Obrolan Dengan Petani Kopi
Esai Pengantar Podcast Distrik Utara dengan mang Dewa

Sore di perkebunan kopi yang rindang, di Desa Genteng, Manglayang Timur, Kabupaten Sumedang, punya cara yang sejuk dan nyaman mengingatkan kita bahwa kopi adalah organ hutan, bukan sekadar minuman. Saya dan Mang Dewa sama-sama memakai sepatu boot karet, berjalan di antara kebun kopi pada ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut, ketika panen raya sedang berlangsung. Tanah yang agak kering, buah kopi merah bergelantungan, dan pekerjaan petani terlihat jauh lebih rumit daripada gambar secangkir kopi yang biasanya kita lihat di meja kafe.
Mang Dewa mulai menjadi petani kopi pada 2008. Bersama saya dan guest-host Distrik Utara, Pradewi atau TC, ia bercerita tentang panen, kualitas kopi, perubahan cuaca, sampai soal bagaimana para petani di tempatnya membangun koperasi dan mengorganisasi diri. Percakapan itu pada awalnya terdengar seperti obrolan tentang kopi. Lalu berevolusi menjadi obrolan tentang bagaimana sebuah komunitas tumbuh dan bertahan.. Dan memang, sulit membicarakan kopi tanpa membicarakan kehidupan petaninya.
Di dunia, kopi memberikan penghasilan bagi sekitar 12,5 juta keluarga petani menurut International Coffee Organization. FAO memperkirakan sektor ini menyediakan pekerjaan dan pendapatan bagi sekitar 25 juta rumah tangga di lebih dari 80 negara, dengan sekitar 80 persen di antaranya merupakan petani kecil. Angka-angka tersebut membuat kopi tampak seperti industri raksasa. Namun di tingkat kebun, ia tetap bergantung pada keluarga-keluarga kecil yang menghadapi persoalan sangat sederhana dan sangat tua: berapa harga yang mereka dapat, berapa biaya yang harus mereka keluarkan, dan apakah hasil panen cukup untuk membuat kehidupan tetap berjalan sampai musim berikutnya.
Di sinilah persoalan fair trade menjadi menonjol. Perdagangan yang dianggap adil lahir antara lain dari kesadaran bahwa harga kopi di tingkat global tak selalu mencerminkan ongkos kehidupan orang yang menanamnya. International Coffee Organization sendiri menyebut kemampuan petani memperoleh living income sebagai salah satu persoalan universal dalam industri kopi. Harga yang berubah-ubah dapat mempengaruhi kemampuan keluarga petani membayar pendidikan, kesehatan, transportasi, tenaga kerja, sampai perawatan kebun.
Tetapi fair trade juga bukan obat serba manjur. Sejumlah penelitian terhadap petani kecil di Amerika Tengah, Meksiko, Peru, India, dan Nicaragua menemukan bahwa sertifikasi Fair Trade dapat memberikan harga atau akses pasar yang lebih baik dalam situasi tertentu, tetapi dampaknya terhadap pendapatan rumah tangga tak selalu besar dan sangat bergantung pada organisasi petani, volume produksi, pasar, serta kemampuan koperasi mengelola manfaat tersebut.
Ini bagian yang menurut saya penting. Kalau persoalan kopi hanya dibaca sebagai soal harga, kita akan mudah sampai pada kesimpulan bahwa petani cukup diberi harga lebih tinggi. Padahal persoalannya jauh lebih besar. Petani membutuhkan kemampuan berorganisasi, pengetahuan mengenai kualitas, akses terhadap pasar, pendidikan, teknologi, regenerasi, dan kemampuan membaca perubahan lingkungan. Dengan kata lain, petani tak hanya membutuhkan uang. Mereka membutuhkan posisi tawar dan pengetahuan untuk menggunakan posisi tawar tersebut.
Pengalaman berbagai komunitas kopi di Amerika Latin memperlihatkan hal itu dengan cukup jelas. Di Nicaragua, misalnya, koperasi-koperasi petani kecil berkembang menjadi organisasi yang bukan hanya menjual kopi, tetapi juga menyediakan pembiayaan, bantuan teknis, pelatihan, pengolahan, sertifikasi dan akses pasar. PRODECOOP, salah satu jaringan koperasi di Nicaragua, kini mengorganisasi ribuan petani kecil dan menggabungkan perdagangan fair trade dengan program pendidikan, diversifikasi pangan, produksi organik, ketahanan iklim dan pembangunan komunitas.
Di Colombia, organisasi petani juga menjalankan fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar menjadi tempat menjual hasil panen. Salah satu contoh program penguatan organisasi petani di Huila menggunakan model farmer-to-farmer training, sehingga petani belajar dari petani lain mengenai produksi, pengolahan, manajemen kebun dan pemasaran. Program-program lain bahkan secara khusus membangun kepemimpinan generasi muda agar mereka melihat pertanian sebagai pilihan hidup yang masuk akal.
Ada sesuatu yang menarik dari pengalaman itu. Koperasi bukan sekadar alat ekonomi. Ia bisa menjadi sekolah. Dan mungkin di sinilah pengalaman Mang Dewa di Manglayang Timur menjadi relevan untuk dibicarakan lebih jauh.
Ketika Mang Dewa bercerita tentang koperasi yang ia bangun bersama petani lain, yang muncul bukan sekadar cerita mengenai bagaimana kopi dikumpulkan dan dijual. Ada persoalan kerja bersama, pembagian pengetahuan, posisi tawar dan hubungan dengan institusi yang lebih besar. Ketika berhadapan dengan pemerintah, Perhutani sebagai BUMN, atau kementerian, seorang petani yang berdiri sendirian tentu memiliki posisi yang berbeda dengan komunitas petani yang mampu berbicara sebagai sebuah organisasi.
Gotong royong dalam konteks ini menjadi lebih dari sekadar istilah yang terdengar bagus di poster kelurahan. Ia adalah teknologi sosial.
Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh satu orang dengan cangkul dan kesabaran. Ada pula pekerjaan yang membutuhkan banyak orang, struktur organisasi, administrasi, kemampuan bernegosiasi dan sedikit keberanian untuk mengetuk pintu kantor yang biasanya lebih besar daripada kebun kita. Koperasi berada di wilayah itu.
Namun ada satu hal lain yang dibicarakan Mang Dewa yang bagi saya justru lebih penting daripada persoalan harga. Ia berbicara tentang kelestarian ekologis.
Kita sering berbicara mengenai kelestarian alam seolah-olah ia adalah tambahan moral dalam bisnis. Kopi harus lestari karena konsumen modern menyukai label organik, shade grown, regenerative atau sustainable. Padahal bagi petani yang hidup di dalam ekosistem itu, hubungan tersebut jauh lebih konkret.
Kopi sangat bergantung pada lingkungan tempat ia tumbuh. Suhu, curah hujan, tanah, tutupan pohon, ketersediaan air dan kesehatan ekosistem ikut menentukan kualitas dan produktivitas kebun. Perubahan iklim membuat persoalan ini semakin nyata. Studi yang didukung UNIDO pada 2026 menunjukkan bahwa sepuluh negara penghasil kopi utama yang diteliti semuanya menghadapi peningkatan paparan terhadap tekanan iklim. FAO juga mencatat bahwa luas lahan yang secara alami sesuai untuk produksi kopi dapat berkurang 49 sampai 56 persen pada 2050 jika tren perubahan iklim berlanjut.
Karena itu, bagi Mang Dewa, aturan kelestarian saja tak cukup. Yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya pemahaman mengenai mengapa kelestarian itu diperlukan.
Ada perbedaan besar antara seseorang yang menjaga pohon karena sebuah peraturan melarangnya menebang dan seseorang yang memahami bahwa pohon tersebut ikut menjaga air, tanah, suhu dan keseimbangan ekologis yang pada akhirnya menentukan apakah kebunnya masih bisa menghasilkan kopi beberapa tahun dari sekarang.
Manfaat ekologis seperti oksigen, air, kesuburan tanah, keanekaragaman hayati dan perlindungan kawasan memang sering tak muncul dalam laporan keuangan. Kita tak bisa memasukkannya begitu saja ke spreadsheet lalu memberi tanda rupiah di sebelahnya. Tetapi bagi komunitas yang tinggal di sana, manfaat itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Inilah sebabnya pendidikan ekologis bagi petani menjadi sama pentingnya dengan pendidikan mengenai harga dan pasar. Bahkan keduanya sebenarnya tak bisa dipisahkan.
Petani yang memahami pasar bisa memperoleh harga lebih baik. Petani yang memahami ekologi bisa menjaga kebunnya tetap produktif. Petani yang memahami organisasi bisa bernegosiasi dengan pembeli dan pemerintah. Petani yang memiliki ketiga pengetahuan itu mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menentukan masa depan komunitasnya sendiri.
Beberapa pengalaman di Amerika Latin menunjukkan bahwa hubungan antara organisasi petani dan pendidikan ekologis memang sudah berjalan ke arah tersebut. Di Honduras, program penguatan petani menggabungkan peningkatan daya saing dengan perlindungan kawasan konservasi dan daerah tangkapan air. Di Nicaragua, koperasi-koperasi menjalankan program regenerasi kebun, reboisasi, produksi organik dan pendidikan keluarga. Di Colombia, berbagai organisasi petani mengembangkan pelatihan praktik pertanian yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Ada pelajaran penting di sana. Perubahan ekologis tak cukup diserahkan kepada ahli lingkungan. Perubahan ekonomi tak cukup diserahkan kepada ekonom. Dan nasib petani tak bisa seluruhnya diserahkan kepada pasar. Pada akhirnya, orang yang paling lama berdiri di antara pohon kopi mungkin justru memiliki pengetahuan yang penting fatal bagaimana sistem tersebut bekerja.
Mang Dewa juga mengatakan sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup politis: penting bagi petani untuk memiliki pride sebagai petani kopi.
Saya kira ini sering luput dari pembicaraan tentang kesejahteraan petani. Kita terlalu sering membicarakan petani sebagai kelompok yang harus dibantu. Seolah-olah menjadi petani adalah kondisi sementara sebelum seseorang memperoleh pekerjaan yang dianggap lebih baik. Padahal kalau sebuah profesi terus-menerus dianggap rendah, generasi mudanya akan pergi. Ketika mereka pergi, yang hilang bukan hanya tenaga kerja, tetapi pengetahuan tentang tanah yang tak bisa digantikan oleh satu modul pelatihan.
Karena itu pride bukan sekadar soal harga diri. Ia juga bagian dari keberlanjutan ekonomi.
Petani yang bangga terhadap pekerjaannya akan lebih mungkin melihat kebunnya sebagai sesuatu yang layak dirawat dan diwariskan. Anak muda yang melihat pertanian sebagai profesi yang bermartabat punya alasan untuk kembali ke desa. Dan komunitas yang memiliki kebanggaan terhadap produknya punya alasan untuk meningkatkan kualitas, menjaga lingkungannya dan menuntut hubungan perdagangan yang lebih masuk akal.
Mungkin pada akhirnya, secangkir kopi memang dimulai dari biji. Tetapi nasib kopi ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih besar: hubungan antara manusia, tanah, pasar dan komunitas.
Itulah yang kami obrolkan bersama Mang Dewa di tengah panen raya di Desa Genteng, Manglayang Timur. Di Distrik Utara, kami memang senang pergi ke lapangan untuk melihat bagaimana sebuah persoalan sebenarnya bekerja ketika teori-teori besar tadi sudah tak lagi berada di atas kertas.
Kali ini kami memakai boot karet dan masuk ke kebun kopi.
Barangkali itu cara yang cukup baik untuk memulai sebuah percakapan tentang kesejahteraan petani: dengan berdiri di tanah yang menjadi sumber penghidupan mereka, lalu bertanya dengan jujur, setelah semua orang di sepanjang rantai kopi mendapatkan bagiannya, sebenarnya siapa yang masih harus berjuang agar secangkir kopi itu bisa sampai ke meja kedai kopi?




Comments