aktivitas berpindah ke ruang digital. Pada periode yang sama, konsumsi media daring di Indonesia melonjak tajam. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan tingkat penetrasi internet nasional telah melampaui 78 persen populasi. Bahkan di daerah-daerah yang sebelumnya tidak terlalu aktif secara digital, masyarakat mulai menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari informasi, berdiskusi, dan membangun komunitas secara daring.
Banyak media lahir dalam situasi tersebut. Namun Majalaya.id memilih jalur yang berbeda.
Alih-alih bersaing dalam perlombaan kecepatan berita, mereka justru bergerak ke arah yang lebih lambat dan lebih mendalam. Mereka menulis tentang sejarah lokal. Mendokumentasikan bangunan dan ruang publik. Mengangkat isu sosial. Membahas kebudayaan. Menyelenggarakan kegiatan komunitas. Bahkan menjalin hubungan erat dengan aktivitas seni dan teater.
Jika media lokal konvensional umumnya berfungsi sebagai penyampai informasi, Majalaya.id bergerak lebih dekat pada peran sebagai fasilitator percakapan publik.
Perbedaannya penting.
Media penyampai informasi bertanya: apa yang terjadi hari ini?Media yang membangun komunitas bertanya: mengapa tempat ini penting bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya?
Pertanyaan kedua sering kali menghasilkan dampak jangka panjang yang lebih besar.
Dalam studi pembangunan perkotaan terdapat istilah place-making, yaitu upaya membangun keterikatan masyarakat terhadap ruang tempat mereka hidup. Selama beberapa dekade, para perencana kota menemukan bahwa keberhasilan sebuah wilayah tidak hanya ditentukan oleh kualitas infrastrukturnya, tetapi juga oleh tingkat partisipasi sosial masyarakatnya. Kota yang dicintai warganya cenderung memiliki tingkat keterlibatan sipil yang lebih tinggi, komunitas yang lebih aktif, dan kemampuan yang lebih baik untuk menghadapi perubahan.
Majalaya.id, disadari atau tidak, sedang mengerjakan bentuk place-making tersebut.
Mereka membantu warga melihat kembali Majalaya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar lokasi tempat tinggal. Mereka menghadirkan kembali cerita-cerita yang selama ini tercecer. Mereka membangun arsip kolektif mengenai sebuah daerah yang sering luput dari perhatian media nasional.
Dalam konteks pembangunan, fungsi seperti itu tak bisa diremehkan. Pembangunan fisik dapat menciptakan ruang. Namun narasi menciptakan alasan bagi orang untuk peduli terhadap ruang tersebut.
Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan sering kali berhasil bukan semata karena investasi besar, melainkan karena munculnya kelompok-kelompok warga yang aktif membangun identitas dan kebanggaan lokal. Dari kota-kota industri yang bertransformasi di Inggris hingga komunitas kreatif di berbagai kota kecil Jepang, faktor yang berulang adalah keberadaan aktor sipil yang mampu menghubungkan sejarah, budaya, dan aspirasi masyarakat.
Majalaya.id berada dalam tradisi yang serupa, meski dalam skala yang jauh lebih kecil.
Barangkali karena itu pula latar belakang Zulfa sebagai pekerja teater terasa relevan. Dalam percakapan di studio, terlihat jelas bagaimana ia memandang masyarakat bukan sebagai audiens pasif, melainkan partisipan. Sebuah taman makam pahlawan tak cukup dibangun; masyarakat harus memiliki hubungan dengan cerita yang dikandungnya. Sebuah kota tak cukup memiliki sejarah; sejarah itu harus terus diceritakan.
Logika yang sama berlaku pada media. Berita mungkin bertahan sehari.
Cerita bisa bertahan puluhan tahun. Dan sering kali pembangunan membutuhkan keduanya.
Pada akhirnya, pelajaran dari Majalaya.id bukanlah tentang bagaimana mendirikan media independen. Pelajaran yang lebih penting adalah bagaimana sebuah media dapat berfungsi sebagai infrastruktur sipil. Ia mungkin tak terlihat seperti jalan raya. Ia tak memiliki bentuk fisik seperti jembatan atau gedung pemerintahan. Namun fungsinya sama pentingnya: menghubungkan orang-orang.
Di tengah kecenderungan sentralisasi perhatian menuju kota-kota besar, media independen lokal memiliki kemampuan unik untuk menjaga agar daerah-daerah kecil tetap memiliki suara, ingatan, dan rasa percaya diri. Mereka membantu masyarakat memahami dari mana mereka berasal sekaligus membayangkan ke mana mereka akan pergi.
Majalaya hanyalah satu contoh.
Namun di balik contoh tersebut tersimpan pelajaran yang lebih luas bagi Indonesia. Bahwa pembangunan daerah tak selalu dimulai dari proyek bernilai miliaran rupiah. Kadang ia dimulai dari sekelompok warga yang cukup peduli untuk menceritakan kampung halamannya sendiri, lalu mengajak orang lain ikut peduli.
Dan dalam banyak kasus, perubahan besar memang sering berawal dari sesuatu yang tampak sesederhana itu.




Comments