top of page
logo-putih.png

Api dan Pisau

  • Jun 12
  • 5 min read

Esai Podcast Obrolan Dsitrik Utara dengan Gianjar Saribanon

Oleh Priyo Utomo



"Sebagaimana api yang menyala mengubah kayu menjadi abu, demikian pula api pengetahuan membakar segala kebodohan."— Bhagavad Gita 4:37

Ketika Gianjar Saribanon akhirnya muncul malam itu, markas Distrik Utara sudah hampir tutup. Gelas-gelas kopi kosong, sebagian kru sedang membereskan peralatan, dan beberapa kursi telah digeser ke posisi semula. Jam menuju tengah malam. Tapi seperti banyak petualangan yang paling seru, semuanya justru dimulai setelah agenda di sangka sudah selesai. Seperti saat Gandalf mengetuk pintu Bilbo Baggins, mengganggu ritme nyaman dengan ketakterdugaan yang nekat. Tapi menyadarkan.

Selalu ada yang khas tentang entrance Gianjar.  Mungkin karena selama bertahun-tahun citranya begitu lekat dengan kayu bakar, asap, pisau, dan api unggun. Atau mungkin karena saya dan ribuan pemirsanya terlalu lama mengasosiasikan beliau dengan hutan-hutan pinus Jayagiri, daging yang dipanggang perlahan. Gianjar, yang dikenal sejak video-video Barbeque Mountain Boys mendapat perhatian besar peselancar youtube Indonesia di seputar era lockdown covid, adalah salah satu dari sosok yang berhasil meledakkan romantisme api unggun (dan daging panggang) pada masyarakat urban. Ia juga sedikit bertanggungjawab melejitkan selera busana urban outdoor, dan menyulap sekejap Lembang hingga (dalam sudut-sudut cerdik) terlihat seperti Alaska di musim panas.

Tapi malam itu tak ada api unggun, tak ada kapak yang membelah kayu, tak ada ketel hitam yang menggantung di atas bara. Hanya sebuah studio podcast jadi-jadian di Bandung Utara. Namun lucunya, beberapa menit setelah percakapan dimulai, ruangan itu terasa lebih mirip sebuah perkemahan daripada studio rekaman. Setidaknya demikian dalam imajinasi saya.

Topiknya bahkan lebih aneh. Bukan pembangunan daerah, bukan tata ruang, bukan ekonomi regional, bukan pula politik yang biasanya menjadi menu harian Distrik Utara. "Ayo kita bahas api dan pisau saja," kata Gianjar. Usulan yang terdengar seperti datang dari seorang jagawana yang overdosis embun gunung. Tetapi justru karena itulah saya tertarik. Setelah seharian mendengar diskusi tentang hal-hal yang dapat dihitung, dipetakan, dan dimasukkan ke dalam spreadsheet, membicarakan api terasa seperti membuka jendela di ruangan yang pengap. Sedikit nyeleneh, sedikit esoterik, tapi mungkin jauh lebih dekat dengan akar persoalan manusia dibandingkan banyak topik yang selama ini kita anggap penting.

Sebab jika kita mundur cukup jauh ke belakang, sebagian besar sejarah manusia ternyata dapat dijelaskan melalui dua benda sederhana itu. Api dan pisau. Seorang antropolog mungkin akan memilih bahasa sebagai teknologi paling revolusioner dalam sejarah manusia. Seorang ekonom mungkin akan menunjuk uang. Seorang insinyur mungkin akan memilih mesin uap atau listrik. Namun, sebelum semua itu muncul, nenek moyang kita terlebih dahulu harus menguasai api. Tak perlu muncuri quote dari seorang professor Harvard untuk dapat kita talar bahwa bahwa kemampuan memasak makanan mungkin merupakan salah satu faktor yang memungkinkan perkembangan otak manusia modern. Makanan yang dimasak menghasilkan energi yang lebih mudah diserap tubuh, sehingga lebih banyak energi tersedia untuk perkembangan organ yang paling rakus energi di tubuh kita, otak. Jika teori itu benar, maka sebagian besar filsafat, sastra, agama, politik, dan teknologi yang pernah dihasilkan manusia merupakan konsekuensi tak langsung dari keberhasilan seseorang yang hidup ratusan ribu tahun lalu menjaga api agar tak padam.

Itu makannya si raja orangutan, King Louis, di kisah Jungle Book, memaksa Mowgli mengajarkannya bagaimana membuat ‘bunga merah’.

Gianjar, malam itu, adalah Mowgli dan saya King Louis si orangutan kalcer.

 

Namun memang api tak hanya mengubah tubuh manusia. Ia mengubah cara manusia memandang dunia. Dalam Zoroastrianisme, salah satu agama tertua yang masih bertahan hingga hari ini, api diperlakukan sebagai lambang kebenaran, keteraturan kosmis, dan kebijaksanaan Ahura Mazda. Orang luar sering keliru mengira para penganut Zoroaster menyembah api, padahal api lebih tepat dipahami sebagai simbol yang memungkinkan manusia merenungkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Api menerangi, menghangatkan, memurnikan, tetapi juga dapat menghancurkan. Ia menjadi metafora yang hampir sempurna bagi kekuatan yang menciptakan sekaligus mengubah dunia.

Yang menarik, pola serupa muncul hampir di mana-mana. Dalam mitologi Yunani, Prometheus mencuri api dari para dewa dan memberikannya kepada manusia. Dalam tradisi Weda, Agni menjadi penghubung antara manusia dan alam ilahi. Dalam Bhagavad Gita, api menjadi perlambang pengetahuan yang membakar kebodohan. Bahkan dalam budaya populer modern, simbolisme itu tetap bertahan. Para penggemar Game of Thrones tentu mengenal Melisandre dan agama R'hllor, Lord of Light, sebuah agama fiktif yang menempatkan api sebagai sumber wahyu dan penglihatan. Melisandre menatap nyala api untuk membaca masa depan, persis seperti manusia selama ribuan tahun menatap bara dan mencoba menemukan makna di dalamnya. George R. R. Martin mungkin menulis fantasi, tetapi ia memahami sesuatu yang sangat tua tentang psikologi manusia. Kita selalu melihat lebih dari sekadar reaksi kimia dalam api.

Tapii malam itu Gianjar tak hanya mengajak saya membicarakan api. Ia juga mengajak saya membicarakan pisau. Ya dia bukan hanya meat roaster dan coffee roaster tapi juga pengrajin pisau. Saya bisa skalian mengubah judul esai ini menjadi the many talents of Mr. Gianjar Saribanon.

Sebab jika api adalah teknologi yang mengubah dunia, maka pisau adalah teknologi yang memungkinkan manusia bernegosiasi dengan dunia. Api mengubah. Pisau memilih. Api mentransformasi. Pisau memisahkan.

Kita mungkin terlalu akrab dengan pisau sehingga lupa betapa revolusionernya benda itu. Sebagian besar sejarah manusia dapat dibaca sebagai sejarah benda-benda tajam. Pisau batu, pisau perunggu, pisau besi, hingga pisau baja modern. Dengan pisau manusia menguliti hewan, membelah kayu, memotong tali, mengolah makanan, membuat pakaian, membangun tempat tinggal, dan pada akhirnya membangun peradaban. Jika api membuat manusia lebih cerdas, pisau membuat kecerdasan itu menjadi berguna.

Menariknya, berbeda dengan api yang hampir selalu diasosiasikan dengan pengetahuan, pencerahan, dan dunia spiritual, pisau lebih sering muncul sebagai simbol keputusan. Dalam banyak mitologi dan sastra, pisau selalu hadir ketika seseorang harus memilih. Ia adalah alat yang memisahkan. Memisahkan daging dari tulang, panen dari batangnya, kehidupan lama dari kehidupan baru. Bahkan kata "decision" dalam bahasa Inggris berasal dari akar kata Latin caedere, yang berarti memotong.

Mungkin itu sebabnya pisau selalu memiliki sedikit aura sakral. Samurai Jepang memperlakukan pedang sebagai perpanjangan jiwa. Dalam tradisi Nusantara, keris sering dianggap lebih dari sekadar senjata. Di dapur-dapur profesional, seorang koki biasanya memiliki hubungan yang hampir personal dengan pisaunya. Dan di tangan seorang bushcrafter seperti Gianjar, pisau bukan simbol kekerasan, melainkan simbol kompetensi. Sebilah pisau yang baik adalah janji bahwa seseorang mampu menghadapi dunia nyata dengan tangannya sendiri.

Jika api adalah tempat manusia berkumpul, maka pisau adalah alat yang memungkinkan pertemuan itu berlangsung. Sebelum ada daging panggang, seseorang harus memotongnya. Sebelum ada sendok dan garpu, seseorang harus membuatnya. Sebelum ada cerita di sekitar api unggun, seseorang biasanya lebih dulu bekerja dengan pisau.

Barangkali itu pula yang membuat saya menyukai cara Gianjar memandang kedua benda ini. Dalam banyak konten outdoor modern, api dan pisau sering direduksi menjadi estetika. Menjadi aksesori untuk foto Instagram. Tapi selain pemanggang daging luar ruang, pengrajin pisau, Gianjar juga seorang pujangga. Maka, dalam diskusi dengannya, Api dan Pisau kembali menjadi apa adanya, teknologi purba yang membentuk manusia jauh sebelum manusia membentuk negara, agama, atau algoritma.

Dan mungkin tanpa sadar, itulah yang selama ini dilakukan Gianjar sebagai storyteller. Ia tak sedang mengajarkan cara memanggang daging dan bermain pisau. Ia sedang mengingatkan pendengarnya pada sesuatu yang jauh lebih tua. Bahwa jauh di bawah lapisan beton, layar sentuh, dan rapat Zoom, kita masih makhluk yang berkumpul di sekitar api dan bekerja dengan pisau.

Selama sebagian besar sejarah spesies kita, api memang merupakan batas antara keteraturan dan kekacauan. Di luar lingkaran cahaya terdapat kegelapan, cuaca, binatang buas, dan ketidakpastian. Di sekitar api terdapat kehangatan, makanan, komunitas, dan cerita..

Barangkali itulah sebabnya manusia tak pernah benar-benar bosan menatap api. Dan tak pernah betul-betul bisa melewati satu hari tanpa memakai pisau. Meski untuk membuka paket belanjaan online.

 
 
 

Comments


bottom of page